Bisa-bisanya

266 36 6
                                    

"Si item lewat, tuh!"
"Gile, gile, gosong kali itu kulit!"
"Jorok, dakinya numpuk, ih!"
"Jarang mandi, ya?"
"Perempuan kok gitu, sih? Ngurus diri gak, sih?!"
"Mandinya yang bersih makanya!"

Syafiqa berjalan melewati segerombolan anak perempuan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia berusaha menahan air matanya yang akan jatuh. Sebentar-sebentar ia memperbaiki kacamatanya yang merosot.

"Heh! Lu dengar, gak, sih?! Lu merasa pantas hidup?" ucap seorang siswi berambut panjang sebahu. Ia menarik Syafiqa dengan kasar, lengan Syafiqa di cengkeramnya dengan kuat hingga ia meringis kesakitan.

"Gara-gara lu pemandangan kelas dan sekolah ini jadi gak enak dipandang tahu, gak?! Mending keluar aja lu dari sini. Gak pantes lu sekolah di sini!" tambahnya semakin mencengkram lengan Syafiqa hingga ia akhirnya menangis meminta ampun.

"Cewek tuh harusnya ngurus diri! Putih, tinggi, cantik. Lha, lu? Item, kecil begitu lagi kayak bocah SD, cupu! Idih, gak banget!" timpal seorang siswi bertubuh tinggi dan berkulit putih pucat.

"Maaf, maafin saya. Maaf, maaf," Syafiqa memohon ampun sambil terus meminta maaf dan berusaha berhenti menangis.

Namun, nampaknya, para siswi itu belum merasa puas. Mereka semua mulai mengambil foto Syafiqa yang menangis, merekamnya dalam video sambil terus mempermalukan Syafiqa. Tidak sampai di situ, mereka bahkan mulai berani menyuruh Syafiqa melakukan hal-hal konyol seperti melompat-lompat, berputar-putar lalu berlari di tengah lapangan.

"Mampus lu! Banyak tingkah, sih, lu! Udah jelek mah jelek aja! Jangan sok segala dapat beasiswa!"

"Rasain! Sukurin!"

Ketiga siswi itu tertawa-tawa puas. Bahkan mereka semakin tertawa kencang begitu melihat Syafiqa terjatuh di tepi lapangan.

Namun, tawa mereka terhenti begitu Praja, Adit dan Fariz menolong Syafiqa untuk bangun. Sadar siapa yang menolong Syafiqa, ketiga siswi itu buru-buru membuang muka dan bertingkah seolah tak tahu apa-apa.

"Keterlaluan," ujar Praja sambil berjalan menghampiri ketiga siswi macam iblis itu.

"Maksud kalian apa?" tanya Praja sambil menarik salah satu pundak siswi bar-bar itu.

"Maksudnya? Kenapa, ya? Gue gak tahu, tuh!"

"Jangan bohong lu! Gue lihat barusan apa yang kalian lakuin. Kalian beneran manusia? Kalian beneran perempuan? Jahanam kalian semua!" bentak Praja mulai emosi.

Fariz yang mendengar Praja mulai emosi menyuruh Adit untuk menghampiri Praja. Karena manusia berambut cepak itu cukup tempramen, mudah tersulut emosinya. Dan hanya Adit yang bisa menenangkan.

"Eh, mulut lu gak bisa dijaga, ya? Kasar banget sama perempuan! Cakep sih iya, tapi, kasar!" sungut seorang siswi yang bertubuh tinggi.

"Apa bedanya gue sama lu? Adil, kan? Kalian cantik-cantik tapi kelakuan macam setan! Minta maaf, gak?! Minta maaf!" ucap Praja semakin emosi, Adit buru-buru menahan Praja agar berhenti.

"Udah, ja, udah," Adit menghalangi Praja agar tak mendekat pada ketiga siswi yang terus membacot itu.

"Keterlaluan mereka, dit. Gue baru lihat kelakuan perempuan macam gini. Benar-benar jahanam!"

Adit memutar tubuhnya dan melihat ke arah Praja. Praja langsung terdiam, ia mengerti tatapan mata yang Adit berikan. Ia pun langsung membuang napas panjang, lalu berjalan mundur sambil menunjuk-nunjuk ke arah ketiga siswi itu.

"Maaf, kalau gue disuruh milih salah satu di antara kalian untuk jadi pasangan. Gue gak akan milih, di dunia ini lelaki yang cerdas gak akan lihat perempuan karena fisiknya aja. Dan, cuma sekumpulan lelaki goblok aja yang melihat perempuan hanya karena fisik. Paling, ujungnya cuma jadi mainan, dicoba, terus dibuang," celetuk Adit sambil tersenyum sinis dan berlari pergi menjauh.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang