Dark Side (2)

284 38 7
                                    

"Uluh, Adit pinter," komentar Praja sambil mencubit pipi Adit manja. Adit yang diperlakukan seperti anak-anak itu hanya terdiam dengan kedua telinga yang mulai memerah.

"Dan menurut gue, solusi untuk mengatasi prostitusi di kalangan remaja itu sebenarnya harus buru-buru digalakkan dan ditangani secara serius saat ini. Menurut gue ini bukan masalah kecil lagi. Karena hal ini bakalan merusak generasi dan bangsa. Dan caranya bisa melalui jam mata pelajaran pendidikan agama di setiap sekolah perlu ditambah. Intinya tuh, pendidikan itu menyadarkan, membentuk konsep yang jelas gitu. Baik dan benar, gak cuma kasih contoh kecil. Tapi remaja itu perlu diberi pemahaman dan kesadaran. Lalu, bisa juga lewat sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya dan akibat dari hubungan seksual di luar nikah. Kadang, gue sebel nih, sama orangtua yang entah emang gak paham atau gak peduli. Anaknya pacaran, pacarnya dibolehin main ke rumah, malah sampai dipamerin sama tetangga, bangga anaknya punya pacar. Karena laku katanya. Aduh, itu ngasih ikan asin sama kucing yang lagi lapar ibaratnya. Dan yang paling penting, tuh adanya reformasi dari aparat pemerintah, program merubah karakter dan pola pikir masyarakat. Jadi, jangan cuma fokus di masalah hukum aja. Ibarat, percuma kita nyabutin rumput liar yang di atasnya aja tapi itu akarnya gak dicabut. Gitu, lho," kini gantian Fariz yang banyak berbicara panjang kali lebar kali tinggi.

Adit dan Praja yang mendengar itu terdiam dengan kedua mata yang tak berkedip. Lalu, mereka berdua bertepuk tangan meriah.

"Widih! Calon ketua OSIS!" teriak Praja histeris membuat Fariz malu. Adit hanya memandang Fariz sambil terus bertepuk tangan.

"Bukan bego! Calon presiden Indonesia!" ucap Adit tak kalah antusiasnya.

"Wah, saya dengar adik-adik ini serius banget ngobrolnya. Masih pada SMA?" tiba-tiba terdengar suara yang asing dari arah belakang Adit.

Berdiri sesosok lelaki berperawakan tinggi dengan kaos lengan panjang berwarna abu dan celana bahan hitam panjang. Lelaki itu tersenyum lebar ke arah Adit, Fariz dan Praja. Penampilannya sederhana, sendal jepit hijau, kacamata hitam berbingkai semi bulat. Wajahnya cukup tampan dan manis. Kedua bola mata yang bulat dengan alis tebal dan lebat. Dan lesung Pipit di kedua pipinya. Warna kulitnya yang kuning langsat.

"Kenalin, saya Irhas," ucapnya santai sambil mengulurkan tangannya pada Adit, lalu Adit sambut dan terus bergantian pada Fariz dan Praja.

"Boleh gabung, kan? Gak ganggu, ya?" ucapnya akrab sambil tersenyum ramah.

"Iya, silakan," jawab Fariz sambil tersenyum kaku.

"Kalian masih pada SMA? Seriusan ini? Tadi, saya tanya belum dijawab," tanyanya lagi sambil melihat ke arah Adit dan kawan-kawan nya bergantian.

"Iya, kenapa gitu?" jawab Adit sambil menoleh ke arah Irhas dengan tatapan heran.

"Saya terkejut, sekaligus terharu dan senang. Karena ternyata masih ada anak-anak muda yang peduli pada masa depan, impian, dan negaranya. Saya Irhas, saya mahasiswa. Mungkin usia kita berbeda ya terpaut 4 tahun," akunya sambil melihat ke arah Adit.

"Oh, kakak Irhas!" panggil Praja sambil tersenyum ramah.

"Biasanya yang makan di warung ini kalau gak ngomongin soal pacar, asmara, teman, orang lain, ya, gak jauh-jauh dari hal-hal viral yang penuh sensasi. Gaya hidup, gengsi, barang-barang. Ya, gitu-gitu aja tiap hari. Baru kali ini ada yang berbeda," ujar Irhas dengan wajah bosannya.

"Kakak suka nongkrong juga di sini?" tanya Fariz memberanikan diri.

"Enggak, saya kerja di warung kopi ini. Bantu ayah saya, kalau mau mampir lagi. Silakan, bakalan seru ya kalau kita ngobrol bareng," Irhas tersenyum lebar ke arah Fariz.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang