Ruang Kosong

255 32 4
                                    

Adit duduk terdiam di depan masjid, setelah melaksanakan shalat ashar berjamaah ia memilih untuk tinggal sebentar dan merenung. Wajahnya terlihat begitu serius, seperti sedang memikirkan masalah yang cukup berat.

"Assalamualaikum! Serius banget!" Adit terkejut begitu melihat seseorang yang menepuk pundaknya itu ternyata ka Irhas. Dengan sunggingan senyum ramahnya, Irhas lalu duduk tepat di samping Adit.

"Wa'alaikumusallam. Lho? Kakak suka ke masjid ini juga?" Adit menoleh ke arah Irhas sambil tersenyum lebar dan menampakkan wajah cerianya.

"Kenapa? Kayaknya ada masalah berat, nih," Irhas menepuk pundak Adit lembut.

Adit menundukkan kepalanya, terlihat bibirnya mengukir senyum tipis.

"Iya, saya bingung, kak. Soal kuliah nanti," ujar Adit akhirnya memberanikan diri.

Adit bingung, kedua orangtuanya sudah mengirimnya email beberapa hari yang lalu dan mengatakan bahwa mereka ingin Adit berkuliah di luar negeri. Tapi, Adit enggan. Ia tak mau, Adit ingin berkuliah di Indonesia saja. Kedua orangtuanya terus memaksa, bahkan, sampai mereka berdua sudah mempersiapkan untuk kuliah Adit nanti. Padahal, Adit masih duduk di kelas 2 SMA. Untuk persiapan kelulusan dan masuk universitas, masih terbilang jauh.

Irhas terdiam sambil mengangguk, ia memandang ke sekeliling masjid yang ramai dengan anak-anak muda yang sedang mengaji dan berdiskusi.

"Gini, masih banyak anak yang terpaku pada lembaga tempatnya mencari ilmu, seakan masa depannya bergantung pada ketenaran tempat ia dididik. Padahal, mutiara tetap bisa menjadi mutiara pada tiram manapun dia bersemayam. Sejelek apapun kualitasnya, dia manusia. Dia mampu mengembangkan potensinya melampaui ketenaran lembaga pendidikannya. Kalau dia mau dan kalau dia percaya. Jadi, apapun dan dimanapun kita bersekolah itu tidaklah penting. Yang penting ilmunya dapat dan mau untuk terus belajar. Intinya, milikilah jiwa sang pembelajar yang sejati," Irhas melihat Adit yang menatapnya dengan kedua mata berbinar-binar.

"Kenapa? Perkataan saya salah?" Irhas menunjuk dirinya sendiri sambil mengangkat sebelah alisnya.

Adit tersenyum lebar, "tidak sama sekali, kak. Saya hanya merasa tersentuh dengan perkataan kakak. Seharusnya saya mendengar ucapan seperti itu dari orangtua. Ini pertama kalinya, jadi, saya," Adit menghentikan ucapannya, ia menengadah melihat ke atas langit-langit masjid dan menarik hidungnya pelan.

Irhas tersenyum haru, "kamu anak tunggal, ya?"

"Wah! Kok, kakak bisa tahu?"

"Kamu terlihat kesepian. Dimana orangtua kamu?"

Adit menatap Irhas dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia berusaha tersenyum tegar.

"Di Jerman, kak. Saya tinggal di Indonesia dengan pembantu saya. Bibi kerja hanya sampai sore jam 5 lalu pulang. Dulu saya punya orangtua asuh di sini. Tapi, keduanya sudah meninggal. Jadi, ya, saya di sini tinggal sendiri. Mungkin, cuma Fariz dan Praja yang setia menemani saya," tanpa sadar Adit menyerocos sendiri. Ia mengendurkan otot-otot punggung nya yang kaku beberapa menit yang lalu.

"Hm, begitu. Kalau kamu butuh teman, hubungi saya. Tapi, memang saya tidak bisa selalu ada untuk kamu. Saya manusia, punya keterbatasan. Berbeda jauh dengan Allah. Yang pasti, dan akan selalu ada buat kamu," Irhas lagi-lagi mengucap banyak perkataan yang mendamaikan hati Adit. Adit tersenyum lebar mendengarnya. Ia mengangguk pertanda mengerti.

"Terima kasih, kak. Oh, iya, kak. Saya terpilih jadi wakil sekolah untuk OSN di bidang kimia nanti. Mohon doanya," Adit mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang sumringah dan bangga.

"Masyaallah! Semoga kamu bisa mengharumkan nama sekolahmu, ya! Kalau saya bisa bantu. Saya mau bantu kamu belajar. Tapi, bukan saya yang ajarkan. Saya sedikit alergi dengan rumus-rumus dan kawanannya itu. Kamu pasti butuh referensi materi, kan?"

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang