Kejujuran

250 31 6
                                    

"Silakan, kalian berbicara satu sama lain," pinta Bu Aisyah pada Syafiqa dan Aurel.

Bu Aisyah memanggil Syafiqa dan Aurel ke ruangan BK. Ia menyuruh kedua siswi itu duduk dan saling berhadapan. Syafiqa hanya menunduk, sedangkan Aurel membuang muka.

"Mau sampai kapan terus begitu? Anggap situasi saat ini adalah waktu kalian pertama kali bertemu," perintah Bu Aisyah sambil berdiri dan menyilangkan tangannya di depan dada.

Syafiqa mulai mendongak, memberanikan dirinya melihat ke arah Aurel.

"Salam kenal, nama aku Syafiqa," ucap Syafiqa sambil menjulurkan tangannya.

Aurel hanya tersenyum sinis, ia masih betah membuang muka.

"Aurel!" Panggil Bu Aisyah.

Aurel akhirnya menyambut tangan Syafiqa, "Aurel."

"Nah, Syafiqa. Ada rahasia yang ingin kamu ceritakan? Anggap saja, kamu dan Aurel bertemu di sebuah taman. Dan saat itu kamu sedang dalam keadaan sedih. Butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu," perintah Bu Aisyah sambil berjalan pelan memutari Aurel dan Syafiqa.

Syafiqa langsung terdiam, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lalu, "Aurel, aku mau cerita sama kamu. Ini tentang keluargaku."

Aurel hanya duduk terdiam tak acuh, ia malah terlihat sibuk melihat ke arah  kuku-kuku jarinya.

"Sudah sejak empat tahun sepeninggal ayahku. Aku dan ibu berjuang keras untuk tetap bertahan hidup. Sekarang, aku dan ibu mencari nafkah bersama. Tiap pagi, ibu menjual gorengan dan bihun di depan rumah sederhana milik kami. Hasil jual rumah yang dulu dan dari sisa pembayaran hutang. Ibu di rumah berjualan dengan adikku satu-satunya yang masih berumur tiga tahun. Kalau sore dan sepulang sekolah, aku berjualan di depan terminal angkot. Kadang, kalau penghasilan kurang. Setiap sehabis shalat subuh, aku pergi mulung dan langsung berangkat sekolah setelahnya untuk menghemat ongkos," cerita Syafiqa sambil tersenyum getir dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

Aurel yang mendengar cerita Syafiqa langsung berhenti memerhatikan kuku jarinya dan mulai serius mendengarkan.

"Dan, kamu tahu, gak? Aku sekolah di sekolah impian. Sekolah yang membuat ibuku bangga tiap menceritakannya pada adikku. Aku masuk sekolah ini karena berprestasi. Bukan karena aku mampu secara materi. Hidup kami sederhana. Aku bersyukur bisa sekolah di sini, karena ini jalan pembuka bagi kesejahteraan hidup aku ke depannya. Ibuku banyak berharap padaku, karena aku anak pertama. Tapi, di sekolah ini juga aku tersiksa. Karena aku dibully oleh teman-temanku. Aku gak ngerti, kenapa aku diperlakukan begini. Apa salahku? Apa karena aku berbeda? Tiap membayangkannya aku serasa mau gila. Kepalaku sakit, aku sedih. Aku gak kuat diperlakukan begini terus. Padahal aku gak pernah merasa punya musuh di sini. Aku ingin berteman, aku ingin punya teman. Tiap malam aku belajar, kadang sampai kurang tidur. Karena aku harus mempertahankan beasiswa aku di sini. Supaya aku bisa meringankan beban pekerjaan orangtuaku. Tiap akhir pekan, untuk mengisi kepenatan dan kesedihan aku. Aku jadi relawan di rumah mengajar anak jalanan di daerah pinggiran Bogor. Dan mengajar anak-anak kurang beruntung di sana. Aku bercita-cita, semoga aku bisa membangun sekolah untuk mereka nanti," terang Syafiqa panjang lebar.

Aurel terdiam, lalu, "itu cerita bo…hong...,"

Syafiqa menangis tersedu-sedu dengan punggung yang terguncang. Bu Aisyah yang mendengar cerita dan pengakuan Syafiqa itu langsung memeluknya erat dan mengusap-usap punggungnya lembut sambil mengucapkan kata-kata penenang.

Aurel membeku, bibirnya terasa kaku. Benarkah cerita barusan itu nyata? Bukan rangkaian kisah drama seperti yang ada di televisi? Yang benar saja? Syafiqa hidup sesulit dan seberat itu?

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang