Luka yang Terpendam

228 26 2
                                    

Fariz melihat wajah Adit yang terlihat pucat. Tidak biasanya sahabatnya itu lesu dan tidak banyak bicara. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Fariz dan Adit hari ini berlatih bersama untuk menghadapi OSN. Mengisi soal-soal latihan seperti biasa. Sejak pertama masuk kelas tadi Adit hanya diam, lesu dan tatapan matanya sedikit kosong. Begitu pun ketika jam waktu shalat Dhuha dan Dzuhur. Sewaktu jam istirahat saja ia hanya tertidur di kelas dengan tubuhnya yang terlihat lunglai. Fariz mulai cemas.

"Dit, lu baik-baik aja? Lu gak lagi sakit, kan?"

Adit berhenti melamun, Fariz lihat Adit belum mengisi satu pun soal di lembar jawabannya. Tumben sekali? Sepertinya benar dugaan Fariz, ada yang tidak beres dengan Adit.

"Gue baik-baik aja, kok."

"Serius? Jangan bohong sama gue."

Adit malah membuang muka tak acuh ke luar jendela tak menjawab. Begitu Fariz ingin mengajaknya berbicara lagi. Pak Rasyid tiba-tiba masuk kelas. Alhasil, Fariz berjalan kembali dan duduk di kursinya dengan perasaan cemas.

"Ya? Adit?"

Adit mengangkat tangan kanannya.

"Saya izin ke toilet," ucapnya dengan kedua mata yang sayu dan wajah yang pucat.

"Silakan," pak Rasyid menjawab cepat lalu kembali disibukkan dengan koreksian siswa-siswi di kelasnya.

Fariz tak bisa berpikir, ia hanya terus mengetuk-ngetuk kaki meja hingga membuat pak Rasyid terganggu dan akhirnya ia menegurnya. Fariz melihat ke arah jam dinding bulat tepat di hadapan kelas di samping bendera merah putih.

Ini udah 15 menit, batin Fariz risau.

"Pak! Pak!" teriak seorang siswa yang berlari tunggang langgang dan berdiri di ambang pintu kelas.

Siswa-siswi yang tadinya terlihat serius mengisi soal, mulai pecah konsentrasi nya dan menatap siswa itu secara bersamaan. Begitu pun Fariz, ia bahkan hingga berdiri dari kursinya. Rasyid berjalan pelan menghampiri siswa itu.

"Ada apa?"

Siswa itu terdengar masih mengambil napas, lalu, "ada yang pingsan pak di toilet. Saya gak tahu pingsan atau bagaimana, tapi, wajahnya pucat sekali dan badannya dingin."

Fariz langsung terdiam, "ADIT!"

Rasyid menatap Fariz terkejut. Tanpa banyak bicara, ia berlari menuju toilet di ikuti Fariz. Dan siswa-siswi lainnya di belakang.

Rasyid terus berlari tanpa memperhatikan sekitar, ia terlihat begitu panik dan berlari sempoyongan. Kedua tatapan matanya kabur dan berkaca-kaca. Ia bahkan hingga mendorong siswa-siswi yang menghalangi jalannya. Dan dengan sembrono menendang tong sampah hingga terjatuh dan lalu bangkit kembali dan berlari.

"Minggir!"

Teriak Rasyid dan masuk ke dalam toilet yang sudah dipenuhi siswa-siswi yang ramai dan bergerumul. Fariz pun tak kalah cemasnya, di saat seperti ini Praja tidak ada. Ia sedang mengikuti turnamen dan seleksi hari ini.

Rasyid membeku begitu melihat Adit sudah terkulai tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat. Ia berjalan mendekat, dan memegang pergelangan tangan Adit yang dingin seperti es.

"Adit, adit! Ya, masih bisa. Kamu masih hidup," ujar Rasyid membuat Fariz semakin panik dan ingin menangis.

Rasyid lalu mengangkat Adit ke pundaknya dan menggendongnya keluar. Ia lalu berlari di sepanjang koridor sambil berteriak-teriak meminta ambulan. Fariz pun segera berlari menuju ruang guru dan meminta bantuan.

Rasyid memapah Adit di tandu, begitu ambulan datang. Ia masuk ke dalam ambulan bersama Bu Aisyah dan Fariz. Di dalam ambulan Rasyid tanpa sadar menangis, ia tak mau melepaskan genggaman tangannya pada Adit.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang