32

4.5K 574 52

Edgar berjalan pelan sambil celingukan nyari kamar inap mama Andrew. Kata Ara kamar mamanya ada di nomer 61A, jadi Edgar nyarinya di lorong A dong, bukan lorong B.

Ya iyalah:(

Saat Edgar lagi asyik mencari ruangannya, tiba-tiba bahu Edgar ditepuk pelan sama seseorang. Edgar pun membalikkan badannya kaget, "E-eh?"

"Kamu ngapain di sini?" tanya seorang wanita berumur hampir setengah abad dengan pakaian pasiennya.

Wanita itu adalah mamanya Andrew.

-

"Kamu tau, Gar ...?" Mama Andrew menggantungkan kata-kata lirihnya, "Dulu saya ini wanita karir, memilih laki-laki enggak asal. Sampai akhirnya ketemu sama papanya Andrew yang bikin saya jatuh cinta sampe bener-bener bertekuk lutut sama dia." Mama Andrew menengadahkan kepalanya, melihat langit yang nampak cerah.

"Saya tau sejak awal papanya Andrew ini sudah ... gay. Tapi, saya masih kekeh mau sama dia sampe saya ngadu ke orang tua papanya kalo anaknya ini gay. Dinikahkanlah kita berdua, dia secara terpaksa dan saya yang sukarela. Awalnya saya senang, tapi saya sadar ... semua yang berawal dari keterpaksaan, belum tentu akhirnya akan tetap bahagia. Happy ending itu nggak ada buat semua usaha saya," kata mama Andrew, curhat ke Edgar yang cuma bisa diam. Menyimak tanpa niat memotong.

"Saya tau di belakang saya ... papanya Andrew ini masih sering sama pacar laki-lakinya. Kemudian ... saya selalu ngejebak papanya Andrew buat, ya ... kamu tau apa sampai jadilah Andrew sama Ara. Papa Andrew jadi 'ngeliat' saya. Tapi, ternyata mereka tetep bareng. Seandainya papanya nggak gay, mungkin saya ini jodohnya, Gar. Jodoh saya diambil sama laki-laki. Sedih, ya?"

Edgar bungkam, Edgar jadi berpikir ulang, berusaha memahami maksud dari cerita mama Andrew ini. "Jadi ... gimana, Tante?"

"Nggak gimana-gimana. Saya cuma mau bilang kalau di kebahagiaan kalian itu, pasti nanti ada pihak tersakiti. Bahkan, waktu kalian bersama sekarang aja ... saya, ibunya Andrew udah ngerasa sakit, belum jodoh kamu yang asli nanti, belum jodoh Andrew yang asli juga. Kamu tau laki-laki nggak bisa bersama 'kan? Kamu diajarin agama 'kan? Orang tua mana yang rela sepenuhnya waktu tau anaknya jadi gay?" Mama Andrew berkata dengan diplomatis, "Kalau kalian tetep melanjutkan hubungan kalian, itu egois."

Seolah ditampar oleh kenyataan, Edgar menunduk semakin dalam. Enggan menolak maupun mengiyakan, bingung hendak merespons seperti apa.

"Sekarang, keputusan ada di tangan kamu. Kamu bisa merenungi ini baik-baik, Gar. Saya bicara sama kamu karena saya rasa kamu ini paham dibanding Andrew yang udah kebal dinasehatin sama saya." Mama Andrew mengelus kepala Edgar pelan, untuk pertama kalinya tersenyum lemah di hadapan Edgar. Tidak ada tatapan tajam, tidak ada tatapan intimidasian.

"Saya nggak bisa kehilangan laki-laki kesayangan saya buat laki-laki lagi. Tolong ...." Mama Andrew memeluk Edgar sambil menangis pelan, isakannya terdengar jelas di telinga Edgar. Membuat Edgar yang dasarnya berhati lemah justru semakin luluh dan ikut serta menangis menahan sesak yang kian memenuhi rongga dadanya.

-

Edgar memasuki rumahnya dengan langkah gontai, jalannya lemas, tatapannya lesu, tubuhnya loyo. Banyak pikiran berkecamuk di benak Edgar, mempertimbangkan banyak hal yang harus ia lakukan.

Edgar mengembuskan napasnya pelan seraya berjalan melewati mamanya yang lagi maskeran di ruang keluarganya. "Gar, udah pulang?" tanya mama Edgar sambil mengangkat timun di salah satu matanya, mengintip melalui celah tersebut. "Lho, kok lemes amat?" tanyanya lagi.

Edgar tak menyahut dan terus melanjutkan jalannya. "Edgar! Ini Mama ngomong, lho! Kenapa sih kamu? Sini, cerita sama mama." Mama Edgar bergeser dan menepuk sofa di pinggirnya, menyuruh Edgar untuk duduk di sampingnya.

Edgar pun cuma bisa manut, kemudian berjalan kembali ke ruang keluarganya dan duduk tepat di sebelah kiri mamanya.

"Kamu kenapa?"

"Ma ... kalo—Ah, sebenernya gimana sih perasaan mama pas tau aku pacaran sama Kak Andrew?" tanya Edgar tiba-tiba.

Hening beberapa detik.

"Ah, tau gitu mama nggak nawarin kamu curhat kalo kamu nanya gituan." Mama Edgar berkata sambil mengangkat seluruh timun di matanya serta seluruh tomat di pipi dan dahinya.

"Serius, Ma. Please deh, jawab sejujurnya mama. Perasaan mama sebagai orang tua," paksa Edgar sambil merengek tak karuan.

Mama Edgar cuma menatap Edgar sambil tersenyum tipis, enggak peduli sama maskernya yang udah retak-retak karena kebanyakan dipake ngomong bareng Edgar. "Gar, sebagai orang tua ... kita mau kebahagiaan buat anaknya meskipun kita bakal sakit ngeliatnya. Kalo mau jujur, meskipun mama seneng sama Andrew dan pengen ngejadiin mantu, itu cuma khayalan mama, seandainya mama punya anak cewek ... mama mau laki-laki kayak Andrew yang jadi mantu mama. Tapi, tanpa anak cewek pun ternyata dia tetep suka sama anak mama. Kamu," ungkap mama Edgar panjang lebar, berhati-hati dalam mengeluarkan ucapannya.

"Kamu anak kami satu-satunya, kebahagiaan kamu itu prioritas kami. Kamu suka Andrew, kamu boleh jadi sama dia. Asal kamu bahagia, mama nggak pa-pa. Papa nggak mau kamu jadi gay, tapi kalo Andrew itu sumber kebahagiaan kamu untuk sekarang—atau mungkin di masa depan, ya kenapa enggak?" Mama Edgar menuntun kepala Edgar untuk jatuh ke pangkuannya, tangannya mengelus rambut Edgar dengan sayang.

'Orang tua mana yang rela sepenuhnya waktu tau anaknya jadi gay?' Ucapan mama Andrew seketika terngiang di otak Edgar, menetap di sana, enggan untuk pergi.

Edgar mulai berpikir, happy ending adalah berdasarkan keputusannya sendiri. Lalu, tinggal ia yang memilih, happy ending untuk dirinya sendiri ataukah happy ending untuk orang lain?

-

Beberapa hari kemudian ....

"Gar, bangun!"

"Ih, Mama ... sekarang kan hari minggu," ujar Edgar separuh sadar, Edgar kembali membenamkan kepalanya di bawah bantal, males buat bangun.

"Dih, mama!" Yang membangunkan nyolot, ogah dipanggil mama oleh Edgar. "Ini aku, Gar. Andrew!"

"WEH!" Edgar matanya langsung melek walaupun masih rabun-rabun gara-gara belek yang masih menumpuk, matanya yang berat seketika terbuka lebar menjadi mata seratus watt. "KAK ANDREW!" teriak Edgar kaget.

"Nggak usah teriak-teriak, Culun!" cecar Andrew. "Heboh banget. Kangen, yaaa?" goda Andrew sambil ndusel-ndusel manja ke pelukan Edgar, menelusupkan hidungnya ke leher Edgar.

Ya, nggak pa-pa bau iler, namanya juga udah terlanjur kangen.

Edgar yang diserang begitu cuma bisa mingkem, bingung mau ngapain. Tapi, ujung-ujungnya tetep bales pelukannya juga. Toh, dia juga sama-sama rindunya 'kan?






—Bersambung—

Ini chapter paling serius yang pernah aku buat huhuhu, full of dialogues, dan full sama hal menye-menye. Btw, rencananya 1-2 chapter lagi tamat, itu juga gatau kapan mau publishnya. Kayaknya tunggu beres UN hehehe:")

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang