Seperti Ini

388 53 30
                                    

Adit menghentikan langkah kakinya yang panjang begitu sampai di sebuah lapangan basket di daerah sekitar lapangan sempur. Ia melihat dari kejauhan, Praja sedang bermain basket dengan empat orang lelaki bertubuh tinggi sama sepertinya. Siapa mereka? Adit tidak kenal.

"Mereka itu alumni," jelas Fariz seperti mengerti isi kepala Adit saat ini.

"Sebaiknya kita di sini aja, gak perlu susul ke sana dulu," tambah Fariz lagi sambil menepuk pundak Adit.

Adit mengangguk mengiyakkan,"iya, kalau soal basket kita gak perlu bantu juga itu bocah pasti bisa atasi sendiri. Tapi, kok, perasaan gue gak enak, ya?"

"Kenapa? Lu gak bisa ngerti apa? Lihat tatapan mata Praja yang serius itu. Dia sungguh-sungguh, jadi percaya sama praja, dit," Fariz melempar pandangannya jauh ke arah Praja yang sedang berlari berusaha memasukkan bola ke ring basket milik lawan.

Adit hanya terdiam seperti berpikir, ada yang aneh di sana. Kenapa hanya Praja yang bermain sendiri? Ia melawan empat orang sekaligus? Yang benar saja? Ini benar-benar gila!

"Gak perlu khawatir, di sana ada Kak Feri juga, kok. Dia pasti dampingi Praja. Mungkin dia lagi istirahat makanya cuma duduk aja. Lu pasti gak tahu, tahun pertama Praja masuk ke tim basket sekolah. Dia bisa nyeimbangin permainan Kak Feri yang terkenal cepat dan kejam itu. Mereka berdua dulu itu musuh, rival berat. Tapi, karena Praja berani ladenin duel one on one sama Kak Feri, dia diakui. Bahkan, mungkin, cuma Praja aja junior di basket yang Kak Feri akui kemampuannya," terang Fariz panjang lebarㅡlagi-lagi, seperti mengerti isi kepala Adit.

Adit mendengus kesal, kenapa sih Fariz ini? Kenapa ia seperti membaca isi pikirannya dengan mudah? Memangnya ia peramal atau dukun? Jangan-jangan Fariz memiliki kemampuan itu? Adit bergidik ngeri sambil memegang tengkuk lehernya yang merinding.

"Kenapa?" Fariz melihat ke arah Adit yang dari tadi terlihat sibuk memperhatikannya. Adit hanya menggelengkan kepalanya sambil membuang muka, enggan menjawab pertanyaan tiba-tiba Fariz barusan.

Kini baik Adit maupun Fariz mulai serius memperhatikan Praja dari kejauhan. Samar-samar mereka melihat Praja yang mengusap wajahnya yang sudah basah dengan keringat.

Adit sedikit terpana, begitu melihat Praja yang sedang bermain basket. Pantas saja, ia terkenal di kalangan siswi maupun siswa di sekolah. Entah mengapa, di saat seperti ini Adit merasa Praja terlihat sangat keren. Belum pernah ia melihat sisi berkharisma ini.

Lihat saja? Wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan. Gerak tubuhnya sangat lincah dan cepat. Belum lagi kelihaiannya dalam menguasai bola di telapak tangannya yang lebar itu.

Shootingnya bukan main, medium shot, long shot, short shotnya juga benar-benar sempurna. Jump pass yang dilakukan Praja pun terlihat sangat ringan seperti tidak ada beban, nampaknya Praja serius walau untuk melakukan drills hingga jump pass nya begitu ringan seperti melayang.

Change of pacenya pun sangat cepat, walau ritmenya sedikit kacau. Tapi, itu benar-benar keren. Ya, Tuhan! Adit menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang dan tersenyum-senyum sendiri memperhatikan.

Cara Praja melakukan screen terlihat sangat profesional. Interceptnya sulit ditebak, kemampuan stealing the ball nya yang bisa dibilang seperti monster. Cepat, tepat dan keras.

Dengan telapak tangannya yang lebar itu sangat mudah bagi Praja untuk melakukan rebound, "sadis," celetuk Adit dengan kedua mata yang berbinar-binar melihat permainan basket Praja. Fariz yang mendengar celetukan itu ikut tersenyum dan kembali melihat ke arah lapangan dengan kedua mata yang tak kalah bersinarnya.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang