Manusia

289 39 10
                                    

"Hidup itu bukanlah perlombaan atau kompetisi, dalam banyak hal, kita memiliki jatah waktu dan momentum tertentu untuk merasakan banyak rasa dan pengalaman. Dan tentu hal ini, akan berbeda pada tiap individu dan kehidupan. Tuhan sibuk mengurusi segala persoalan yang ada di langit dan bumi. Kalau hidupmu banyak masalah dan itu adalah masalah positif, bersyukurlah. Karena Tuhan masih memperhatikanmu," ujar Bu Aisyah penuh semangat di depan siswa-siswi yang akan mengikuti olimpiade. Sebelum memulai sesi belajar dan latihan, Bu Aisyah diberikan waktu beberapa menit untuk memberikan semangat dan motivasi.

Adit dan Fariz memperhatikan begitu seksama. Sambil berpangku dagu melihat Bu Aisyah yang sangat antusias.

"Yakin Bu anak-anak ini bisa tembus di tingkat nasional?" Celetuk Bu Ratna yang tiba-tiba berdiri di depan ambang pintu kelas sambil tersenyum sinis ke arah Bu Aisyah.

"Insyaallah, Bu. Selagi mereka berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Insyaallah," jawab Bu Aisyah sambil melempar senyum ramahnya.

"Saya, sih, gak yakin. Apalagi bisa sampai tembus internasional. Haduh, ketinggian mimpinya. Sekolah kita belum pernah tembus sampai tingkat internasional. Nasional nya aja berat, apalagiㅡ,"

"Tuntutan peningkatan prestasi pada peserta didik seharusnya sebanding dengan fasilitas dan pendukung bagi mereka. Tak sedikit kasus yang menceritakan seorang peserta didik yang banyak memberi kontribusi bagi sekolah tetapi mengalami kesulitan di beberapa sarana yang tidak sepenuhnya mereka dapatkan seperti, kurangnya dana transport dan sebagainya. Dan, ironinya ada beberapa oknum guru yang malah tidak mendukung. Karena buah pemikiran keliru perihal, ah, ngapain. Ngeluarin duit, belum tentu menang. Seharusnya seorang guru yang baik tidak memiliki mental seperti ini. Anak tidak hanya membutuhkan dukungan berupa sarana dan prasarana, tapi, mereka juga membutuhkan dukungan moral dari guru dan pihak sekolah itu sendiri." Cerocos Pak Rasyid dari balik tubuh Bu Ratna.

Bu Ratna yang mendengar argumen panjang lebar dari Rasyid langsung menatap Rasyid dengan sinis.

"Ibu ada kelas, kan? Silakan," ujar Rasyid sambil tersenyum lebar ke arah Bu Ratna yang menatapnya dengan wajah yang merah padam karena marah dan malu. Ia pun bergegas pergi menuju kelasnya.

"Kalian lihat barusan? Itu contoh mental yang tak berkembang. Kalian semua harus mampu bersaing dalam kehidupan. Di dunia ini ada ribuan, jutaan bahkan orang-orang yang ingin duduk di posisi kalian saat ini. Mereka berebut, kalian tahu, kan? Jadi, jangan bermalas-malasan. Kalian masih muda, terus maju dan tingkatkan kualitas diri dengan prestasi. Bukan sensasi atau hal yang tak penting. Inilah yang namanya jiwa muda. Bukan yang senang nongkrong tidak jelas di luar sana dan membicarakan kisah cinta yang naif. Okay, ya, kalian manusia. Ingin dicintai dan mencintai. Tapi, kalian pun harus cerdas dan bijaksana dalam menggunakan masa muda kalian agar tidak menyesal dikemudian hari," cerocos Pak Rasyid membuat Bu Aisyah dan siswa-siswi lainnya melongo.

"Kali ini saya setuju dengan bapak," ujar Bu Aisyah sambil berjalan dan berdiri di samping Bu Aisyah.

"Oh, tentu! Argumen saya selalu benar dan logis," jawab Pak Rasyid membuat Adit ingin melempar penghapus ke arahnya.

"Baik, Bu Aisyah. Tugas anda telah selesai! Ini saatnya saya memberi pelatihan keras pada mereka," sambung pak Rasyid sembari melihat ke sekeliling kelas dengan penuh percaya diri.

"Riz, emangnya Pak Rasyid sepintar apa, sih? Gue heran, kok, anak-anak satu sekolah pada hormat banget gitu. Kayak takut," ceplos Adit dengan suara setengah berbisik.

"Dengar-dengar, sih, Pak Rasyid itu IQ nya aja 150. Dia lulusan S1 salah satu universitas negeri di Indonesia yang dikenal. Dan dia S2 di London," jawab Fariz sambil berbisik-bisik pada Adit.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang