Rahasia (1)

427 50 70
                                    

Adit menyeka rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia menyekanya hingga berulang kali. Sambil menyeka rambutnya yang basah tangan sebelah kirinya membuka pintu kamar lalu menutupnya rapat.

Ia berjalan malas menuju tempat tidur dan lalu membaringkan tubuhnya yang lelah di sana. Terdengar helaan napas hingga beberapa kali sampai akhirnya tangannya meraih ponselnya di atas meja lampu di samping tempat tidur.

Jari-jari Adit mulai menyentuh layar ponselnya dan lagi-lagi membuka pesan dan lalu chat di aplikasi WhatsApp. Tidak ada satu pun chat dari orang lain selain grup kelasnya yang sibuk dengan daftar tugas ataupun kegiatan sekolah.

Membosankan, batin Adit sambil membanting ponselnya ke atas kasur dan menenggelamkan wajahnya yang masih basah ke atas bantal.

"Kapan pulang, sih?" gumam Adit pelan sambil memutar tubuhnya kasar dan melihat ke atas langit-langit kamar tidurnya yang berwarna putih.

"Kalau begini terus," Adit mengangkat lengan kanannya dan menaruhnya di atas kedua matanya.

"Adit udah gak kuat," terdengar isakan tangis yang sangat menyedihkan. Di akhir pekan ini seharusnya orang-orang bersantai dan bersenang-senang. Tapi, bagi Adit, semuanya sama saja. Tidak ada yang berbeda apalagi spesial.

Senin sampai Minggu, jam ke menit, menit ke detik. Hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun. Semuanya sama saja, sepi dan hampa. Kalau saja Adit boleh memilih kehidupannya sendiri. Adit tidak ingin hidup seperti ini.

"Riz, lu ke rumah gue sekarang, ya. Gue udah gak kuat," ucap Adit di telepon lalu menutup teleponnya dan kembali menangis terisak sambil menenggelamkan wajahnya di atas bantal.

"Gue bisa gila," ucap Adit di sela-sela tangisnya. Tubuh Adit mulai bergetar, seperti kejang. Ia buru-buru terbangun dari tidurnya dan membuka laci meja dengan berantakan.

Wajahnya dipenuhi dengan keringat, bibirnya pucat dan kedua matanya sayu. Tangannya bergetar kuat sambil berusaha membuka laci dengan susah payah.

Adit langsung mengambil sepelastik kecil kantung bening berisi kapsul obat. Ia berusaha membuka klip plastik itu dengan mengerjapkan matanya berkali-kali seperti sedang menahan pusing. Napasnya terdengar semakin berantakan dan dadanya yang bidang naik turun tak karuan.

"ARGH!" teriaknya frustasi sambil membanting kapsul obatnya dan lalu menangis sambil menarik-narik rambutnya kasar. Kenapa susah sekali, sih, membukanya?

Kedua mata Adit mulai melihat ke sekitar kamarnya. Lalu ia bangun dan mulai menarik sprei kasurnya kasar. Melempar bantal dan guling ke sembarang tempat sambil terus berteriak-teriak.

Ia banting buku-bukunya yang berjajaran rapi di rak buku kamarnya. Lalu melempar jam weker di mejanya hingga pecah dan hingga akhirnya ia terduduk lemas di depan jendela kamarnya yang panjang dan lebar.

"Percuma, semuanya percuma!" tanpa sadar ia memukul-mukul lantai kamarnya dengan tangannya.

"Percuma, percuma, percuma!" berulang kali Adit memukul lantai kamarnya yang terbuat dari beton itu hingga tangan kirinya mengeluarkan darah.

"Adit!" teriak Fariz sambil berlari menghampiri Adit. Fariz sempat terkejut melihat keadaan kamar Adit yang sudah seperti kapal pecah. Apa yang telah terjadi?

"Dit, udah, dit," Fariz berusaha menahan Adit yang terus memukul-mukul lantai kamarnya hingga tangannya terus mengeluarkan darah.

"Dit, udah," Fariz berusaha menarik tubuh Adit kencang agar berhenti melukai dirinya sendiri.

"DIT, UDAH. LIHAT GUE DIT!" bentak Fariz sambil menarik wajah Adit agar melihatnya. Adit menatap wajah Fariz dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata. Isakan tangisnya terdengar semakin kencang.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang