Rahasia (2)

386 44 56
                                    

"Kita ganti model rambut," ujar Adit sambil mengedipkan matanya ke arah Fariz. Fariz yang melihat kedipan itu tiba-tiba jadi ingin kentut, mulas.

"Kita? Gak salah, nih? Lu kira kita bocah SMP ingusan macam dulu. Apa-apa harus sama. Gue gak mau!" Fariz berjalan pergi dari Barber Shop yang terlihat mahal ini.

Adit buru-buru menarik lengan Fariz cuek sambil membawanya masuk ke dalam. Fariz meronta dan misuh-misuh tak jelas dengan kening yang mengerut karena kesal.

"Gue yang bayar. Lu tinggal duduk manis di sini sambil dengar dongeng gue," Adit menyeletuk sambil melepas hoodie oversizenya dan hanya memakai kaos oblong berwarna hitam.

Fariz mendengus dengan kedua tangan yang sudah gatal ingin memukul kepala Adit. Lagi-lagi, anak ini semaunya.

Adit dan Fariz duduk di kedua kursi empuk yang nyaman saling berdampingan dengan dua buah cermin besar panjang yang memantulkan wajah mereka.

Fariz mendelik ke arah Adit yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum sendiri macam orang tak waras. Sadar diperhatikan dengan tatapan sinis, Adit menjulurkan lidahnya ke arah Fariz sambil memutar bola matanya seperti orang bodoh.

"Gue bukan kebanyakan uang, ya. Jangan salah paham. Gue bukannya pamer juga. Gue mau rayain hari persahabatan kita lagi secara resmi. Hahaha," terdengar tawa Adit yang cukup keras hingga membuat seorang bapak paruh baya yang duduk di sampingnya sedikit terkejut.

Fariz tak mampu membalas perkataan Adit, ia hanya menepuk keningnya sambil menghela napas panjang. Sifat kekanak-kanakan dan tak jelas Adit ternyata tidak pernah berubah.

Dulu, ketika pertama kali mereka bersahabat Adit pernah tiba-tiba membelikannya ikan koi kecil. Mendiang Riko juga mendapat sesuatu dari Adit tak kalah anehnya, ia diberi dua ekor kadal hijau. Begitu Fariz dan Riko tanyakan pada Adit untuk apa ini. Ia hanya menjawab, hadiah. Sebagai simbol resmi persahabatan. Sampai sekarang ikan koi itu masih Fariz pelihara dengan baik, juga dua ekor kadal Riko yang masih Fariz pelihara.

Fariz bingung, untuk sekelas manusia jenius macam Adit rasanya benar-benar aneh bisa berkelakuan seperti itu. Tidak jelas motifnya apa. Satu waktu Fariz pernah merasakan keanehan Adit lainnya. Ia menunjukkan anak ayam peliharaannya pada Fariz dan Riko. Lalu, dengan bangga ia katakan, "ini gue, lu dan riko. Keren, kan?"

Tiap mengingat itu Fariz malu dan kesal sendiri. Anak ayam yang berwarna biru itu Adit. Anak ayam yang berwarna hijau itu Riko. Dan anak ayam yang berwarna merah jambu itu Fariz. Kenapa harus warna merah jambu?!

Fariz menoleh ke arah Adit yang sedang menunjuk model rambut yang ia pilih pada tukang cukur yang klimis dan rapi. Nampaknya, Adit biasa ke sini. Barber shop yang terlihat mahal. Kursi-kursi dan dekorasi ruangan di sini rapi dan bersih. Alat-alatnya pun canggih dan bermacam-macam. Ada banyak pelayanan lainnya selain cukur rambut. Bahkan, hingga ada kasir.

Pandangan Fariz teralihkan begitu seorang pria dengan anting hitam di telinga kirinya mulai menaruh handuk lembut dan lebar di  atas dada dan menyuruh Fariz agar fokus melihat lurus ke depan.

"Jadi, gue waktu SD sama sekali gak punya teman. Gue mengalami kesulitan bersosialisasi. Entahlah, apa memang begitu atau gue yang sulit diterima. Sejak SD orangtua gue mendidik gue sangat disiplin dan keras perihal akademik dan olahraga. Gue ikut bimbel semua mata pelajaran, gue ikut kursus bahasa, bahasa inggris, jepang, jerman, mandarin. Gue juga ikut kelas bela diri dan panah juga berkuda," cerita Adit tiba-tiba sambil menatap pantulan wajahnya sendiri dari cermin.

"Gue benar-benar gak punya waktu buat main. Hari minggu pun gue sibuk ikut kursus dan kelas. Di rumah kalau ada waktu kosong, gue disuruh tidur istirahat atau enggak baca buku. Pola makan gue pun diatur. Cara berpakaian, berbicara, tatakrama dan bahkan cara gue berjalan pun diatur. Anak SD sekecil itu. Lu bayangin aja. Gue merasa kayak robot, masa kecil gue sama sekali gak bikin gue ketawa puas atau senyum bahagia kayak anak yang lain,"sambung Adit kini sambil tersenyum getir.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang