Riko Rafansyah (1)

353 46 11
                                    

"Gue juga bisa ngabisin lu kayak lu yang ngabisin anak-anak lain," ancam Riko sambil menarik kerah seragam Adit dengan tatapan mata seperti ingin membunuh. Ini pertama kalinya Adit melihat tatapan seperti itu. Ia hingga tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya langsung terasa kaku dan mati rasa, bahkan, sedikit bergetar karena tanpa ia sadari, ia ketakutan. Ya, seorang Adit. Tukang membuat onar satu sekolah itu untuk pertama kali dalam hidupnya merasa takut pada seseorang.

"Lu mau duel bebas atau bela diri? Gue bisa dua-duanya. Cuma gue gak mau pamer. Gue sebenarnya udah muak sama kelakuan lu yang kayak setan!" Riko semakin mencekik leher Adit, membuat anak itu terbatuk-batuk.

Fariz yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka langsung menarik Riko agar berhenti melakukan itu. Riko melepas kerah seragam Adit dengan kasar, menghempaskan Adit hingga ia jatuh ke bawah.

"Riko! Kalau Pak Burhan sampai tahu, bahaya! Lu gimana, sih? Tahan emosi lu!" ucap Fariz mengingatkan sambil memukul kepala Riko.

Riko menatap Adit dengan tatapan sinis sambil tersenyum meledek. Adit yang ditatap seperti itu hanya membuang muka dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

Riko lalu berjalan meninggalkan Adit dan Fariz. Namun, dalam beberapa detik Fariz menatap Adit, entah mengapa ia yang melihat Adit tersungkur dengan begitu menyedihkannya, memilih berjalan menghampiri Adit dan lalu berjongkok di samping anak itu.

"Riko itu, gak sebaik yang lu kira. Dia, jauh lebih brutal daripada lu. Dia juga jauh lebih bodoh daripada lu. Lu tahu, kan? Dia selalu jadi wakil sekolah kita di olahraga bela diri pencak silat? Lu juga tahu, kan, dia selalu menang hampir di semua pertandingan? Dia gak secupu yang lu kira. Lu harus hati-hati sama Riko, dit. Jangan cari masalah!" setelah berkata seperti itu Fariz pun berjalan meninggalkan Adit seorang diri.

Gue gak peduli, mau dia bahaya atau enggak. Karena, gue pun udah gak peduli dengan diri gue sendiri, batin Adit sinis.

📚📚📚

Adit melihat dari kejauhan, ia melihat tawa lepas Riko yang sedang melawak di depan kelas sambil memeragakan gerak salah seorang pelawak terkenal di TV. Teman-teman sekelasnya dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan, Fariz, ia lihat sedang asyik membaca buku ensiklopedia kesukaannya.

Adit melihat ke samping kursi tempat duduknya sendiri. Tidak ada kawan di sini, ia duduk sendirian, paling belakang, di ujung kursi pula. Semua teman sekelasnya membelakangi Adit. Sekalipun ada di antara mereka yang melihat ke belakang, mereka hanya akan menatap Adit dengan tatapan takut dan tak acuh atau bahkan sinis. Adit meremas kencang kertas yang ia sobek sambil menahan tangisnya.

Ia dan Riko diibaratkan dua manusia yang sangat bertolak belakang. Mungkin, Riko, ibarat cahaya, dan dirinya diibaratkan kegelapan. Hampir seluruh teman sekelasnya menyukai Riko. Dan hampir seluruh teman sekelasnya membencinya. Ini benar-benar memuakkan, ini tidak adil, batin Adit penuh dengan kemarahan.

BRUAK

Adit memukul mejanya dengan keras hingga membuat teman-teman sekelas berhenti tertawa dan melihat ke arah Adit. Setelah memukul meja, Adit berlari keluar kelas dengan tatapan kebencian pada teman-teman sekelasnya. Riko yang melihat sikap Adit yang mengejutkan itu langsung berlari menyusul Adit keluar.

Adit berlari kencang menuju lapangan belakang. Setelah sampai, ia melihat pagar tinggi besi yang menghalangi sekolah dengan lapangan. Tanpa ragu, Adit langsung memanjat pagar itu dengan lihai lalu melompat dan berjalan menuju bawah pohon ceri yang ada di lapangan belakang.

Adit langsung terduduk lemas di bawah pohon sambil menangis. Ia menundukkan kepalanya dalam sambil memeluk kedua kakinya erat. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang