Benci

258 30 4
                                    

Adit duduk termenung sambil menatap rintik hujan yang membasahi halaman sederhana milik Fariz. Hari ini ia memilih menginap lagi di rumah Fariz. Setelah kejadian siang tadi di sekolah, ia ingin menenangkan dirinya. Padahal saat ini kedua orangtuanya sudah pulang kembali ke Indonesia. Fariz yang biasa di datangi Adit, dengan senang hati mempersilakan.

"Lu nyangka gak orangtua lu punya kisah masa lalu yang begitu?"

Adit terdiam, ia menghela napas, "gak, sama sekali."

"Terus, perasaan lu sekarang gimana?"

"Campur aduk. Gak jelas, gue gak tahu harus gimana lagi setelah ini."

Fariz berjalan mendekat, menepuk pundak Adit.

"Ngapain bingung? Ya lu minta maaf, lah."

Adit menoleh ke arah Fariz dengan tatapan tak percayanya. Ia tertawa kecil sambil berkacak pinggang.

"Gue? Minta maaf? Lu tahu, gak? Siang tadi mereka berdua sama sekali gak minta maaf sama gue. Gue keluar dari ruangan pun mereka cuma bisa diam!"

Fariz menarik rambut hitam legamnya yang mulai gondrong ke belakang. Ia melihat ke sekeliling rumah dengan tatapan tenang.

"Walau bagaimanapun itu orangtua lu. Lu tetap harus menghormati mereka, dit. Lagipula, lu udah numpahin unek-unek lu, kan? Coba, deh, posisikan diri lu di posisi orangtua lu. Rasain pahit dan sakitnya jadi orangtua lu. Tinggal sejak kecil di panti asuhan. Tanpa kasih sayang dan bimbingan orangtua. Dan sampai sedewasa ini mereka gak tahu orangtua mereka siapa. Ibu lu yang pernah jadi korban kekerasan, bapak lu yang dulu pernah jadi anak jalanan. Itu berat dan menyakitkan, dit."

Adit menundukkan kepalanya sambil mengepal kedua tangannya keras. Ia membuang mukanya dengan emosi.

"Woy! Ngapain lu berduaan mulu!"

Tiba-tiba Praja timbul dari balik pintu pagar rumah Fariz. Ia mengenakan Hoodie hitam dan berlari masuk. Fariz sedikit terkejut begitu melihat Pak Rasyid berlari menyusul Praja di belakang sambil tersenyum dan melambaikan tangannya santai.

"Nih! Gue bawain seblak favorit kita, sama martabak manis! Ajib!"

Pak Rasyid tersenyum lebar, Fariz buru-buru mencium tangan gurunya dan menyikut Adit agar mau mencium tangan Pak Rasyid. Adit sedikit terkejut begitu melihat kehadiran gurunya di rumah Fariz secara tiba-tiba.

"Bapak, kok?"

"Saya ke sini sama Praja," jawab Rasyid santai sambil merangkul pundak Praja layaknya teman sebaya.

Praja terkekeh, "martabak manis, hehe."

Fariz menggelengkan kepalanya, seharusnya ia sudah tahu. Praja adalah manusia sederhana yang bisa disogok bahkan hanya dengan makanan.

"Malam minggu yang menyenangkan. Berkumpul bersama para jomlo keren. Bapak juga masih jomlo. Jadi, boleh, kan, gabung?"

Adit, Fariz dan Praja saling melempar pandangan bergantian. Mereka bertiga lalu menatap Rasyid dengan tatapan datar.

"Boleh aja, orangtua saya lagi gak ada di rumah. Kak Amizah juga nginep di rumah temannya untuk persiapan lomba."

"Bagus! Ayo, kita duduk dan makan seblak dulu," Rasyid tanpa tahu malu menyuruh murid-muridnya itu untuk duduk bersama di teras rumah Fariz dan mulai memberikan seblak pada mereka satu-persatu.

"Bapak punya tujuan apa ke sini? Saya mau di interogasi atau dibujuk supaya minta maaf pada orangtua saya, begitu?" Adit membuat suasana hening sebelum makan menjadi mencekam.

Rasyid menelan ludahnya, lalu tertawa canggung. Ia mengusap tengkuknya sambil tertawa, padahal tidak ada hal yang lucu sama sekali.

"Bukan keduanya, nanti saja. Kita makan dulu, nanti kalau sudah dingin seblaknya kurang enak," jawab Rasyid mulai memakan seblak miliknya dengan lahap.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang