Akan Tersingkap

313 34 7
                                    

Adit berdiri mematung begitu melihat kedua orangtuanya sudah duduk di kursi tamu ruangan Bu Aisyah. Ia hanya terdiam, sambil melihat ke arah kedua orangtuanya yang menatapnya dengan senyum simpul.

Terlihat pak Rasyid tersenyum lebar, dan Bu Aisyah yang sedang sibuk mengambil beberapa dokumen dari loker mejanya.

"Apa kabar?" Raihan, ayah Adit menyapa Adit santai. Adit mencium tangan kedua orangtuanya bergantian dan duduk di kursi sebelahnya sambil terus menundukkan kepalanya.

"Mama lihat kamu semakin sehat? Tambah tinggi anak mama," Ajeng, ibu Adit mengusap pundak Adit lembut sambil tersenyum.

Pak Rasyid langsung duduk di kursi dengan tenang, ia menghela napas, lalu, "Baik, langsung saja pada intinya. Tepat dua hari yang lalu, Adit ditemukan pingsan di toilet sekolah. Dokter mendiagnosa kalau Adit ini mengalami psikosomatis. Dan menurut pengakuan sahabatnya, Adit mengalami depresi sudah dua tahun belakangan ini."

Senyum sumringah yang ditampakkan oleh kedua orangtua Adit karena senang melihat anaknya tiba-tiba memudar. Mereka berdua menatap Adit dengan tatapan terkejut. Suasana berubah menjadi hening dan mencekam.

"Bapak bilang, hari ini bapak ingin memberitahu kami atas pencapaian Adit. Jadi, ini maksudnya?"

Rasyid menarik napas berat, "Adit ini anak yang spesial, kecerdasannya di atas rata-rata. Jenius, belum lama ini Adit dipilih menjadi perwakilan OSN di bidang kimia. Lalu, prestasi Adit lainnya. Ia bisa menerima keadaan dan sakitnya, jujur dan berhati besar. Bersabar menghadapi ujian. Adit saat ini sudah bisa belajar apa itu kata maaf, tolong, dan terima kasih. Ia juga mulai bisa menghargai orang lain. Tidak angkuh dan merasa benar sendiri. Egonya mulai bisa dikontrol, ia menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tenang. Tidak temperamen apalagi brutal seperti kemarin-kemarin."

"Maksud bapak saya gagal dalam mendidik Adit, begitu?"

Rasyid tersenyum simpul, "pertanyaan itu tidak bisa saya jawab. Bapak dan ibu mungkin tahu jawabannya sendiri. Bagaimana bisa seorang anak mengalami depresi hingga dua tahun lamanya dan berobat tanpa sepengetahuan orangtuanya sendiri."

Raihan dan Ajeng saling menatap satu sama lain.

"Apa itu benar, Adit?" Ajeng menyentuh tangan Adit. Dan menunduk melihat wajahnya.

Adit hanya mengangguk, "kalaupun Adit bercerita terus terang. Apa kalian peduli? Tidak akan, bukan? Begini saja ma, kalau mama dan papa terus memaksakan kehendak kalian. Buang saja Adit ke panti asuhan atau ke jalanan. Adit rela, daripada harus tinggal bersama orangtua yang tidak mempedulikan Adit. Adit merasa seperti dibuang. Coba saja lihat pesan yang kemarin papa kirim. Papa hanya bisa memaksa, kalau sudah tidak bisa, papa akan mengancam Adit. Adit kepikiran, sampai akhirnya Adit tidak kuat menahan luka batin Adit sendirian."

"Papa dan mama boleh terkenal, pintar, jenius, berbakat atau apalah itu. Papa dan mama menguasai banyak ilmu. Tapi, Adit tidak hanya butuh itu. Adit butuh bimbingan, arahan dan kasih sayang. Papa dan mama merasa tenang dan santai karena berpikir Adit ini anaknya sudah jenius. Ia bisa hidup sendiri, ia bisa hidup mandiri. Tanpa papa dan mama bekali Adit dengan ilmu dan keterampilan hidup. Selain rumus-rumus, angka-angka, hafalan, yang membuat Adit muak sendiri. Papa dan mama selama ini hanya menjadikan Adit pelampiasan kemarahan papa dan mama, menjadikan Adit sebagai pajangan, perhiasan, dan boneka. Papa dan mama sedang berusaha membunuh Adit secara perlahan."

Ajeng terkejut bukan main mendengar pengakuan Adit yang begitu sangat menusuk hatinya, air matanya menetes. Sedangkan Raihan menahan emosinya, kedua tangannya mengepal dengan keras.

Adit tersenyum sinis ke arah Raihan, "papa sekarang mau marah? Karena Adit sudah mencoreng nama baik papa dan mama sebagai seorang yang pintar dan terpelajar begitu? Silakan saja, Adit sudah tidak peduli."

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang