Masalah Baru

654 60 122
                                    

Praja dan Adit meringis kesakitan menahan sakit bekas tamparan di pipi kanan mereka. Setelah kembali masuk ke ruang BP kini mereka berdua sedang duduk di kursi kelas dengan santai.

Kebetulan jam istirahat sudah datang, mereka lebih memilih berdiam diri di kelas karena tak ingin berada dalam keramaian dulu. Kejadian beberapa jam yang lalu sudah berhasil membuat Adit dan Praja tutup mulut.

Lagi-lagi Bu Aisyah menyemprot mereka habis-habisan dengan banyak nasihat sok bijak dan penuh kebohongan. Memangnya salah, ya? Kalau Adit membuat keributan seperti tadi? Toh, bukan Adit dan Praja yang memulainya. Tapi, bapak gendut itu yang duluan memancing keributan.

Adit dan Praja bahkan sudah berusaha untuk bersikap sopan. Ah, sudahlah! Memikirkan masalah itu hanya membuat runyem saja. Orang dewasa memang selalu menang dan mereka amatlah membosankan. Mereka tidak mengerti seni menikmati kehidupan di masa remaja.

Ketika Adit sedang sibuk dengan lamunannya dan Praja yang juga sedang sibuk mengusap-usap pipi kanannyaㅡsambil sesekali menjerit pelan seperti perempuan.

Tiba-tiba datang seorang anak lelaki membawa sekantung plastik putih berukuran cukup besar ke arah mereka berdua.

Adit mengernyitkan kedua matanya berusaha fokus melihat seseorang itu. Ia langsung buru-buru membuang pandangannya begitu tahu seseorang itu adalah Fariz.

Sial, ada apa, sih, dengan bocah ini? Mengganggu saja, padahal perasaan Adit saat ini sangat kacau dan tak enak. Tidak mungkin, kan, kalau ia harus memukul seseorang lagi.

Fariz kini berjalan semakin mendekat dengan senyum manis di bibirnya. Begitu sudah di hadapan Praja dan Adit ia meletakkan sekantung plastik putih besar itu di atas meja Praja.

Setelah menaruh sepelastik putih besar itu di atas meja, Fariz berjalan berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Adit mendengus begitu melihatnya, sok keren kali, pikirnya.

Praja tidak begitu peduli dengan kehadiran Fariz. Ia malah langsung membuka sekantung plastik putih itu dan melihat ada dua bungkus nasi di dalamnya. Ia menciumnya, aromanya enak dan terasa panas begitu ia pegang. Tunggu? Ini, kan, bau nasi padang? Nasi padang kesukaannya? Bagaimana bisa Fariz tahu kalau Praja sangat suka makan nasi padang? Ada dua porsi pula. Yang satu untuknya dan satu lagi pasti untuk Adit.

Tapi, ah, Praja menekuk bibirnya dan berusaha menghiraukan nasi padang di hadapannya itu. Ia malas memakannya begitu tahu Fariz yang membeli dan membawakan untuknya. Lebih baik ia....

Kruuk

Kruuk

Terdengar suara musik keroncong dari perut Praja. Ia mengusap-usap perutnya sambil menelan ludah. Dengan kedua mata yang masih menatap ke arah bungkusan nasi padang.

Ah, bodo amatlah.

"Woy, bocah pinter! Makasih, ya!" teriak Praja dari ujung kursinya. Masa bodohlah dengan harga dirinya untuk saat ini. Kalau urusan perut, siapa juga, sih, yang menolak. Mana gratis pula, enak. Praja tersenyum sumringah sambil mengambil satu bungkus nasi padang miliknya.

Mendengar ucapan terima kasih dari Praja, Fariz hanya mengacungkan jempol tangan kanannya dan kembali sibuk membaca buku yang barusan ia pinjam dari perpustakaan.

Tanpa ragu dan rasa malu Praja langsung membuka bungkusan nasi padang itu dan melahapnya. Ia memberikan satu bungkusan lagi pada Adit. Tapi, nampaknya Adit belum ingin memakannya. Ia malah sibuk memperhatikan Fariz dari belakang sini.

Tiba-tiba saja Adit bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri meja Fariz. Ia lalu berdiri tepat di hadapan Fariz dengan ekspresi wajah kakunya seperti biasa.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang