Keberanian

227 36 0
                                    

Syafiqa melihat kotak bekalnya dengan senyum sumringah. Hari ini ia senang, karena ibunya memasakan telur bulat balado kesukaannya. Biasanya, Syafiqa membawa bekal sisa berjualan gorengan dan bihun ibunya.

Syafiqa lalu duduk di bawah pohon tepat di samping lapangan basket dan mulai melahap makan siangnya dengan gembira. Ia lalu melihat ke atas pohon yang rindang, lalu tersenyum. Hanya pohon ini satu-satunya teman yang mengakui keberadaan Syafiqa. Setiap kali Syafiqa makan di kelas, atau di kantin. Ia pasti akan diganggu oleh teman-temannya. Dikatai ini itulah, dijahili, ditertawakan dan yang amat menyakitkan. Ia dijauhi sambil dilempari tatapan kasihan dan tawa yang meledek.

Syafiqa sendiri tidak begitu mengerti, mengapa ia diperlakukan seperti ini oleh teman-temannya sendiri. Ia tidak pernah merasa punya musuh. Ia bersekolah dengan niat bulat, rajin belajar, senang membantu, walau ujungnya ia dijadikan seperti pembantu oleh teman-temannya. Sering dimanfaatkan, didekati ketika mereka sedang membutuhkan sesuatu. Misalnya, ketika mencontek tugas, memalak jawaban saat ujian dan masih banyak lagi. Jujur saja, Syafiqa sudah tidak kuat. Ia merasa pusing. Tapi, demi ibu dan adiknya di rumah. Syafiqa buang jauh-jauh ego dan emosinya. Ia harus berhasil dan membuat ibunya bangga. Kehidupannya harus sejahtera kembali.

"Makan apa lu! Sampah!" Syafiqa langsung berdiri terkejut begitu seseorang tiba-tiba melempar kotak bekalnya ke tengah lapangan. Alhasil, nasi dan telur bulat yang belum habis ia santap jatuh berceceran hingga tak berbentuk. Syafiqa langsung berjalan membersihkan dan memungut sisa makannya.

Ternyata, seseorang itu adalah Aurel, Alivia dan Putri. Mereka nampaknya belum puas dengan yang kemarin-kemarin.

"Lu ngadu apa ke Bu Aisyah?!" bentak Aurel sambil menarik lengan Syafiqa kasar hingga ia jatuh terseret.

"Dengar, ya! Lu udah mencoreng nama baik gue di sekolah ini. Gara-gara lu orang-orang buat gosip yang enggak-enggak soal gue. Mau lu apa? Lu nantangin gue!" Aurel menarik Syafiqa agar ia berdiri dan melihat ke arahnya.

"Mau lu apa!?" Teriak Aurel membuat anak-anak yang melewati mereka berbondong-bondong bergerumul untuk melihatnya. Seketika, lapangan basket langsung dipenuhi dengan siswa-siswi yang ingin melihat kejadian menggemparkan itu.

Syafiqa menunduk sambil menahan tangisnya, ia lalu menatap wajah Aurel.

"Mau saya, mau saya cuma satu. Kamu dan lainnya berhenti mengganggu saya. Biarkan saya bersekolah di sini dengan baik. Biarkan saya belajar di sini dengan tenang," jawab Syafiqa dengan bibir yang bergetar.

Aurel dan kawan-kawannya yang mendengar perkataan itu lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka langsung kembali menatap Syafiqa dengan tatapan tajam.

"Kalau gue gak mau gimana? Lagian, nyadar diri dong lu! Orang macam lu sekolah di sini. Lu ngaca dulu, gak, sebelumnya? Udah syukur lu di kasih tempat di sini!" Ucap Aurel sambil mendorong Syafiqa dengan suara lantangnya.

Siswa-siswi yang melihat kejadian itu tak bisa berbuat banyak. Kebanyakan dari mereka hanya mampu terdiam, merekamnya oleh ponsel, dan bahkan ada yang tak acuh.

"Waduh, nona buat ulah lagi, ya?" Siswa-siswi yang mengenal suara itu langsung melihat ke arah punggung mereka. Terlihat, Praja, Adit, dan Fariz berjalan beriringan menghampiri Aurel.

"Lu belum puas sama yang kemarin, ha?" tanya Praja sambil melihat Aurel dengan tatapan sengit. Adit dan Fariz berdiri di kanan dan kiri Praja sambil memasukkan kedua tangan mereka ke dalam kantung celana.

"Lu lagi! Mau ikut campur? Lu bela ini anak karena kalian satu kelas, kan? Haha, maksud gue. Kelas sosial lu sama rendahnya dengan dia," balas Aurel lalu tersenyum bangga dan berjalan mendekat ke arah Praja dan memelototi lelaki itu.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang