Tangis dan Tawa

282 40 10
                                    

Adit langsung merasakan sesak napas, sekujur tubuhnya terasa mati. Ia yang tadinya jongkok, langsung duduk bersimpuh dengan kedua mata yang berkaca-kaca dan lalu mengeluarkan air mata yang deras.

Fariz yang berdiri di sebelah Adit. Langsung merasa curiga, kenapa Adit malah duduk bersimpuh di tengah keramaian. Kalau terinjak bagaimana. Fariz pun menunduk berusaha menarik Adit dari duduknya. Dan tak sengaja ia pun melihat....

Jasad Riko yang tergeletak dengan darah membasahi seragam putihnya. Fariz terdiam, ia membeku. Tatapan matanya kosong. Dan saat itu juga ia merasakan seperti ada sesuatu yang hancur di dalam dadanya.

Pak Burhan yang melihat Adit dan Fariz di kerumunan buru-buru menarik mereka menjauh dari kerumunan.

Namun, Adit menghempaskan tangan pak Burhan dan berusaha menerjang masuk ke dalam TKP.

"RIKO! RIKO! LU GAK BOLEH MATI. RIKO! RIKOOOOO!!" teriak Adit histeris sambil ditahan oleh pak Burhan dan beberapa anak.

📚📚📚

Fariz terduduk lemas di kursinya, ia langsung teringat dengan secarik kertas itu. Kertas yang Riko berikan beberapa menit yang lalu, Fariz taruh di bawah meja.

Fariz memberanikan diri membuka kertas itu, dan membacanya.

Riko akan bawa kebahagiaan buat mama sama adik. Tunggu, Riko, ya, Riko pasti pulang.

Fariz melihat tulisan itu dengan air mata yang mengalir dan tatapan kosongnya.

Adit yang baru keluar dari ruang UKS dan masuk ke dalam kelas lalu menghampiri Fariz yang sedang duduk terdiam dengan wajah pucat. Ia lalu menarik secarik kertas dari Fariz dan membacanya.

"Ini maksudnya apa?"

Fariz hanya terdiam tak menjawab,

"Gue tanya ini maksudnya apa? Ini Riko yang nulis, kan? Kenapa bisa ada di lu?"

Fariz hanya menunduk dengan air mata yang terus mengalir.

"JAWAB BEGO!" bentak Adit sambil mendorong meja Fariz hingga terpental ke depan kelas.

"Riko, Riko, keluar kelas. Tadi, terus, dia kasihin ini ke gue. Gue lagi kerjain tugas. Jadi, gue gak perhatiin apa yang dia omongin. Gueㅡ,"

"BANG*AT!" Adit langsung memukul wajah Fariz hingga membuat ia tersungkur dan terbentur meja dan kursi.

Anak-anak yang baru memasuki kelas langsung heboh melihat pertengkaran itu. Alhasil, mereka panik, beberapa anak terlihat berlarian menuju ruang guru.

"KALAU LU TAHAN RIKO TADI! RIKO GAK BAKALAN MATI! KALAU LU DENGERIN RIKO TADI! RIKO GAK BAKALAN MATI! DIMANA HATI LU? YANG LU TAHU CUMA BELAJAR, YANG LU PEDULIIN CUMA BELAJAR! RIKO GAK BAKALAN MATI KALAU LU TAHAN DIA!" Teriak Adit histeris dan menarik-narik Fariz kasar dan lalu memukul wajahnya lagi hingga ujung bibir Fariz sobek dan berdarah.

"Adit!" Teriak pak Burhan sambil menarik Adit yang sudah seperti orang kesurupan. Ia menangis kencang sambil menatap Fariz dengan tatapan seperti ingin membunuh.

"RIKO MATI GARA-GARA LU! GUE BENCI SAMA LU, RIZ! GUE BENCI LU!" teriak Adit sambil berusaha ditarik oleh pak Burhan dan kawan kelas lainnya untuk keluar dari kelas.

Fariz hanya mampu tertidur lemas di lantai kelas dengan darah segar yang terus mengucur dari ujung bibirnya yang sobek. Kedua matanya basah dengan air mata, hatinya benar-benar hancur. Ia menangis, tapi, ia tak bisa merasakan apapun. Fariz merasakan ada bagian yang mati di dalam sana. Ia hanya terus menangis, dan kawan-kawan sekelas pun ikut menangis sambil tertunduk dalam-dalam. Ya, mereka semua kehilangan salah satu anak berprestasi di sekolah. Seorang anak yang mengharumkan nama sekolah hingga dikenal di tingkat nasional. Ya, Riko, dia adalah Riko Rafansyah.

📚📚📚

Adit menghela napas panjang sambil menyeka air matanya. Tak sadar, ia bercerita tentang Riko sambil mengeluarkan air mata. Begitu pun Fariz yang duduk tertunduk sambil menyeka air matanya. Praja yang mendengar kisah itu pun langsung membisu. Ia menundukkan kepalanya dan menggigit bawah bibirnya.

"Gue bakal jadi atlit nasional. Gue bakal terusin cita-cita Riko," ucap Praja dengan suara yang terdengar gemetar.

Adit tersenyum melihat Praja, Praja pun tersenyum melihat Adit. Lalu, tiba-tiba tangan panjang dan besar Praja menarik Adit dan memeluknya dengan erat.

"Makasih, dit, lu udah bertahan. Makasih, karena lu teman yang baik buat Riko. Gue sayang sama lu, dit," ucap Praja lalu terdengar tangisnya. Fariz yang melihat Adit dan Praja berpelukan seperti Teletubbies itu hanya mampu tersenyum tipis.

Praja melepas pelukannya dengan Adit. Lalu ia duduk di tengah Adit dan Fariz. Dan ia merengkuh pundak Adit dan Fariz erat sambil menunduk dan menangis.

"Gue bangga punya sahabat kayak kalian. Kalian berdua calon orang sukses dan berhasil. Gue doain. Gue sayang sama kalian berdua. Jangan lupain gue, ya!" Ucap Praja sambil terus menangis.

Mereka bertiga akhirnya mengisi ruangan kamar Fariz dengan tangisan. Kak Amizah yang mendengar itu dari balik pintu Fariz menyeka air matanya yang menetes. Ia benar-benar terharu. Karena, Amizah pun kenal baik dengan alm. Riko.

Dulu, Riko sering main ke rumah Fariz bersama Adit. Mereka sungguh akrab dan dekat, sudah seperti saudara kandung. Riko adalah sosok anak yang ramah dan tangguh dalam kehidupan. Amizah sendiri pun tahu, di usia semuda itu Riko harus menanggung beban ekonomi keluarganya. Karena ia hidup tanpa tahu siapa ayahnya.

"Adit, dengerin gue, lu gak boleh nekat lagi kayak dulu. Gue takut lu kenapa-kenapa," ujar Fariz mulai tenang. Mereka saling melepas rangkulan erat mereka dan mulai menarik napas panjang dan mengusap dada. Benar-benar momen yang menguras emosi, lebih menguras perasaan daripada menonton drama-drama Korea.

"Iya, kalau lu sok jagoan lagi. Gue gak segan mukul lu. Lu tahu? Lu benar-benar berani mengambil sikap. Walau sedikit ceroboh. Jangan gitu lagi, jangan bikin gue khawatir. Kalau lu ada masalah cerita sama gue. Apapun itu, gue siap dengar dan bantu semampu gue. Makasih karena lu mau temenan sama Riko, yang mewakilkan anak macam gue. Keluarga kurang mampu, status sosial gak dipandang. Sering diremehkan, tapi lu mau temenan sama dia. Belum lagi dia punya masalah keluarga yang rumit. Gue salut sama lu. Dan lu, Riz, gue minta maaf karena gue udah salah paham selama ini sama lu. Makasih banyak, lu udah mau bantu Riko belajar, bantu Riko menemukan bakatnya, bantu dia untuk kontrol emosinya yang meledak-ledak. Bantu dia jadi atlet sehebat itu. Semuanya berkat lu juga yang sabar dan tekun memberi dorongan buat Riko, sampai dia percaya diri dan berprestasi di sekolah," cerocos Praja sambil tersenyum lebar melihat ke arah Adit dan Fariz bergantian.

Adit yang mendengar perkataan Praja yang panjang lebar itu mengusap kepala Praja sambil tertawa renyah. Fariz yang melihat itu pun ikut mengusap kepala Praja sambil tertawa. Mereka bertiga tertawa-tawa bersama setelah beberapa menit yang lalu menangis seperti bayi.

"Ngomong-ngomong, tangan gue tadi bekas ngelap ingus," ucap Adit sambil tersenyum polos ke arah Praja. Praja langsung menoleh ke arah kepalanya yang masih diusap oleh Adit.

"Gue juga tadi, bekas ngelap keringat gue," tambah Fariz dengan senyum polos dan wajah tanpa dosa miliknya.

Praja tersenyum simpul lalu menarik lengan Adit dan Fariz dan memelintirnya cukup kencang hingga Adit dan Fariz berteriak-teriak meminta ampun.

Mereka bertiga akhirnya berlari-lari di kamar sambil menendang bokong satu sama lain. Dan tak jarang, Praja yang terkenal paling jahil di antara Adit dan Fariz menarik celana Adit dan Fariz hingga melorot.

Ya, mereka bertiga nampaknya lupa usia mereka saat ini. Bercanda seperti anak kecil, kalau Tasya si biang gosip di kelasnya melihat momen ini sudah pasti ia akan viralkan. Dan satu sekolah tak akan menyangka, tiga orang anak yang ditakuti di sekolah berkelakuan seperti anak berusia 4 tahun.




📚 Bersambung📚

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang