Dunia Baru

291 35 0
                                    

"Lu gila, Riz?!" bisik Adit sambil menendang kaki kiri Fariz dari belakang.

"Bukan gitu, lu masih ingat, gak? Waktu kita berdua nyusulin Praja? Kita nabrak tiga cewek yang gue lihat salah satunya lagi stalk akun Riska. Menurut lu apa kalau dia gak suka sama Riska?" jawab Fariz sambil berbisik-bisik.

"Ah, elah. Mungkin aja itu cewek gak sengaja, kepo. Lu tahu sendiri orang-orang zaman sekarang kepoan. Gila aja gue sampai harus menggadaikan harga diri gue demi itu cewek. Gue gak mau, Riz," Adit tetap bersikukuh.

"Demi Riska. Bukan demi itu cewek, gue udah dapat infonya. Dia dari kelas IPA 3. Mau, gak? Nanti kita datangin ke kelasnya langsung. Rumornya, dia tertarik juga sama lu selain sama kak Tama," terang Fariz kini menarik topinya agar lebih menutupi wajahnya yang tersorot sinar matahari.

"Gue, harus gimana? Gue gak pernah pacaran. Dan, kalaupun itu emang cewek yang nyebar fitnah soal Riska. Gue tetap gak tega jadiin dia pacar sementara demi dapat informasi. Cara lain, dong, jangan pakai cara ekstrim begitu," balas Adit sambil menunduk dan setengah berbisik ke arah Fariz.

"Kelihatannya seru, ya? Lagi menggosipkan apa kalian berdua, ha?" Terdengar suara yang tak asing di belakang Adit dan Fariz.

"Maaf, pak," ucap Fariz lalu menunduk dan fokus melihat ke arah lapangan. Adit hanya menatap pak Rasyid dengan tatapan cuek seperti biasa.

"Kamu, Fariz. Kenapa jadi tukang gosip begini? Kamu itu teladan di sekolah. Beri contoh yang baik dan benar pada teman-temanmu!" Lanjut pak Rasyid sambil menarik telinga kiri Fariz cukup kencang. Fariz hanya meringis dan memegang pergelangan tangan pak Rasyid agar mengendurkan tarikannya itu.

Adit yang melihat itu malah tertawa kecil dan cengengesan.

"Kamu juga samanya, Adit," ucap pak Rasyid sambil menarik telinga kanan Adit.

"Upacara itu harus khidmat. Tolong, jangan membuat keributan, pak," ucap Bu Aisyah tiba-tiba muncul dari punggung Rasyid.

Pak Rasyid berhenti menjewer telinga Adit dan Fariz dan memutar tubuhnya ke belakang, lalu melihat Bu Aisyah yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Lho? Saya? Anak-anak yang membuat keributan. Bukan saya, saya hanya sedang memberi sedikit pelajaran pada mereka, Bu," sanggah Rasyid sambil memamerkan senyum tengilnya.

"Masih zaman, ya? Menjewer telinga murid seperti itu? Kuno!" ucap Bu Aisyah sambil tersenyum meledek dan lalu berlalu pergi meninggalkan Rasyid yang menatapnya dengan heran.

Mendengar perkataan Bu Aisyah yang begitu tajam, Fariz dan Adit berusaha menahan tawanya. Rasakan itu, batin Adit. Pak Rasyid pasti selalu kalah telak jika soal melempar kata-kata pedas. Ia pasti kalah dengan Bu Aisyah. Adit merasa sedikit puas, kali ini ia memihak Bu Aisyah. Karena, Adit sendiri pun terkadang tak paham dengan pak Rasyid. Gurunya yang satu itu selalu bertingkah seolah ia adalah penguasa sekolah. Antek-antek kepala sekolah yang senang mengadu.

Setiap ada anak yang melanggar peraturan sekolah sekecil apapun pasti selalu ia tegur dan panggil menuju ruang kerjanya. Sudah tukang ngadu, sok berkuasa pula. Kenapa tak ada guru yang menyenangkan di sekolah ini? Batin Adit miris. Semuanya terlalu kaku, keras dan beridealis tak jelas, manusia-manusia sistem yang membosankan.

📚📚📚

"Apa, Pak? Kenapa harus saya?" Adit menatap Pak Rasyid dengan wajah memelas sambil menyeka rambut depannya frustasi.

"Kamu jangan pura-pura bodoh, mulai saat ini. Jangan tahan dirimu. Bersainglah dengan sportif di kelas dan sekolah ini. Bapak mohon bantuannya, ya?" Pak Rasyid tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pundak Adit. Fariz yang mendengar perkataan Pak Rasyid barusan tidak begitu kaget, karena sebelumnya ia sudah diberitahu lebih dulu.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang