Dulu (1)

513 62 80
                                    

"Gimana?" tanya Praja sambil memperlihatkan foto perempuan cantik berambut panjang sebahu yang sudah keempat kalinya ia tunjukkan. Kini mereka berdua sedang berjalan santai menuju rumah Adit di salah satu kompleks perumahan elit di daerah Bogor.

Adit hanya menghempaskan tangannya ke arah Praja ogah-ogahan. Praja menekuk bibirnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ada apa dengan kawannya ini? Perempuan secantik ini diabaikan. Praja saja betah melihatnya lama-lama. Lumayan, kan, cuci mata cuma modal kuota.

Adit hanya terus melangkahkan kakinya yang panjang sambil menatap lurus ke depan. Terdengar helaan napasnya yang cukup kasar. Ada apa dengan kawannya yang satu itu? Bukankah Adit sudah memberitahunya kalau ia tidak tertarik untuk berpacaran. Adit sendiri terkadang merasa sulit mengerti akan dirinya sendiri. Kenapa ia jarang sekali tertarik dengan lawan jenis. Bahkan hingga kini usianya beranjak remaja.

Tidak seperti teman-temannya yang lain. Merasakan jatuh cinta, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang disukai. Memberi hadiah pada pacar atau hal-hal semacamnya. Apa, sih? Bahkan dengan membayangkannya saja Adit tetap tidak bisa merasakan perasaan berbunga-bunga atau bersemangat.

"Lu sebenarnya suka gak, sih, sama perempuan? Aneh gue, yang gini gak mau yang gitu gak mau. Tipe lu emang yang kayak gimana?" Praja menyerocos sambil terus men-scroll feed Instagramnya.

Dengan mulut yang menyerocos seperti ibu-ibu Praja mengoceh sendiri sepanjang jalan. Tapi, hebatnya kedua matanya itu fokus pada layar ponselnya. Ajaib, memang. Itulah efek dari melihat foto-foto perempuan cantik. Adit kini yang gantian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Praja.

"Gue belum tertarik, lagian kenapa tiba-tiba lu bahas soal perempuan? Yang lain ajalah. Perempuan bukan barang dagangan, macam mana lu nawarin gue kayak gitu. Gue gak suka," balas Adit dengan wajah yang kesal.

Dasar buaya, pikir Adit. Mungkin Praja sudah hampir menunjukkan semua foto-foto perempuan cantik dan populer di sekolahnya. Mulai dari adik kelas, kakak kelas sampai teman seangkatan. Mulai dari yang berhijab sampai yang tak berhijab. Ampun, deh. Membayangkan Praja yang mengikuti akun mereka di instagram saja Adit sudah geli. Kasihan sekali perempuan-perempuan itu.

"Lu, kan, udah tahu. Gue gak mau pacaran," Adit mengambil ponselnya dari kantong celana sambil menyentuh layarnya dan megecek notifikasi pesan. Kosong. Tidak ada pesan masuk.

"Gue kira lu bercanda, lu serius?" Praja merasa takjub dengan prinsip Adit. Ia menatap Adit dengan tatapan terkejut. Di zaman sekarang langka bertemu lelaki setampan dan sekeren ini yang tidak mau pacaran.

"Hm," jawab Adit sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantung celana dan mengacak-acak rambutnya yang basah karena keringat.

"Tapi, lu, normal, kan?" tanya Praja sambil menepuk pundak Adit dengan wajah cemas yang dibuat-buat.

"Lu mau gue tonjok?" jawab Adit sambil melihat ke arah wajah Praja langsung dengan tatapan tajam dan ekspresi wajah datar cool nya seperti biasa.

"Oke, gue ngerti, gue ngerti. Gue cuma penasaran tipe perempuan yang lu suka macam mana. Itu, doang, kok," bela Praja sambil melepaskan tangannya dari pundak Adit.

"Gue suka yang sederhana aja. Gak ribet," jawab Adit akhirnya membuat wajah Praja yang murung menjadi antusias.

"Tapi, jawaban lu itu lebih pantas kayak gue nanya baju apa yang lu suka. Bego lu! Lu gak pernah suka sama perempuan sama sekali, ya?" Praja lalu tertawa cukup kencang setelah mengetahui fakta seorang Adit.

Adit hanya membuang mukanya dan berjalan lebih cepat dibanding Praja. Anggap saja itu adalah jawaban 'ya' dari Adit.

"Anjir lu! Jawaban lu bikin gue ketawa! Lu kaku amat? Adit, Adit," Praja berjalan menyusul Adit sambil memukul kepalanya dengan tawa renyah yang masih menghiasi bibirnya.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang