Terbongkar

243 26 6
                                    

"Saya barusan sudah memeriksa Adit, tapi, tidak ditemukan sakit yang berbahaya. Jadi, diagnosa sementara saat ini Adit mengalami psikosomatis," ujar Dokter Bambang sambil melihat ke arah Rasyid, Aisyah dan Fariz yang duduk dan berdiri di hadapannya.

"Sekitar 30 menit lagi hasil test darah akan keluar, nanti kita bisa pastikan lagi kebenarannya," lanjut dokter Bambang sambil melihat jam tangannya.

"Adit memang sudah sakit, dua tahun belakangan. Sebenarnya ini rahasia saya dan Adit. Tapi, saya rasa dokter dan bapak juga ibu perlu tahu hal ini. Sudah dua tahun, Adit berusaha berdamai dengan depresinya. Ia bahkan hingga berobat ke psikiater dan diberi obat anti depresan. Orangtua Adit, tidak tahu hal ini. Karena Adit merasa percuma, apakah mereka akan peduli pada Adit atau tidak. Adit harus diselamatkan, saya sebagai sahabat tidak bisa berbuat banyak selain mendampinginya dan membantu semampu saya. Karena itu saya mohon bantu Adit dan dukung Adit untuk sembuh. Jangan hakimi dia, jangan benci dia karena sikapnya yang arogan dan brutal. Adit tidak begitu, saya sahabatnya sejak SMP tahu percis Adit seperti apa. Ia begitu karena ia tidak mendapatkan bimbingan dan arahan juga kasih sayang. Sejak SMP bahkan ia menyembunyikan luka batinnya ini. Saya mohon, tolong bantu Adit," cerita Fariz panjang lebar sambil memohon dan meneteskan air mata.

Rasyid dan Aisyah yang mendengar pengakuan Fariz yang begitu tiba-tiba itu kaget bukan main. Apalagi Aisyah, ia benar-benar merasa bersalah karena selama ini menganggap Adit sebagai anak nakal yang susah diatur tanpa mau memahaminya dan memberi ruang baginya untuk bercerita. Rasyid pun merasa bersalah, bagaimana bisa ia sebagai wali kelas tidak peka terhadap masalah anak didiknya. Rasyid menunduk, semoga kali ini ia tidak terlambat. Rasyid benar-benar tak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu.

"Argh," terdengar suara Adit dari balik gorden. Rasyid buru-buru terbangun dan melihat Adit sudah terduduk di tempat tidur sambil memijat keningnya sendiri.

Rasyid tersenyum haru lalu memeluk Adit erat sambil menangis. Adit hanya terdiam, ia tak mengerti kenapa pak Rasyid tiba-tiba memeluknya.

"Maafkan bapak, ya," ujar Rasyid di sela-sela tangisnya.

Adit tidak menjawab ia hanya terdiam dan merasakan tubuhnya terasa hangat tiba-tiba.

Rasyid melepas pelukannya dan melihat ke arah Adit. Ia memegang kedua pundak Adit sambil tersenyum.

"Sekarang, kamu tidak perlu menutupi semuanya lagi dari bapak. Bapak bisa mengerti keadaan kamu. Bapak akan bantu kamu, dukung kamu untuk sembuh. Maafkan bapak, karena bapak begitu egois," ujar Rasyid membuat Bu Aisyah menangis dan Fariz menahan air matanya.

"Maksudnya? Sebenarnya, ada apa? Kenapa saya bisa di sini?"

Bu Aisyah berjalan mendekati Adit, "maafkan ibu, ibu sudah sembrono menilai kamu. Ibu pun akan bantu dan dukung kamu untuk sembuh."

Adit langsung melihat ke arah Fariz yang langsung mengalihkan pandangannya dari Adit. Adit mendengus kesal dan membuang mukanya, pasti Fariz yang menceritakan semuanya. Adit sudah bisa menebaknya.

"Tidak perlu malu, bapak dan ibu sama dengan orangtuamu. Kami berdua orangtuamu di sekolah, bukan? Anggap saja bapak ini adalah ayah kamu. Dan Bu Aisyah adalah ibu kamu," ucap Rasyid sambil mengusap kepala Adit lembut.

Adit meremas selimut dengan kencang dan menahan air matanya yang akan jatuh.

"Ibu akan bantu, kebetulan ibu punya banyak kenalan psikolog. Kamu bisa temui kawan ibu nanti. Tenang saja, semuanya akan selesai. Masalah ini, dan kamu akan bebas," tambah Bu Aisyah dengan senyum lebar manis miliknya.

"Hidup saya itu menyedihkan. Saya tahu kesalahan saya dimana. Saya memendam kemarahan dan kebencian pada orangtua sendiri. Karena sampai saat ini saya tidak mengerti, kenapa mereka memperlakukan saya seperti ini. Saya diperlakukan seperti anak pungut, anak buangan, tidak diinginkan keberadaannya. Saya tidak mau hidup seperti ini terus. Saya lelah, saya ingin seperti anak-anak lain. Hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Tapi, saya bingung harus mencari tempat berlindung kemana. Setiap hari saya di rumah sendiri. Saya kesepian. Dan saya benar-benar muak," Adit akhirnya berani berbicara, tak lama kemudian ia terisak. Rasyid kembali memeluknya erat sambil mengusap-usap punggung Adit yang gemetar.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang