Temu

353 41 44
                                    

"Lu masih aja, ya? Lu gak kapok setelah kejadian kemarin, ha?! Kenapa lu masih tetap caper sama Kak Tama?!" seorang wanita berambut lurus panjang sebahu menarik jilbab putih Riska dengan kasar. Riska berusaha melepaskan dirinya namun ia tidak berdaya.

Wanita itu bersama dengan teman-temannya. Ia tidak sendiri. Sedangkan Riska hanya sendiri terpojokkan. Empat wanita berparas cantik itu mengepungnya dari depan dan sisi kanan maupun kiri. Dengan tatapan penuh kebencian, mereka berempat lalu tertawa seperti setan.

"Gue gak pernah caper sama Kak Tama. Kak Tamanya aja yang deketin gue terus. Lagipula gue gak akan pacaran," jawab Riska sambil terus memegang pergelangan tangan wanita itu agar mau melepas cengkramannya.

"Apa? Lu kira gue percaya? Yang ada lu, kan, yang godain dia? Mentang-mentang baru pakai jilbab omongan lu sok suci. Gak pantes lu pakai jilbab kayak gini!" bentak wanita itu semakin menjadi-jadi. Ia semakin menarik jilbab putih Riska kencang, sepertinya ia hendak berusaha melepaskannya dari kepala Riska. Namun Riska terus menahannya dengan kuat.

Tiga wanita lainnya tidak tinggal diam. Mereka berjalan menuju wastafel dan lalu mengisi botol minuman yang kosong dengan air. Setelah penuh, mereka bertiga berjalan mendekati Riska dan menyiramkan air itu tepat di atas kepala Riska, lalu siraman kedua berhasil mengenai wajah Riska. Kini ia basah kuyup.

Tidak sampai di situ, belum merasa puas. Empat wanita yang mengenakkan baju seragam ketat itu mulai menampari Riska berkali-kali hingga Riska duduk terkulai lemas di pojok toilet dengan tubuh yang bergetar kencang.

"Ini pelajaran kedua buat lu! Jangan sok cantik di sekolah ini!" bentak wanita yang menarik jilbab putih Riska sambil menendangnya keras.

Riska hampir tak sadarkan diri, ia hanya mampu menangis tersedu-sedu sambil berusaha menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.

"Dengar baik-baik! Kalau sampai pihak sekolah tahu ini. Lu tahu, kan, apa yang akan terjadi sama lu? Lu itu udah najis, buruk, menjijikkan. Jangan sok-sokan tobat lu!" sambung wanita itu sambil tersenyum puas.

Lalu, mereka berempat pun meninggalkan Riska sendirian. Riska terus menangis sambil berusaha berteriak meminta tolong. Ia sudah tidak kuat lagi. Kedua pipinya sangat merah dan terasa begitu perih karena habis dihujami tamparan. Dan kedua kakinya sakit, karena sudah ditendang berkali-kali. Hingga Riska tak sanggup lagi untuk berdiri.

Riska benar-benar merasakan kehancuran dalam hidupnya. Kenapa semuanya malah semakin kacau? Di saat ia sendiri sudah berusaha untuk memperbaiki. Fariz bilang yang terpenting perbaiki jika ada yang salah. Seharusnya jika sudah diperbaiki semuanya membaik, bukan? Tapi, kenapa semuanya nampak lebih buruk saat ini? Riska benar-benar tidak mengerti.

"Riska!" teriak suara itu. Tepat di hadapan Riska berdiri seorang wanita manis berkacamata berbingkai hitam dengan jilbab putih lebar menutupi dada.

"Astagfirullah, kamu kenapa, Ris?" ternyata ia adalah Kak Zahra, satu-satunya orang di sekolah yang begitu peduli pada Riska. Yang menguatkan jalannya untuk hijrah, memotivasinya untuk tetap tegar dan bangkit. Juga, perantara hidayahnya untuk mantap mengenakkan jilbab.

Riska melihat wajah Kak Zahra dengan tatapan sayu. Lalu, Lima detik kemudian ia tak sadarkan diri. Panik, Zahra segera keluar toilet dan berteriak meminta pertolongan. Karena waktu sudah cukup sore. Banyak siswa-siswi yang sudah pulang sekolah. Lorong sekolah sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat. Kedua mata Zahra sudah berlinang air mata. Ia berjalan ke sana kemari berusaha mencari orang yang mungkin saja lewat.

Hingga akhirnya, Adit, Fariz dan Praja melewati lorong itu dan melihat Zahra yang sedang linglung sambil menangis. Fariz langsung terdiam, jantungnya berdetak kacau dan saat itu juga ia segera berlari menghampiri Zahra. Tanpa banyak bicara, Fariz lalu masuk menerobos ke dalam toilet wanita dan melihat Riska yang sudah tak sadarkan diri di ujung toilet.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang