Dark Side (1)

316 44 0
                                    

Adit, Fariz dan Praja duduk menyender di tembok masjid setelah melaksanakan shalat isya berjamaah. Mereka bertiga terdiam termenung sambil berusaha mencerna tiap kejadian yang terjadi barusan. Momen dimana Anjani meminta maaf sambil memeluk Riska, dan momen dimana mereka berdua menangis sambil berpelukan erat.

Dan yang membuat mereka terkejut, selama ini kak Zahra lah yang menampung Riska. Sudah hampir dua minggu lebih Riska kabur dari rumah dan tinggal di rumah kak Zahra. Pantas saja waktu itu kak Zahra ketakutan ketika Adit pinta untuk jujur perihal masalah ini.

Riska memilih kabur dari rumah karena tak tahan dengan tekanan emosional yang Anjani berikan padanya. Ia mungkin memang tidak memukul atau menamparnya. Tapi, Anjani selalu menatapnya dengan sinis, memandangnya rendah, membuat banyak gosip di group sekolah, mengajak orang lain untuk turut membencinya.

Dan kejadian dimana Riska bisa bersama seorang om-om waktu itu karena Anjani yang menjebaknya. Yang mengatakan bahwa Riska harus menurut segala perintahnya jika tak ingin ibunya celaka. Riska, yang saat itu sedang stress dan hancur kepercayaan dirinya. Memilih mengikuti segala perintah Anjani tanpa perlawanan yang berarti.

Yang ia pikirkan saat itu hanya ibunya, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ibunya.
Ayahnya sudah sepuluh tahun lalu meninggal karena sakit. Dan Riska adalah anak satu-satunya. Begitupun Anjani, anak tunggal di rumahnya. Bedanya, Riska tidak seberuntung Anjani yang segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik. Karena itulah, Riska jadi merasa kecil dan rendah diri.

Padahal, jika Riska berpikir lebih mendalam dan tak ceroboh. Ia bisa saja melawan dan menyerang balik Anjani. Tapi, Riska tak mau begitu. Ia memilih diam dan mengikuti permainan yang Anjani ciptakan itu. Perceraian memang berdampak luar biasa pada mental anak, tidak hanya berpengaruh pada saat itu, tetapi, kemungkinan trauma akan ada. Dan pasti, ada perubahan-perubahan sikap serta pola pikir baru yang terbentuk. Dan itu semua tergantung pada individu itu sendiri.

Jika anak itu lebih tegar dan sabar, ia akan mendewasa dan tumbuh dengan sehat. Tak peduli jika orangtuanya pernah bercerai. Berbanding terbalik, jika anak itu terus berlarut-larut dalam kesedihan dan ketidakberdayaan, tidak menutup kemungkinan. Anak itu akan menjadi depresi, trauma, rendah diri, dan entah, menjadi seorang yang pendiam. Atau sebaliknya, menjadi seorang anak yang pemberontak dan tukang mencari masalah.

Semuanya, adalah bentuk protes dan amarah yang terus terakumulasi dengan kesedihan yang terpendam bertahun lamanya. Jika tidak cepat-cepat ditangani, diberi dukungan dan kesadaran pada anak, maka kemungkinan besar anak itu akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya nanti.

"Astagfirullah, gue hampir aja ngira si Riska emang beneran terlibat di prostitusi," geleng Praja sambil mengusap dadanya.

"Lu bisa sampai mikir, gitu?" tanya Fariz sedikit terkejut.

Mereka bertiga lalu beranjak dari duduk dan keluar masjid lalu berjalan menuju warung kopi di samping masjid sambil duduk santai dan memakan gorengan.

"Gimana gue gak mikir begitu? Pertama, gue lihat dia sama om-om waktu itu. Sama lu juga, terus tadi di Sempur dia sama pria dewasa. Mana kurang ajar lagi, megang tangan si Riska sembarangan. Gue selalu emosi tiap lihat lelaki kurang ajar. Walau gue pun lelaki, tapi gue gak suka sama lelaki yang semena-mena sama perempuan. Karena gue punya ibu dan adik perempuan," cerocos Praja sambil mengunyah pisang goreng.

Adit diam memperhatikan sambil mengunyah tahu goreng panas miliknya.

Fariz menyeruput teh hangat miliknya, lalu, "Menurut gue pendekatan hukum atau moral dalam menangani kasus prostitusi enggak cukup. Karena ini bukan lagi persoalan tentang mencari penghasilan yang besar. Tapi, ini ada kaitannya dengan fenomena sosial yang berkaitan dengan persoalan ekonomi-politik, kultural, gaya hidup dan sebagainya. Masalah ini harus dihadapi dengan sabar dan empatif. Iya, gak, sih? Bukan rahasia umum lagi, kok. Kalau prostitusi udah merambah di dunia sekolah."

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang