Tak Perlu Malu

558 61 50
                                    

Pagi ini Adit lari pagi menuju lapangan sempur. Ia mengenakkan celana training hitam panjang dan kaus berwarna putih polos. Sambil mendengarkan lagu melalui headset putihnya yang terpaut di lubang telinga.

Ia berlari-lari kecil dengan kedua Mata yang memperhatikan keadaan sekitar. Pemandangan biasa minggu pagi di kota Bogor, sepanjang jalan sempur dan lapangan selalu ramai dengan masyarakat kota Bogor yang berolahraga pagi sama sepertinya. Atau mungkin ada di antara mereka yang hanya sekedar bertemu dengan teman komunitas dan mengadakan event-event tertentu.

Tatapan kedua mata Adit tiba-tiba berubah menjadi sendu. Laju larinya terlihat semakin melamban. Kenapa, sih? Apa cuma ia manusia yang benar-benar sendiri? Setiap orang yang datang kemari hampir semuanya tidak sendiri. Ada yang bersama dengan keluarga mereka, teman-teman mereka, pasangan mereka dan hewan peliharaan mereka.

Sebenarnya, Adit sudah terbiasa sendiri. Tidak ada kawan, saudara sekandung pun tidak ada. Adit adalah anak tunggal di keluarganya. Terbayang, bukan? Betapa merasa kesepiannya ia selama ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Yang namanya hidup harus tetap berjalan sepahit atau sesakit apapun.

Tanpa Adit sadari pagi-pagi begini ia sudah cukup banyak merenung dan mengeluh. Terdengar helaan napas yang cukup panjang darinya. Hentikan semua keluhan bodoh yang tak ada gunanya itu. Adit berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

Nampaknya, ia harus duduk beristirahat sejenak sambil meregangkan kedua kakinya santai. Adit mempercepat laju larinya menuju pinggir lapangan. Setelah sampai di sana ia memilih duduk di sebuah bangku kayu kosong di bawah pohon yang rindang.

"Sendiri aja?" sapa suara itu, tepat di samping Adit. Adit menoleh dan langsung menggeser posisi duduknya sedikit menjauh.

Lagi-lagi, kenapa harus dia, sih? Pagi ini nampaknya Adit kurang beruntung. Padahal tadinya ia ingin merasakan ketenangan di hari ini.

"Gak usah basa-basi," ujar Adit sama sekali tak memandang wajah Fariz.

"Praja mana? Gue lihat lu lari sendiri di sebelah sana. Muram banget, sih, udah kayak jomlo ngenes," Fariz melihat lawan bicaranya dengan tawa kecil, walau lawan bicaranya itu sama sekali tak menatap wajahnya balik.

"Praja sibuk. Tcih, emangnya lu sendiri bukan jomlo apa?" jawab Adit ogah-ogahan masih sambil membuang pandangannya dari tatapan mata Fariz.

"Elah, sewot mulu, deh. Heran gue, ya, gue juga jomlo, sih. Oh, iya. Gue biasa di sini setiap hari minggu pagi. Kebetulan keluarga gue jualan sayuran organik di sekitar sini. Mampir, dong. Udah lama juga, kan, hehe," terang Fariz sambil tertawa ramah. Ia sudah kebal dengan respon jutek Adit yang seperti ini.

"Gue gak nanya. Dan gue gak mau tahu. Udah lu mending pergi sana! Ganggu pagi damai gue aja," usir Adit sambil menghempaskan tangannya seperti mengusir.

"Lu gak mau ketemu orangtua gue? Lu boleh dapat sayur organik gratis sebagai tanda pelanggan baru. Boleh pilih apa aja yang lu suka," ajak Fariz tak menyerah.

"Lu dengar gak, sih? Pergi dari tempat ini. Jangan dekat-dekat gue!" bentak Adit dengan suara yang cukup keras sehingga membuat beberapa orang sekitar menatap mereka heran dan penasaran.

"Ini tempat umum, dit. Lu gak berhak larang gue. Jadi, gimana tawaran gue waktu itu? Di hari pertama lu masuk. Lu mau gue jadi pesuruh lu?" Fariz melihat wajah Adit yang sudah terlihat semakin kesal.

"Eh, lu udah gila, ya? Kemana harga diri lu? Lu pernah ajarin gue soal harga diri seorang lelaki itu gak gini. Ada apa, sih, sama lu?" Adit kini mulai menatap wajah lawan bicaranyaㅡtentu saja dengan tatapan kesal dan emosinya.

Mereka berdua duduk di bangku yang sama namun duduk berjauhan. Antara ujung bangku satu dan ujung lainnya lagi. Adit dan Fariz memang sudah seperti anak SD yang sedang bertengkar.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang