Malu

255 31 18
                                    

"Ini masih ada yang salah. Betulkan lagi, bapak sudah jelaskan caranya, kan?" Rasyid menunjuk ke lembar kertas Adit dengan penuh perhatian.

"Saya boleh pakai cara sendiri, gak, pak?" Adit menatap kedua mata pak Rasyid penuh percaya diri.

Rasyid menarik napas panjang, "silakan, tapi, nanti kamu jelaskan pada bapak bagaimana caranya."

Adit mengacungkan jempol tangannya dan berlalu ke kursinya kembali dan duduk dengan tenang. Fariz terlihat begitu serius dan fokus. Kedua matanya tak lepas dari pandangan secarik kertas soal-soal persiapan OSN sambil sesekali jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja berirama.

Sebentar, ia mengernyitkan dahinya, lalu dua detik kemudian ia tersenyum penuh makna.

"Sudah, pak," Fariz berdiri tepat di hadapan Pak Rasyid sambil memberikan hasil kerjanya. Rasyid tersenyum bangga dan menepuk-nepuk pundak Fariz sambil tertawa.

"Betul semua, tidak ada yang salah. Kamu boleh istirahat," ujar Rasyid lalu kembali duduk di kursinya dan merapikan tumpukan kertas di mejanya yang berantakan.

Bukannya berjalan keluar kelas, Fariz malah menarik kursi dan duduk di hadapan meja pak Rasyid. Ia menatap wajah gurunya itu dengan tatapan serius.

"Ada apa lagi?"

Fariz menunduk, lalu menatap kembali pak Rasyid, "ada yang ingin saya tanyakan."

"Boleh, silakan."

"Apakah kecerdesan intelektual tidak begitu berarti dibandingkan dengan kecerdasan emosional dan spiritual?"

Rasyid menyilangkan tangannya di depan dada, "siapa yang bilang? Ketiganya penting dan diperlukan. Seimbangkan saja."

"Lalu, bagaimana cara menyeimbangkannya?"

"Kecerdasan intelektual didapat dari ilmu pengetahuan dan kemampuan kita dalam memberdayakan pikiran dan akal, kecerdasan emosional didapat dari pengalaman hidup dan wawasan yang luas, dan kecerdasan spiritual didapat dari seorang guru dan teladan-teladan yang memiliki keilmuan di bidang ini," jawab Rasyid mantap.

"Bisa tolong lebih jelaskan lagi pada saya, pak?"

Rasyid berdeham, "kalau kamu ingin cerdas secara intelektual, belajarlah tanpa kenal lelah. Perbaiki yang salah, kembangkan segala yang baik. Kalau kamu ingin cerdas secara emosional, belajarlah untuk mengenal diri dengan baik, begitupun mengenal orang lain dengan baik. Serta, tumbuhkan kepekaan pada sekitar agar mampu mengambil pelajaran dari tiap pengalaman dan jadikan itu sebagai kumpulan amunisi untuk menghadapi pengalaman baru di masa yang akan datang. Kalau kamu ingin cerdas secara spiritual, belajarlah dari seorang guru yang lurus keilmuannya, indah akhlaknya, dan luas serta dalam pengetahuan kebijaksanaannya. Carilah teladan-teladan yang baik dan benar untuk kamu tiru, jangan sembarangan menjadikan seseorang menjadi teladan. Manusia itu selalu meniru, dan mudah disugesti. Jadi, berhati-hatilah. Minta selalu perlindungan pada Tuhan dalam menuntut ilmu."

Fariz mengangguk pertanda mengerti, "cara menyeimbangkannya bagaimana, pak?"

"Kamu akan temui banyak ketidakseimbangan terlebih dahulu. Keseimbangan lahir dari ketidakseimbangan yang sedang berproses untuk seimbang. Seperti peristiwa siang dan malam, sebelum malam, pasti siang, pun, sebaliknya. Tapi, indikator yang menunjukkan bahwa kamu sedang di perjalanan untuk menyeimbangkan adalah bulatnya tekad dan pantang menyerah. Jika di hati kamu dipenuhi dengan perasaan itu. Berarti kamu berada di jalan yang benar. Tetapi, jika yang ada di hadapanmu adalah keluhan, ratapan, dan pesimis. Kamu harus mengecek ulang tujuan perjalananmu. Kamu pasti paham hukum aksi dan reaksi. Kamu juga pasti paham bahwa energi itu hanya bisa diciptakan. Begitupun dengan kamu, ketika kamu mulai bergerak dan terus bergerak. Kamu tidak akan terhentikan. Karena kamu sudah menciptakan banyak energi. Dan dari energi-energi itu kelak kamu akan mudah menapaki jalan yang beragam. Berjuang! Itu kuncinya, jangan bosan, jangan lelah. Kalau kamu lelah, istirahatlah sejenak. Bukan berarti berhenti," Rasyid menjelaskan panjang lebar dengan penuh antusias.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang