Maaf

243 37 2
                                    

"Okay, kak, nanti kita ke sana," Adit langsung menutup teleponnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana jeans miliknya.

"Kak Irhas nunggu di depan pintu masuk kampus katanya, kita ke sana," perintah Adit lalu berjalan lebih dulu diikuti Fariz dan Praja.

Fariz melihat ke sekitar sambil sesekali menganggukkan kepalanya seperti sedang berbicara sendiri.

"Ini, sih, salah satu universitas negeri di Indonesia," ujar Fariz membuat Adit dan Praja melihat ke arahnya.

"Serius, lu? Kita boleh ke sini?" Praja membuang permen karet yang dikunyahnya sejak di kereta ke dalam tong sampah. Entah, sudah berapa banyak permen karet yang ia makan sepanjang perjalanan tadi.

"Boleh, karena memang perpustakaan di sini di buka untuk umum," jawab Fariz santai.

Adit hanya terdiam sambil memperhatikan percakapan Fariz dan Praja. Ia sendiri tidak begitu tahu daerah Jakarta.

Mereka bertiga berjalan menuju gerbang kampus dan melihat kak Irhas sudah berdiri tepat di depan sebuah kolam air mancur besar. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum ramah seperti biasa.

"Gimana? Gak susah, kan?"

"Enggak sama sekali, kak, kita langsung ke perpustakaan aja, nih?" jawab Adit antusias.

Sedangkan Fariz dan Praja terlihat sibuk melihat ke sekeliling dengan tatapan takjub.

"Tunggu, saya mau ajak kalian ke lapangan basket dulu gimana? Ada yang mau saya bicarakan di sana," Irhas berjalan sambil mengajak Adit, Fariz dan Praja untuk mengikuti nya.

Praja, yang mendengar kata lapangan basket tiba-tiba berubah menjadi begitu antusias. Kedua matanya berbinar dan senyum lebar tak henti ia berikan. Sesekali ia tertawa terkekeh seperti anak kecil. Dasar maniak, batin Fariz.

"Okay, jadi gini. Saya mau bercerita sedikit. Saya dulu alumni SMAN 12 Bogor juga. Dan saya sangat mengenal baik sosok pak Rasyid dan Bu Aisyah. Ternyata kalian sekolah di sana juga, ya? Saya langsung pada intinya saja, ya, belum lama ini viral kasus bullying di sekolah kita dan itu sampai tersiar di group-group alumni. Saya terkejut, begitu tahu kalian bertiga ikut andil dalam masalah ini," terang Irhas sambil berdiri di hadapan ketiga adik kelasnya yang duduk di lapangan basket.

Adit melihat ke arah Fariz, Fariz melihat ke arah Praja. Lalu mereka bertiga saling melihat satu sama lain. Terdiam, hening, tidak ada yang berani berbicara di antara mereka bertiga.

"Kalian tahu? Bu Aisyah dan Pak Rasyid memang dua orang yang selalu berbeda pendapat. Tapi, memang, hanya mereka dua guru yang paling bisa diandalkan di sekolah. Jadi, saya harap. Kalian bertiga tidak salah paham pada setiap maksud yang mereka berikan pada kalian. Kalian mengingatkan saya pada diri saya sendiri sewaktu dulu. Saya pernah membela korban bullying, tapi, saya malah balik di bully. Dan sekolah tidak mau tahu itu, hanya pak Rasyid dan Bu Aisyah yang sabar mendampingi saya. Waktu itu, jabatan kepala sekolah belum ditempati oleh Pak Dzikri. Kalian harus bersyukur, karena pak Dzikri ini adalah salah satu pendidik dan kepala sekolah yang berprestasi di kota Bogor. Maka dari itu kasus bullying kali ini bisa ditangani dengan tepat dan cepat. Tindakan berani kalian memang patut diapresiasi. Tapi," Irhas memandang luas ke arah Adit, Fariz dan Praja bergantian.

Adit menelan ludah, Fariz masih serius menatap Irhas, dan Praja tanpa sadar mencubiti permukaan bola basket saking penasaran dan cemas.

"Caranya keliru, kalian pasti paham? Dahulukan adab sebelum ilmu. Saya mengerti, saya juga pernah selugu dan sesembrono kalian waktu dulu. Tapi, saya belajar dari kesalahan. Tidak perlu dengan cara yang kurang beretika dan apalagi dengan kekerasan. Kalian tahu? Hati guru-guru yang melihat sikap anak didiknya yang seperti itu campur aduk. Di satu sisi mereka bangga karena kalian berani menyerukan kebenaran. Di satu sisi mereka menyayangkan sikap kalian, dan tentu mereka merasa bersalah karena merasa tak mampu dan gagal dalam mendidik kalian dengan adab dan akhlak yang baik. Jadi, saya ingin, kalian bertiga untuk lebih berhati-hati lagi. Berpikir sebelum bertindak. Beruntung kalian bertiga tidak dikeluarkan, karena kalian siswa-siswa berprestasi dan memiliki banyak jasa bagi sekolah. Dan beruntungnya lagi, pak Dzikri adalah kepala sekolah yang bijak dan memahami psikologi anak remaja seumuran kalian ini," cerocos Irhas panjang lebar.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang