Biar Tahu

476 57 57
                                    

Praja duduk di lapangan basket ditemani bola basket berwarna hitam kesayangannya. Ia terlihat jauh lebih serius dan tenang. Kedua matanya menatap luas ke arah lapangan yang kosong. Angin sore hari ini menyapu dedaunan yang jatuh berguguran dari pohon-pohon tinggi di pinggir lapangan.

Praja menoleh ke arah bola basket di sampingnya. Ia lalu memeluknya erat. Sambil menutup kedua matanya, seperti ingin menikmati kemesraan bersama kekasih.

"Hah," terdengar helaan napas berat setelah ia membuka kedua matanya. Sudah dua hari semenjak kejadian hari Minggu itu baik Adit maupun Fariz tidak masuk sekolah. Dan jujur saja itu membuatnya merasa kesepian.

Praja bisa maklum, Adit dan Fariz sama-sama merasakan sakit. Berbeda dengannya yang hanya mampu berdiri dari kejauhan dan melihat mereka berdua babak belur. Praja benar-benar merasa payah dan tak berguna. Ia menundukkan kepalanya dalam sambil memeluk kedua kakinya yang dilipat.

Tapi sedetik kemudian sunggingan senyum simpul terpancar dari wajahnya, setidaknya ia membantu walau sedikit. Setelah Adit pingsan kemarin, Praja mengantarkan Riska dan Fariz pulang ke rumah mereka masing-masing. Tidak begitu repot ketika ia mengantarkan Riska pulang. Seperti orang-orang kaya kebanyakan, ia disambut dengan satpam di pintu gerbang dan pembantu di depan pintu rumah. Apa enaknya hidup semacam itu? Walau ya memang, harta melimpah, uang selalu ada. Tapi, apa enaknya disambut oleh para pekerja bukannya keluarga?

Sedangkan ketika ia mengantarkan Fariz, Praja sedikit kerepotan. Karena keluarga Fariz yang sangat baik. Sampai Praja merasa betah di sana. Ibunya Fariz benar-benar ramah dan hangat. Begitupun dengan anggota keluarga Fariz lainnya. Betapa beruntungnya Fariz, dikelilingi oleh anggota keluarga yang lengkap dan penuh cinta. Perlahan, rasa iri dan benci Praja pada Fariz semakin terkikis tanpa ia sadari.

Dan jujur saja, Praja baru benar-benar merasakan rasanya persahabatan yang sangat erat ini ketika Adit datang dalam hidupnya. Lewat Adit ia bisa berteman baik dengan Fariz. Walau sampai saat ini rasanya Praja masih tidak yakin, apakah ini pilihan yang tepat untuk berteman dengan mantan musuh dan rivalnya di kelas itu. Aneh, memang. Belum lama mereka berteman, tapi, entah mengapa rasanya sudah sangat dekat dan akrab sejak dulu. Mungkin, ini yang namanya takdir pertemanan.

Senyuman Praja memudar begitu ponselnya bergetar. Ia merogoh kantung celananya dan melihat ke layar ponsel. Sebuah pesan masuk. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan pergi keluar lapangan.

Belum sempat ia mengambil ransel di kursi panjang di bawah pohon ada seseorang yang menepuk pundak Praja dari belakang.

"Kak Feri! Padahal biar gue aja yang nyamperin lu," Praja tersenyum ramah ke arah senior panutannya itu. Feri hanya tersenyum simpul sambil duduk di bangku panjang. Seperti mengerti, Praja pun duduk di samping Feri.

"Boleh gue ngomong banyak hal sama lu?" tanpa melihat ke arah wajah Praja, Feri menatap lurus ke depan. Praja melihat ke arah senior di klub basket sekolahnya itu dengan wajah sedikit terkejut. Tidak biasanya seniornya ini berbicara tanpa melihat wajahnya.

"Boleh, apa tuh, kak?"

"Gue bingung, gue dapat banyak tekanan, dari kakak alumni, dan hampir semua rekan kita di basket. Mereka bilang, lu gak pantas jadi pengganti gue di turnamen nanti. Dan soal seleksi untuk tingkat Provinsi dua minggu lagi, mereka mau lu mundur. Kalau enggak, mereka yang bakal bikin lu mundur," terang Kak Feri sambil menghela napasnya berat.

"Ke-kenapa? Kenapa gue harus mundur?" Praja tersenyum tipis sambil merasakan hatinya hancur berkeping saat ini. Basket adalah cinta pertamanya, jalan hidupnya, sahabat sejatinya.

"Karena status sosial lu. Dan status lu sebagai anak yang masuk sekolah ini lewat jalur prestasi. Lu pasti tahu sendiri, sekolah kita ini sekolah yang terkenal dan elit. Dan mereka merasa harga diri mereka turun ketika anak kayak lu jadi yang paling diandalkan," Feri tertawa sinis sambil memijat keningnya.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang