Mirip

398 49 36
                                    

Praja melihat ke sekeliling lapangan sambil tersenyum lebar. Lalu sedetik kemudian ia menundukkan kepalanya dalam. Terdengar deruan napasnya yang berantakan. Dan tetesan air matanya yang mulai jatuh membasahi aspal di lapangan.

"Gue memang bukan apa-apa dibanding dengan kalian yang sejak dulu sudah terlahir menjadi anak yang beruntung. Lahir di keluarga yang mampu dan berkecukupan. Pinter dalam akademis dan memiliki status sosial yang baik. Tapi, bukan berarti karena gue gak begitu lu berhak nginjek harga diri gue. Gue tetap memiliki harga diri. Dan bahkan untuk orangtua gue yang sekedar mencari sesuap nasi pun susah payah, mereka tetap memiliki harga diri, nilai dan kedudukan," ucap Praja tegas sambil mendongakkan kepalanya penuh percaya diri.

"Apa yang kalian mau dari gue? Kalian  ngaku cowok? Tapi, lihat! Siapa di sini yang main gerombolan kayak anak perempuan? Kalau berani, silakan, kemari, lawan gue satu lawan satu. Bukan lewat kekerasan, tapi, basket. Kalian bilang ini soal harga diri sekolah. Apanya? Bagian yang mananya? Kalian yang tolol! Bukan gue! Harga diri itu sesuatu yang perlu dijaga dengan nilai terpuji. Bukan dengan cara licik dan kekerasan macam gini. Gue bahkan ladenin kalian yang minta 4 on 1. Gue terima, mau apalagi, huh? Kalian mau gue hancur? Itu, kan? Apa yang membuat kalian sampai sebegitu kerasnya ingin menjatuhkan gue? Karena permainan basket gue? Kalian sebut kalian pemain basket? Hahaha, omong kosong! Kalian yang rendahan! Bukan gue! Kalian yang mencoba menghancurkan gue di saat gue bahkan sedetikpun gak pernah mikirin cara untuk ngalahin kalian," lanjut Praja dengan kedua mata yang menatap Ronald begitu dalam.

"Apa yang kalian mau dari seorang anak yang ibunya buta? Apa yang kalian mau dari seorang anak yang tiap hari minggu kerja di bengkel bersama ayahnya di pasar anyar? Bahkan, gue susah buat main. Apa yang kalian mau dari seorang anak yang merawat dua adiknya yang masih kecil karena ibunya buta? Apa yang kalian mau dari seorang anak yang berangkat sekolah shubuh demi dapat tumpangan mobil tukang sayur yang lewat depan rumah untuk menghemat ongkos? Kalau gue datang kepagian, gue bantu angkut-angkutin sayur dulu di pasar. Uangnya gue tabung buat ongkos sekolah, buat ongkos atau jajan adik gue dan untuk bayar uang kas di kelas. Gue tanya, lu semua jawab! Apa yang lu mau dari gue?" Praja merentangkan tangannya lebar-lebar sambil berusaha menahan gejolak emosi yang tertahan di dalam dadanya. Ia kini menatap satu-persatu teman satu tim basketnya dan wajah para kakak alumni dengan penuh keberanian.

"Kalian pengen gue hancur? Kalau memang itu yang kalian mau, lakuin sesuka kalian. Dengan senang hati gue persilakan. Setelah kalian hancurin gue nanti. Keringat gue, air mata gue, darah gue. Itu adalah kutukan buat kalian semua. Gue gak akan pernah hancur sampai kapanpun. Gue bakal buat hidup kalian semua gak tenang. Gue bakal gentayangin kalian sepanjang hidup kalian," ucap Praja lagi sambil diiringi suara tawanya yang kencang. Ia mengacak-acak kepalanya seperti orang frustasi dengan terus berusaha agar air matanya tak jatuh lagi.

"Kalian semua benar-benar lucu, di saat gue mikirin cara gimana supaya kita bisa berteman. Kalian malah mencari neraka. Perpecahan, gengsi, iri dengki. Warisan setan yang harusnya dibuang jauh-jauh. Kita manusia, bukan? Basket dan harga diri itu adalah sportifitas, kejujuran dan ulet. Kerja keras lagi cerdas, kesabaran dan kerjasama," teman-teman satu tim Praja langsung menatap Praja dengan terkejut sambil terdiam merenung. Sedangkan Feri hanya membuang mukanya sambil berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh.

Praja balik menatap teman satu timnya satu-persatu sambil menyunggingkan senyum simpulnya, "ah, tim? Kebersamaan tim bukan hanya di lapangan. Yang membuat kita kuat dan tak terkalahkan adalah rasa saling memiliki dan kekeluargaan. Kita harus tangguh di dalam dan luar lapangan. Tim bukan hanya tentang unggul, popularitas. Buat apa? Dimana-mana juga harus kuat di dalam dulu. Saling mendukung, saling belajar, saling berlatih, saling peduli!"

Praja berkacak pinggang sambil tertawa, lalu ia mengangkat jari telunjuknya dan mulai menunjuk teman satu timnya,"asal kalian tahu, gue berjuang keras buat kalian. Karena gue cinta basket. Karena gue ingin kita bermain tim dengan penuh kesenangan. Gue ingin kita sama-sama merasakan kejuaraan. Gue ngerasa hampa. Terus terang, walau kemenangan kita banyak. Gue tetap merasa kosong. Karena, gue gak pernah dianggap sama kalian! Bahkan, sampai kemenangan terakhir kemarin pun. Di saat gue menyodorkan tangan sama kalian, kalian gak pernah menyambutnya. Yang penting kita menang, itu yang terus kalian katakan. Sejak awal kita bermain sebagai tim, kita bahkan gak pernah selebrasi bersama. Ah, bukan kita. Tapi, gue gak pernah kalian ajak untuk selebrasi bersama. Gue ini manusia, ada batasnya. Walau kesabaran itu gak pernah ada batasnya,"

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang