Reuni

2.9K 144 113
                                    

Dua anak remaja yang memiliki tinggi hampir sama itu bertemu kembali. Mereka saling menatap satu sama lain dari jarak yang cukup jauh. Bukan lagi bertemu di lapangan pertandingan atau di lapangan belakang rumah. Kini mereka bertemu di dalam sebuah kelas.

Kelas 11 IPA 2 SMAN 12 BOGOR. Entah mengapa suasana siang itu begitu hening dan sedikit mencekam. Beberapa siswa yang tadinya sibuk mengobrol menjadi terdiam begitu melihat seorang anak lelaki bertubuh tinggi tegap masuk ke dalam kelas. Anak lelaki itu terus memandang tajam ke arah bangku paling depan di ujung sebelah kanan kelas tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.

Nampaknya ia sudah berhasil menarik perhatian siswa di kelas. Bukan hanya karena tinggi badannya saja yang mengalihkan perhatian banyak siswa, tapi penampilannya yang sangat menarik. Dianugerahi tinggi dan bentuk tubuh yang proporsional.

Tatapan matanya yang sedikit sipit itu benar-benar tajam dan berhasil membuat para siswa perempuan di kelas terpana melihatnya. Namun, ada bagian yang cukup menyeramkan. Terdapat luka seperti jahitan di kening sebelah kiri kepalanya.

Ia mengenakkan jacket berbahan jeans. Dengan gaya rambut pompadour undercut yang disesuaikan dengan gaya rambut anak sekolah, rapi dan tidak berlebihan. Ia berdiri tegap tepat di tengah kelas dengan kedua mata yang menatap tajam pada satu titik di sana. Ia pun mulai mengalihkan pandangannya dan melihat kawan-kawan sekelas. Lalu, tersenyum simpul dengan ekspresi wajah tenangnya.

"Perkenalkan, saya Aditya Saputra murid pindahan dari SMAN 13 Bandung. Salam kenal," singkat saja anak lelaki bersuara bariton itu memperkenalkan dirinya.

Ya, kesan lelaki kharismatik nampaknya sangat cocok untuk Adit, ia terlihat kalem dan tidak banyak bicara. Ia juga tidak terlalu banyak menunjukkan wajah yang ramah namun tetap mempesona dengan hanya senyum simpul di bibirnya.

Terdengar suara anak-anak sekelas yang mulai ribut menyebut namanya. Ada yang hanya merespon biasa, ada yang hanya mengangguk saja dan ada pula yang tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang jatuh cinta. Dengan banyaknya respon dan reaksi teman sekelas itu, nampaknya Adit tak begitu peduli. Ia hanya terus fokus memberi pandangan pada seorang anak lelaki dengan rambut hitam legam yang lebat.

Anak lelaki itu membalas tatapan Adit dengan tatapan tenang dan acuhnya. Ia menatap wajah Adit dengan sorotan mata yang dalam dan penuh makna. Tak berapa lama anak laki-laki itu mengalihkan tatapannya ke arah jendela kelas di samping dekat tempat duduknya. Adit hanya tersenyum sinis begitu tahu anak laki-laki itu seperti sedang berusaha mengacuhkannya. Tcih, sejak kapan bocah brengsek itu suka duduk di depan, benak Adit berbicara.

Setelah memperkenalkan diri dengan sangat sederhana Adit lalu berjalan santai dengan kepala yang sedikit terangkat. Ia langsung menempati kursi yang masih kosong di posisi paling belakang, di ujung sebelah kiri. Ini posisi duduk yang bagus, bagus agar ia bisa mengawasi bocah brengsek itu dari belakang sini.

"Kenalin, Gue Praja Hermawan. Cowok paling eksis di kelas," tiba-tiba uluran tangan itu datang begitu saja di hadapan Adit.

Anak lelaki berambut cepak dengan jajaran giginya yang rapi dan putih itu tersenyum ramah pada Adit. Ia duduk tepat di depan bangku Adit.

"Yo! Hahaha," Adit menyambut uluran tangan itu dan berusaha untuk tersenyum ramah walau ia sebenarnya tak ingin.

Ia hanya berpikir, senyuman ramah, uluran tangan. Dan hal-hal manis lainnya itu begitu memuakkan. Banyak kepura-puraan di sana. Dan ia paham betul, tentang hal-hal apa saja yang membuat manusia menjadi sebaik dan seramah itu kalau bukan ada maunya.

"Gue lihat, lu merhatiin Fariz terus dari tadi. Kenapa? Ngerasa keganggu, ya? Sama, gue juga gak suka sama dia. Muak gue sama kelakuannya," ucap Praja tanpa Adit pinta.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang