Lihai

258 38 4
                                    

Hancur dan Sorai

Aku tahu, ini jelas salah dan tidak benar.
Aku tahu, aku harus segera perbaiki semuanya.
Terlalu banyak kesalahan, kebodohan, ketololan yang telah kulakukan.
Menyesal, memang selalu datang di akhir kisah.

Dan saat ini aku memilih lahir dari penyesalan.
Merengkuh jiwa yang baru, walau sakit dan susah.
Tuhan tahu, luka yang tinggal dalam diriku begitu dalam dan rumit.
Sampai semesta ini ikut menyembuhkan lukaku dengan penuh perencanaan.

Aku ditarik paksa, seperti sampah.
Aku dipukul keras, seperti batu.
Aku ditendang kencang, seperti sesuatu yang tak berarti.
Dunia sedang menyiksaku.

Mereka tidak tahu, atau mungkin, mereka memang tak perlu tahu.
Tapi, aku muak, berbicara sendiri lagi.
Aku memiliki banyak kemarahan dan ketakutan.

Tentang runtutan kejadian buruk dan penuh luka.
Rasa percaya diri yang hancur dan harus dibangun kembali.
Aku harus tetap berjalan tegap dan mantap, sekalipun tubuhku remuk hancur penuh luka.

Aku harus tertawa, di saat sebenarnya aku ingin menangis.
Aku harus tetap bahagia, di saat sebenarnya aku ingin bersedih.
Aku harus tetap kuat, di saat sebenarnya aku sedang rapuh dan hancur.
Aku harus tetap berjalan, di saat sebenarnya aku enggan.
Aku harus tetap berlari, di saat sebenarnya aku ingin beristirahat.

Dalam waktu penyiksaan itu, aku selalu mencoba menarik banyak hal dalam pikiran kacauku.
Kalau ada manusia lain yang akan memahami, mengerti dan mau mendengar dengan sisi kemanusiaan.

Tapi, tak ada.
Aku sendiri.
Sekarang, sendiri.
Saat ini sendiri.
Dan masih sendiri.

Tekanan itu, pukulan itu, tendangan itu, dorongan itu.
Terus menghujami bertubi-tubi tanpa kenal ampun.
Ya, mungkin karena aku memang terlalu bodoh dan keras kepala.

Rasanya, jiwaku sudah tercabik-cabik tak berbentuk.
Rasanya, jiwaku sudah digali dalam-dalam oleh kesengsaraan.

Aku sudah terbiasa menari di atas paku dengan kaki bertelanjang.
Tertawa di saat aku terluka.
Menyanyi di bawah siraman hujan badai dan petir.
Dan lalu menangis sekencang-kencangnya di dalam, sendirian.

Terkadang, aku tidak menyukai diriku sendiri.
Tentang segala kebodohannya, kekurangannya, kelemahannya, ketidakberdayaannya.

Dunia ini, dan manusia-manusia saat ini selalu menginginkan yang kuat, yang baik, yang bagus, sempurna, tanpa cacat.
Sedangkan, aku tidak begitu.

Dengan lahirnya banyak persepsi, nilai-nilai baru, dan bahkan stigma sialan yang semakin membuat manusia menjadi bodoh dan hidup tanpa makna.
Nyatanya, kita semua, di dunia ini bukanlah korban.
Kita semua adalah para pelaku atas kejadian dalam kehidupan sendiri maupun orang lain.

Ada apa dengan kehidupan dan kemanusiaan?
Saat ini yang aku lihat hanyalah perlombaan dimana-mana.
Siapa yang paling hebat, siapa yang paling cepat, siapa yang paling sukses, siapa yang paling kaya, siapa yang paling pintar, siapa yang paling cantik, siapa yang paling tampan.

Benar-benar persetan dengan semuanya!
Semua manusia berlomba-lomba mendapatkan lebih banyak dan lebih besar.
Dengan meninggalkan sisi kemanusiaan, dengan meninggalkan jiwa mereka sebagai makhluk spiritual.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang