Dulu (2)

495 59 96
                                    

Praja berdiri terdiam di depan pintu rumah Adit. Ia keluar setelah membantu membawa Fariz untuk berbaring di sofa nyaman ruang tengah. Begitu pun Adit ikut berjalan keluar bersama, dan lalu ia berdiri terdiam di samping Praja dengan wajah yang menunduk.

Suasana siang hari itu hening dan sedikit mencekam. Mengingat kejadian yang telah terjadi beberapa menit yang lalu, mampu membuat emosi mereka semua terkuras. Praja menarik napasnya cukup berat dan panjang. Terlihat ia kini memijit-mijit keningnya seperti merasakan pusing. 

"Gue tahu, gue belum dekat banget sama lu. Dan gue ngerasa mungkin pertanyaan gue ini sedikit lancang," ujar Praja sambil melihat ke arah Adit yang masih berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam. Mendengar pernyataan Praja barusan, ia lalu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah taman sambil membuang napas kasar.

"Ya, emang, kita belum dekat. Tapi, gue ngerasa ada hal yang buat gue merasa dekat sama lu. Gimana jelasinnya, ya? Haha," terdengar tawa canggung Adit.

Mendengar tawa itu, Praja memukul lengan kiri Adit sambil tersenyum simpul penuh makna.

"Jangan ngomong manis, gue pengen muntah. Gak perlu lu jelasin, gue udah ngerti sejak kita pertama kali ketemu," Adit yang mendengar jawaban Praja itu langsung menatap ke arah Praja dengan ekspresi wajah yang terkejut. Tatapan kedua matanya sedikit kosong dan sedih, tak ingin Praja menyadari Adit buru-buru membuang jauh pandangannya yang rapuh itu.

"Tolong, jelasin ke gue. Ada apa, sebenarnya antara lu dan Fariz. Gue gak bodoh, walau nilai kimia gue selalu pas-pasan. Tapi, gue gak bodoh soal mengerti situasi yang terjadi tadi. Lu sama Fariz, jelas-jelas bukan musuh. Lu sama Fariz, jelas-jelas pernah sangat dekat. Jadi, ada apa?" Praja menatap kedua manik mata Adit serius. Ini pertama kalinya Praja menampakkan wajah serius, biasanya ia selalu memperlihatkan wajah konyol dan ekspresi absurdnya.

Begitu pun Adit balik menatap kedua manik mata Praja serius. Mereka saling menatap satu sama lain. Adit yang berusaha mengirim jawaban lewat tatapan matanya yang kosong, kabur dan sedikit berkaca-kaca. Lain halnya dengan Praja yang berusaha menangkap lagi menerjemahkan arti tatapan penuh kesedihan itu.

"Okay, gue ngerti. Gak apa-apa, gue ngerti," ucap Praja sambil tersenyum tipis dan menepuk-nepuk pundak lebar Adit. Adit membalas respon Praja dengan tertawa dan lalu tersenyum seperti dipaksa.

"Riska dimana?" tanya Adit kemudian sambil menoleh ke arah Praja kini dengan wajah yang terlihat lebih santai dan tidak kaku seperti barusan. Kedua mata sendunya berubah menjadi tatapan tegas Adit seperti biasa.

"Ah, ini juga. Gue bingung, ada apa di antara Fariz dan Riska? Dari tadi Riska cuma nangis sambil duduk di samping Fariz. Gue bilang gak usah takut, Fariz bakal baik-baik aja. Tapi, dia malah nangis terus. Gila, ya, si Fariz cewek secantik Riska bisa dibikin nangis. Gak puas apa dia ngerebut banyak perhatian anak cewek satu sekolah. Lu juga lagi, heuh!" cerocos Praja sambil melihat kesal ke arah Adit. Ia memajukan mulutnya seperti meledek dan siap-siap ingin memukul kepala Adit, tapi, Praja  urungkan niatnya karena melihat Adit mengepalkan tangan kanannya di depan wajahnya.

"Lu kenapa sih gampang banget terkenal? Dulu di Bandung lu pasti terkenal juga, ya?"

"Gak tahu, gue gak peduliin itu. Haha, jadi gue gak tahu," Adit dengan santainya menjawab pertanyaan serius dari Praja. Ia kini malah berjalan menuju kolam ikan di taman depan halaman rumahnya yang luas.

"Haduh, cape emang ngomong sama manusia tampan yang sombong. Untung aja gue rendah hati orangnya. Jadi, fans-fans gue gak pada kabur. Mereka semua setia sama gue. Karena gue tahu, gak ada laki-laki di sekolah yang bisa ngalahin tubuh atletis gue ini," sambil mengucapkan kata-kata pujian yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri. Praja mengusap-usap pundaknya sambil tersenyum lebar dan puas.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang