Kejutan

734 71 66
                                    

"Praja gak salah, bu. Jangan bawa-bawa dia. Saya biang dari kejadian sore kemarin," aku Adit sambil menundukkan kepalanya dalam.

Praja yang mendengar pengakuan Adit barusan langsung menatap Adit terkejut. Adit menoleh ke arah Praja sambil tersenyum simpul penuh arti. Ia terlihat begitu santai. Ini pertama kalinya Praja bertemu kawan macam Adit. Bertemu seorang kawan yang nekat dan terlalu cuek ternyata rasanya seperti ini, ya? Adit itu sebenarnya bodoh atau apa? Padahal Praja sama sekali tidak minta untuk dibela.

Bu Aisyah, guru BP yang terkenal tegas itu melihat ke arah Adit dan Praja bergantian. Nampaknya ada banyak hal yang terjadi belakangan ini di antara mereka.

"Okay, Praja kamu boleh duduk di ruang tunggu. Adit, kamu tetap duduk di sini. Ada beberapa pertanyaan yang ingin ibu tanyakan sama kamu," tanggap Bu Aisyah santai.

Dengan berat hati Praja melangkahkan kakinya keluar ruangan BP. Kedua matanya menatap ke arah punggung Adit sambil membuang napas kasar.

"Ada hubungan apa antara kamu dengan Fariz?" tanya Bu Aisyah sukses membuat Adit terkejut dan melotot.

"Lho? Kok, gak nyambung, sih, bu?" jawab Adit dengan ekspresi wajah herannya yang dibuat-buat. Ia menggaruk-garuk belakang tengkuknya pelan.

"Sahabat lamakah?" tanya Bu Aisyah tanpa mempedulikan pertanyaan Adit sama sekali.

"Maaf, bu. Tolong jangan ikut campur urusan kehidupan saya. Ibu tugasnya sebagai guru bukan sebagai pewawancara," jawab Adit berani kini mulai menampakkan wajah aslinya yang tengil. Ia bahkan mulai duduk sambil mengangkat sebelah kakinya santai.

Bu Aisyah menaikkan kedua alisnya sambil mengangguk pertanda mengiyakkan dan mengerti. Ini adalah kedua kalinya Adit masuk ke ruangan BP. Terhitung sejak ia pertama kali masuk sekolah sebagai murid pindahan. Dan, pertama kali Adit masuk ke sini adalah bersama Fariz.

Bu aisyah tidak begitu percaya rumor yang mengatakan perihal ada sesuatu di antara Adit dan Fariz setelah kejadian yang menyita banyak perhatian waktu itu. Akan lebih bijaksana jika Bu aisyah menanyakannya langsung.

"Baiklah kalau begitu, kenapa kamu bisa sampai memukul Rei? Bukankah kamu baru beberapa hari ini pindah ke sekolah ini? Rasanya tidak begitu masuk akal, bukan? Kalian belum saling mengenal dengan baik satu sama lain," lagi, Bu Aisyah memberikan banyak pertanyaan yang mengintimidasi Adit.

"Memangnya harus kenal dulu dengan baik baru bermasalah? Ibu lucu sekali," balas Adit sambil tersenyum sinis. Seperti biasa, ia tak pernah mau melihat wajah Bu Aisyah. Ia hanya membuang pandangannya ke arah jendela ruangan.

"Ya, tentu! Seharusnya seperti itu, kan? Karena manusia bukanlah robot. Tentu saja tidak sesederhana itu, harus mengenal dan memahami dulu baru bisa tahu banyak hal tentang mereka. Saya rasa kamu sudah cukup mengerti tentang konsep perbedaan," Bu Aisyah menatap wajah Adit yang terlihat kusut dan tidak bersahabat.

Sejak hari dimana Adit dan Fariz masuk ke dalam ruangan BP waktu itu Bu Aisyah bisa merasakan ada banyak masalah di dalam diri Adit. Entah apa itu, namun sepertinya cukup berat dan berkepanjangan.

Bu Aisyah dapat melihat itu hanya dari sorotan mata Adit dan sikap tak acuh juga bringasnya itu.

"Konsep perbedaan dan konsep membedakan itu berbeda. Bagi mereka dan termasuk Rei, mereka memakai konsep membedakan. Mereka tak lebih hanyalah sekumpulan manusia hina. Ibu bisa melihat, kan? Bagaimana ia bersikap seolah ia adalah pusat perhatian karena uang dan harta orangtuanya. Itu menggelikan sekali! Apanya yang keren? Apanya yang pantas dilihat? Memangnya dia mau sekolah atau pamer? Ah, iya. Saya baru sadar, sekolah di zaman sekarang tak lebih hanya sekedar sarana bisnis belaka. Bukan, begitu?" Adit menatap wajah Bu Aisyah yang terlihat terkejut mendengar ucapan Adit barusan.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang