Polos

298 43 9
                                    

Fariz menahan Praja yang terlihat ingin memukul seorang pria dewasa yang berdiri di samping motor besarnya. Sedangkan di balik tubuh mereka ada Riska yang menangis tersedu-sedu.

"LU SIAPA?! BERANI PEGANG-PEGANG?!" bentak Praja masih sambil ditahan Fariz. Praja benar-benar terlihat emosi dan marah. Ia hampir saja memukul wajah pria berbadan tinggi tegap itu.

"Ada apa?" Adit berjalan menghampiri kerumunan. Ia melihat ke arah pria dewasa dengan jaket kulit. Tanpa ragu Adit berjalan mendekati pria itu, tersenyum, lalu menarik kerah kaus pria itu dengan kuat hingga membuat pria itu sulit bernapas dan menjinjit.

"Gue tanya, siapa yang nyuruh lu? Ada orangnya di sini? Mana, tunjukkin ke gue orangnya," ucap Adit dengan wajah yang tenang.

Pria itu menatap Adit kesal, lalu ia melepas cengkaraman itu dan memukul Adit dari arah kanan, namun, Adit dengan cepat menangkis pukulan itu. Ia balik memukul perut pria itu, menendang kaki sebelah kirinya dan memutar lengan pria itu hingga ia tak bisa bergerak.

"Kasih tahu gue, ayo! Usia lu udah cukup untuk masuk tahanan. Gue masih pelajar, posisi gue lebih menguntungkan daripada lu. Jangan main belakang, bilang sama bos lu."

Pria dewasa itu hanya terdiam, ia membisu seribu bahasa. Tak mau menjawab apalagi memberitahu. Fariz dan Praja melihat ke sekeliling lapangan Sempur dan mencoba mencari-cari siapa dalang di balik kejadian ini.

Fariz terdiam dan lalu berjalan mundur dan berbisik pada Praja. Praja segera beranjak pergi dari tempat dan terlihat berjalan dengan langkah lebar menuju arah Utara.

Pria berjaket kulit yang menyadari pergerakan Praja itu tiba-tiba menendang Adit hingga tersungkur dan berlari kabur menjauh.

"Nih, gue dapat bosnya. Gak apa bawahannya pergi, yang penting bosnya ada," Praja menarik lengan seorang perempuan muda yang memakai Hoodie abu-abu dan masker hitam. Fariz menundukkan kepalanya berusaha melihat wajah perempuan itu. Ia melepas maker hitam yang wanita itu gunakan dan terkejut.

"Anjani?"

"Lu?" Praja pun tak kalah terkejutnya. Riska yang sepertinya sudah tahu siapa dalang di balik kejadian ini hanya menundukkan kepalanya.

"Anjani? Salah satu anak berprestasi? Lu yang wakilin sekolah kita di ajang putra-putri Bogor itu, kan? Oh, yaya, jadi, lu?" ucap Adit sambil tersenyum tengil.

Adit berjalan menghampiri Anjani, ia menundukkan kepalanya dan menatap wajah Anjani dengan tatapannya yang mendalam.

"Hm, cantik, memang. Tapi, kok," Adit tertawa terkekeh.

Fariz dan Praja yang melihat itu hanya saling melempar pandangan satu sama lain.

"Riz, ja. Lu antar Riska pulang, pastiin dia aman sampai rumah. Nanti hubungi gue lagi. Gue mau ngobrol berdua dulu sama, siapa? Princess Anjani?" Adit melihat ke arah Anjani sambil tersenyum sinis.

Fariz dan Praja mengacungkan kedua jempol tangannya pertanda mengerti. Mereka berdua bersama Riska beranjak pergi, dan meninggalkan Adit dan Anjani berdua.

Adit duduk di bangku kayu panjang, ia menoleh ke arah Anjani yang masih berdiri di sampingnya.

"Duduk situ, gue mau ngomong sama lu," Anjani yang mendengar perintah itu akhirnya duduk di ujung bangku berjauhan dari Adit. Ini pertama kalinya Anjani diperlakukan 'dingin' dan 'cuek' oleh seorang lelaki.

"Mau sampai kapan ngikutin kedengkian lu? Kemarahan dan kebencian lu?" Tanya Adit santai sambil melihat ke atas langit malam yang penuh bintang.

"Gue tahu, lu iri, lu marah, benci juga iya. Kenapa, kok, gue hidupnya gini? Kok dia bahagia aja. Aduh, gue gak suka ya kalau orang lain bahagia. Tapi, gue enggak. Wah, dunia benar-benar gak adil. Itu kan isi kepala lu?" Lanjut Adit sambil menoleh ke arah Anjani yang menatapnya dengan tatapan terkejut.

SEKOLAH 2019Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang