Sampai Kapan?

1.2K 91 136
                                    

Fariz duduk termenung di dalam mushala sekolah. Kedua matanya yang bulat menatap kosong ke arah mimbar. Sebentar-sebentar ia menarik napas berat dan panjang.

Ia merasa bahwa apa yang telah terjadi belakangan ini di sekolah bagaikan mimpi. Semenjak anak pindahan itu datang, suasana kelas bahkan sekolah berubah total. Yang tadinya tenang karena damai kini menjadi mencekam.

Belum lama ini gara-gara pertengkaran kecil mereka dua hari yang lalu di lapangan sekolah, baik Fariz maupun Adit berhasil menjadi bahan pembicaraan satu sekolah. Mulai dari siswa sampai ke meja guru. Alhasil, mereka berdua dipanggil menghadap guru BP dan wali kelas.

Yang membuat Fariz heran dan tidak mengerti adalah ketika Adit tidak berkata sepatah katapun atas pembelaan dirinya sendiri. Ia seperti membiarkan kesan buruk dan anak nakal menempel di dalam dirinya.

Seharusnya ia membela dirinya saat itu, tapi yang Fariz lihat hanyalah tatapan tak acuh lagi angkuh yang Adit pancarkan dari kedua matanya.

Dan gara-gara anak lelaki tinggi itu Fariz baru merasakan pertama kali masuk ke dalam ruangan guru BP. Fariz dikenal sebagai siswa teladan di kelas maupun sekolahnya.

Ia tidak hanya pintar dan cerdas, namun ia pun ramah lagi baik hati. Senang membantu, dan tidak takut membela kebenaran. Selama ini ia memang tidak pernah berhubungan dengan para siswa nakal senekat Adit. Sekalipun berurusan, mereka akan berlalu pergi meninggalkan Fariz. Entahlah apa yang membuat mereka menjadi sangat alergi dengan Fariz.

Sudah berapa banyak piala yang Fariz sumbangkan untuk sekolah. Baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Bagi teman-teman satu kelasnya, Fariz adalah sosok sahabat yang sempurna. Bagi para wanita satu sekolah ia adalah sosok idaman.

Sedangkan bagi para guru-guru satu sekolah, ia adalah contoh siswa berhasil lagi sukses. Lain halnya dengan pandangan beberapa anak lelaki di sekolahnya, ia hanyalah rival yang seharusnya sudah hancur. Tidak sedikit anak lelaki yang membencinya dan ingin menjatuhkan Fariz.

Namun, nampaknya belum ada yang benar-benar nekat dan seberani Adit waktu itu yang tanpa berpikir panjang meludah di hadapan Fariz dan mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur.

Fariz tersenyum simpul begitu mengingat kejadian itu kembali. Ia tidak terlihat marah ataupun dendam begitu mendapatkan perlakuan tak menyenangkan itu dari Adit. Ia hanya merasa bernostalgia.

"Riz, lu kenal si Adit? Dia siapa, sih, sebenarnya?" tiba-tiba ada yang menepuk pundak Fariz dari belakang.

Seorang anak lelaki berkulit sawo matang dengan deretan giginya yang di behel. Ya, dia adalah Rei teman sekelas Fariz. Wajah dan rambutnya masih terlihat basah karena air wudhu.

Kebetulan jam saat ini adalah jam shalat dhuha. Shalat dhuha yang diwajibkan bagi para siswa-siswi di sekolah Fariz merupakan salah satu program rutinan yang dilakukan setiap hari. Tentunya, program ini diberlakukan bagi mereka yang menganut ajaran agama Islam saja. Bagi mereka yang beragama lain biasanya guru beri perintah untuk datang ke perpustakaan membaca beberapa buku di sana.

Karena pihak sekolah memahami bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu atau wawasan saja. Tapi, lebih dari itu, sekolah adalah salah satu sarana bagi siswa untuk mengembangkan dirinya baik dari segi pengetahuan maupun karakter terpuji yang dibentuk melalui program spritual.

"Gue lihat dia bukannya shalat, tapi, malah makan sama Praja dan teman-teman mereka di kantin. Dan, lu tahu? Adit bayarin jajanan mereka! Emangnya seberapa kaya, sih, dia?" cerocos Rei dengan suara yang sedikit berbisik karena takut mengganggu suasana damai siswa lain yang sedang shalat.

Fariz hanya mengangguk-anggukan kepalanya pertanda bahwa ia memberi respon atas perkataan dan pertanyaan Rei. Jujur saja, Fariz tidak ingin banyak bicara kalau itu soal Adit. Ia seperti diberi sebuah lampu merah untuk berhenti ketika berbicara sesuatu perihal Adit.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang