Cepatlah!

438 50 96
                                    

"Satu sekolah udah tahu, Ris," ujar Fariz sambil berdiri di hadapan Riska yang sedang menulis buku catatan miliknya di atas meja.

Riska menghela napas berat, mendongakkan kepalanya, lalu, "gak apa-apa, riz. Itu resiko yang harus gue tanggung. Yang penting, gue udah berusaha, kok, untuk perbaiki. Dan, masih ada orang-orang baik yang dukung gue. Ada kak Zahra, bu Aisyah, dan lu. Itu cukup buat gue."

Fariz tersenyum getir mendengarnya. Ia merasa sangat kesal saat ini pada wali kelasnya sendiri, Pak Rasyid. Bukan salahnya juga, sih, sebenarnya. Adalah sebuah kewajaran bagi seorang guru yang memberikan hukuman pada anak didiknya yang nakal atau berbuat salah.

Tetapi, masalahnya kasus Riska ini bukanlah masalah kecil belaka. Fariz yakin, kalau kasus Riska diusut lebih dalam. Pasti, akan ada banyak lagi orang-orang yang terseret. Ini tidak adil, batin Fariz kesal.

"Riska, ikut bapak ke ruang guru sekarang," panggil Pak Rasyid tiba-tiba yang sudah berdiri di ambang pintu kelas dengan kacamata semi bulat yang terkait di kedua matanya.

Fariz melihat wajah gurunya itu dengan tatapan dingin, ia membuang mukanya kesal dan berjalan menuju pintu sambil melengos begitu saja tanpa melihat wajah Pak Rasyid sedikit pun.

Rasyid mengernyitkan keningnya, ada apa dengan salah satu siswa teladan di sekolah itu akhir-akhir ini? Kenapa sikapnya tak acuh dan tak sopan seperti itu? Biasanya, Fariz selalu memberikan senyum manis dan sapaan serta tak pernah lupa mencium tangan gurunya. Barusan itu apa? Ia hanya melengos dengan tatapan dingin dan wajah kesalnya pada Rasyid. Ya ampun, kenapa makin banyak masalah saja, sih?

"Ini gak adil, benar-benar gak adil," Fariz tiba-tiba marah-marah begitu sampai di bangku kayu panjang di bawah pohon rindang tempat biasa mereka bertiga duduk beristirahat.

"Apanya? Udah jelas si Riska salah, kok, lu masih aja belain dia, sih? Gue ngerti lu naksir sama dia. Tapi, jangan jadi bucin!" tanggap Praja santai sambil membuka snack chocolate yang ada di tangannya.

Fariz terdiam, ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Banyak hal yang mengganggu di dalam pikirannya tentang Riska sampai sekarang. Sejak kejadian waktu itu, Fariz tidak bisa berhenti memikirkan masalah ini.

"Oke, gini, gue lihat Riska di hari itu. Bahkan di hari-hari sebelum kejadian terjadi. Dan mungkin lu berdua pasti gak tahu kenapa gue bisa ada di rumah Om Juna tiba-tiba. Gue buntutin Riska. Kenapa? Karena gue khawatir dan merasa banyak hal yang janggal di sana. Gue gak bisa untuk pura-pura gak peduli, Praja!" bela Fariz panjang lebar.

Praja sempat sedikit terkejut dengan penjelasan panjang dari Fariz, jarang sekali Fariz berbicara panjang lebar seperti itu. Mungkin benar dugaannya, soal Fariz menyukai Riska. Atau ada sesuatu di antara mereka berdua. Fariz dikenal tidak banyak bicara, tapi, saat ini anggapan itu buat Praja sama sekali tidak berlaku. Tidak banyak bicara apanya? Jelas-jelas ia sedang mengomel-ngomel seperti ibu-ibu.

"Gue kenal banget soal Fariz, dia emang gitu orangnya. Kayak emak-emak rempong," ujar Adit sambil menunjuk ke arah Fariz yang kini terlihat sedang kebingungan. Praja hanya mengangguk mengiyakkan, sekarang ia baru paham makna peribahasa 'jangan lihat buku dari sampulnya saja'.

Praja kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Adit saat ini, ia juga tak habis pikir, seorang Adit yang lebih terlihat seperti bad boy ternyata bisa menilai orang lain dengan baik, ia bahkan memikirkan hal detail dari temannya sendiri. Bukankah itu hal manis? Pfft, Praja menahan tawanya.

Lalu,"oh, gitu? Pantes lu betah. Dua hari nginep di rumahnya. Diurus lu ya pasti?"

"Sialan lu!" Adit memukul kepala Praja kesal. Akhirnya mereka berdua sibuk saling memukul kepala dan mengacak-acak rambut mereka sampai berantakan.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang