Restart

542 50 27
                                    

"Sekolah itu lebih dari sekedar tempat untuk mentransfer ilmu. Tapi sekolah adalah tempat dimana kita belajar menjadi manusia dan memanusiakan orang lain dengan penuh tanggung jawab," Ibu Aisyah memberi pidato penuh semangat di lapangan sekolah dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Pandangannya luas melihat ke seluruh isi lapangan, ia terharu, sekarang siswa-siswinya sudah lulus ujian dan bersiap untuk sekolah di jenjang perkuliahan.

"Bapak gak menyuruh kalian harus jadi orang pinter semua. Bapak cuma ingin kalian hidup dengan jiwa pelajar sejati dimanapun kalian berada nanti. Nilai bukanlah standar penting dan utama penentu kesuksesan. Itu hanyalah bagian dari syarat kelulusan. Jadi, belajarlah dan bermimpilah tanpa batas!"  Pak Rasyid menambahkan sambil berdiri di samping Bu Aisyah, ia tersenyum simpul ke arah Bu Aisyah lalu menatap siswa-siswinya dengan dengan tatapan yang berbinar-binar.

Adit, Fariz dan Praja yang mendengar pidato Bu Aisyah berusaha menahan tangis mereka. Kedua mata mereka terlihat sedikit merah dan berkaca-kaca. Praja terlihat berusaha menahan air matanya yang sebentar lagi akan jatuh. Lima detik kemudian ia menangis seperti anak perempuan. Sembari terus berangkulan dengan Fariz dan Adit erat.

Fariz hanya tersenyum tipis dengan kedua mata yang berair, ia menatap ke arah Praja lalu Adit. Sedangkan Adit hanya tersenyum simpul sambil mengusap kepala Praja dan Fariz bergantian.

"Jangan lupain gue, ya!" Ucap Praja sambil terisak.

"Gak bakalan lupa gue sama sahabat ambyar kayak lu, ja!" Jawab Adit lalu tertawa.

"Gak akan, dong. Lu sahabat baik gue, kan," tambah Fariz sambil tersenyum manis.

"Gue bingung mau masuk universitas mana. Kalian udah ada gambaran?" tanya Praja sambil menoleh ke arah Adit dan Fariz.

Adit dan Fariz saling menatap satu sama lain, lalu tersenyum.

"Nanti, deh kita omonginnya. Sekarang kita keliling dan salami guru-guru kita dulu. Sekalian minta maaf sama teman-teman. Gue gak tenang, lulus dari sekolah tapi masih ngutang maaf."

Adit menarik pundak Praja dan Fariz, lalu, berjalan berbaris untuk menyalami dan saling meminta maaf kepada guru dan teman-teman.

"Iya, sih. Kita, kan, banyak dosa di sini," tambah Praja dengan wajah polosnya. Fariz yang mendengar pernyataan jujur itu hanya tertawa geli. Namun, sebentar kemudian ia terdiam merenung.

Ada benarnya juga, mereka bertiga bisa dibilang biang onar di sekolah. Hal-hal viral dan perbincangan umum berhasil mereka panas-panasi. Guru-guru kewalahan dan cape hati. Belum lagi, teman-teman yang sakit hati. Pasti banyak anak-anak yang terluka perasaan dan harga dirinya karena perkataan dan perbuatan mereka bertiga yang kelewat berani dan jujur itu. Fariz jadi kepikiran. Ia pun berjalan mendekati Adit dan berbisik sesuatu. Adit terlihat serius mendengarkan, setelah ia mengangguk pertanda mengerti. Adit langsung membisikkan sesuatu itu kepada Praja. Praja sempat melihat ke arah Adit dengan tatapan terkejut. Namun, ia lalu mengacungkan kedua jempol tangannya mantap dan berjalan mengikuti Adit yang sudah berjalan lebih dulu di depan.

"Mohon maaf sebelumnya mengganggu," Adit berdiri di depan lapangan sekolah dengan mantap. Ia menatap luas ke sekitar dengan tatapan serius dan mendalam.

Siswa-siswi yang terlihat ramai dan sibuk pun akhirnya melihat ke arah Adit. Mereka terdiam dengan tatapan yang heran. Ada yang terlihat serius mendengarkan, ada yang berkacak pinggang sambil menatap angkuh, adalagi yang histeris dan tersenyum-senyum tak jelas, dan ada juga yang menatap Adit dengan tatapan kemarahan.

Adit menelan ludahnya dalam-dalam, Fariz dan Praja lalu berdiri tepat di sebelah kanan dan kiri Adit. Pak Rasyid dan Bu Aisyah memandang siswanya itu dengan tatapan cemas dari kejauhan. Mau buat ulah apalagi? Batin dua guru itu khawatir.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang