Emas

437 53 78
                                    

Adit berjalan sambil merangkul pundak Fariz akrab. Begitu pun Fariz, merangkul akrab pundak Adit. Mereka berdua nampak tenang-tenang saja di saat bel sekolah sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.

Berjalan menyusuri lorong sekolah yang mulai sepi, karena banyak siswa dan siswi yang sudah masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Senyum yang sumringah terpancar dari wajah mereka. Sesekali mereka melempar tawa kecil sambil menatap satu sama lain. Sungguh, pemandangan yang tak dapat dipercaya.

Dua orang manusia yang selalu menjaga jarak. Yang paling sering bertengkar, dan bahkan tidak pernah berbicara layaknya teman. Namun, kenyataannya saat ini mereka sangat akrab dan dekat. Sudah seperti prangko dan amplop. Kalau bukan karena ada sesuatu, hal ini pasti tidak akan mungkin terjadi.

"Fariz, Adit," tegur Pak Rasyid yang sudah berdiri di depan papan tulis dengan wajah datar dan tatapan tajamnya. Ia merasa diabaikan, karena Adit dan Fariz seenaknya main masuk ke dalam kelas tanpa melihat atau mencium tangan guru mereka itu.

Adit dan Fariz saling menatap satu sama lain, lalu, kembali berjalan ke depan kelas dan menghampiri Pak Rasyid. Mereka bergantian mencium tangan guru mereka itu.

"Maaf, Pak. Kami terlambat," ucap Adit dan Fariz bersamaan. Berhasil membuat kawan-kawan seisi kelas kaget.

Praja yang duduk di kursi ujung paling belakang saja saat ini masih menatap Adit dan Fariz dengan tatapan tak percaya. Ia sempat berulang kali mencubit lengannya. Sakit, sakit, ya, ampun. Ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan.

Bagaimana bisa? Mereka berdua? Hanya dalam waktu dua hari itu? Ada apa sebenarnya? Apa yang telah terjadi? Praja menjadi bingung dan heran sendiri. Mereka berdua berangkulan akrab seperti itu? Kemarin-kemarin bukannya mereka saling baku hantam dan menatap sinis? Ajaib.

"Bapak sekarang adalah wali kelas baru kalian. Bu Eka, sebentar lagi akan pensiun. Jadi, bagaimana menurut kalian berdua? Apa yang harus bapak lakukan pada dua siswa yang tidak disiplin seperti ini? Dan kamu Fariz, bagaimana bisa kamu terlambat? Ini pertama kalinya kamu terlambat sekolah," ujar Pak Rasyid sambil sesekali melihat ke arah Adit yang tak acuh dan sibuk melihat ke papan tulis.

Rasyid sudah mendengar semuanya, dan membaca biodata Adit, si murid pindahan ini. Banyak catatan buruk di sana, bahkan mungkin hampir semuanya buruk. Rasyid hanya khawatir, jangan-jangan Fariz dipengaruhi hal-hal buruk olehnya.

"Hukuman?" jawab Fariz dengan kepala yang menunduk.

"Tapi, Pak. Kalau bisa hukumannya yang sesuai dengan kesalahan kita. Jangan yang gak nyambung," timpal Adit sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana dan melihat Pak Rasyid dengan santai.

"Maksud kamu apa?" Pak Rasyid kini fokus melihat ke arah Adit. Yang jujur saja, sudah mampu membuat emosinya sedikit terpancing.

"Sekarang, kan, di sekolah, itu. Sering ada bentuk hukuman yang banyaknya gak nyambung. Terlambat sekolah. Di suruh bersihin wc, terlambat sekolah. Di suruh bayar uang denda keterlambatan. Kan, gak nyambung. Mendidik dimananya?" Adit mengedikkan pundaknya santai.

Fariz yang mendengar ucapan Adit yang kurang ajar itu langsung menepuk punggung Adit kencang. Memberi isyarat, bahwa, ia harus segera menarik ucapannya itu kembali. Dan tentu, meminta maaf.

Adit mendesis kesal sambil menatap Fariz dengan tatapan sengitnya.

"Maaf, Pak. Saya salah, saya tidak sopan," akhirnya Adit meminta maaf sambil menundukkan kepalanya malas-malasan.

Fariz menghela napas berat, apaan itu? Adit meminta maaf? Terlihat sekali tidak tulus, ogah-ogahan. Ah, meminta maaf saja masih salah. Adit ini bagaimana, sih? Masa meminta maaf saja harus diajari. Fariz melihat Adit dengan tatapan ibanya.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang