31

5.7K 621 79

Baru tadi pagi Edgar ditanya mau beli novel apa, sekarang di kamarnya sudah ada buku baru. Tapi, sayang. Bukan buku Hujan-nya Tere Liye yang Edgar dapat, justru malah buku aneh ....

Kiat-Kiat Menjadi Istri Sholehah.

Watdefak?

Enggak, kata 'Watdefak' enggak termasuk judul buku itu.

Edgar segera berlari ke ruang keluarga sambil menenteng buku tersebut di tangannya.

Saat berada di ruang tengah, terlihat mama Edgar lagi nonton TV bareng sama papanya. Nonton sinetron hidayah barengan, biar dapet hidayahnya barengan juga. Alhamdulillah, ya. Sesuatu.

"Nih, Ma. Buku Mama ketinggalan di kamar aku," kata Edgar sambil nyodorin buku tersebut.

"Lah? Buku apaan nih?" tanya mama Edgar sambil menatap buku itu kebingungan. "Bukan buku Mama ini, mah."

Edgar mengerutkan dahinya bingung. Di rumahnya kan cuma ada dia, mamanya, sama papanya. Nggak mungkin juga ini buku punya tetangga mereka, "Lho? Terus buku siapa, dong? Masa bukunya Papa?"

"Itu buku kamu," respons papa Edgar singkat, tanpa melihat muka Edgar yang semakin heran ngelihat papanya. "Papa beliin itu buat kamu."

Heh?

"Kata Mama kamu, kalo kamu jadi sama Andrew ... kamu yang bakal jadi istrinya," lanjut Papa Edgar.

"Hah?" Edgar gagal paham, sumpah.

"Pokoknya Mama sama Papa mau kamu jadi sholehah."

Hening.

"AKU KAN COWOK, PA!" jerit Edgar, enggak habis pikir Edgar tuh, punya mama sama papa kok bobrok. Allahu. "Mana bisa jadi sholehah!"

"Iya juga, ya," jawab papa Edgar, baru sadar akan perilaku bodohnya yang lupa kalau anaknya ini cowok tulen.

Gini nih, kalau pas istrinya hamil pengennya anak cewek mulu. Jadi gini kan, anaknya mau di-sholehah-in terus.

Lagi-lagi Edgar cuma bisa gagal paham dan kembali berjalan ke kamarnya sambil menenteng buku itu di tangannya.

-

Edgar hari ini uring-uringan, beberapa hari ini Andrew seolah tidak ada kabar. Padahal, ini sudah hari keempat sejak Ara nanya ke Edgar buku yang dimauinya apa, sudah empat hari pula dia dapat buku Kiat-Kiat Menjadi Istri Sholehah dari papanya. Alhamdulillah, sudah kebaca satu halaman.

Edgar bingung, kenapa Andrew enggak ada ngehubungin dia barang sekali pun. Mungkin dia sibuk? Tapi, kan sesibuk-sibuknya Andrew tuh masih sering ngasih tahu Edgar. Nah, ini kok malah diem-diem aja. Ara juga pas ditanyain ... malah kayak sekarang ini ....

"Ra, kamu tau nggak Kak Andrew ke mana?" tanya Edgar sambil membetulkan celananya yang melorot—enggak, maksudnya kacamatanya yang melorot nyaris ke ujung hidungnya.

Ara terlihat melirik-lirik gelisah, "Eh, Gar ... um ... aku mau ke Pak Andi dulu, ya. Tadi dipanggil, ehehehe." Ara cengengesan dan berdiri dari duduknya.

Edgar yang lagi mode serius langsung megang pergelangan tangan Ara, "Serius, Ra. Jawab dulu."

"Eh?" Ara agak kaget begitu ngeliat Edgar yang polos cimit-cimit yang biasanya lemot mendadak jadi kayak cowok-cowok keren di sinetron-sinetron ala-ala Dilan. Mantap pokoknya.

"Kak Andrew ke mana?"

"Hm ... anu ...."

'Anu, anu. Gue nggak nanya 'anu' lo!' Edgar mendadak flashback ke kata-kata Andrew saat mereka pertama kali bertemu. Nyaris aja Edgar keceplosan ngomong gitu ke Ara, tapi nggak jadi, takut digampar soalnya. Ara kan galak.

"Tau nggak, Ra?"

"Kak Andrew ... anu .... dia ...."

NUNGGUIN YHA? G.

Edgar udah gregetan di tempat. Heran sama Ara tuh, cuma jawab Andrew ke mana aja ngomongnya susah betul.

"Ke mana, Ra?"

"Kak Andrew nemenin mama. Mama masuk rumah sakit lusa kemarin," jawab Ara sedih. "Mama maunya ditemenin Kak Andrew, katanya aku mau ulangan jadinya nggak dibolehin nemenin mama di RS."

"Lho? Kenapa? Kok bisa mama kamu masuk RS, Ra?" tanya Edgar merasa empati terhadap Ara.

Ara kelihatan bimbang mau ngejawab pertanyaan Edgar. Terus Ara pun nangis di depannya.

Jangan ngira Ara nangisnya bakal kayak perempuan-perempuan di sinetron yang nangis aja cantik, nangis dikit nemplok dada cowok. Enggak. Ara tu nangisnya ngejer, nangis dikit ingus banyak, keras lagi meweknya. Edgar mau meluk Ara biar keliatan keren malah nggak jadi, takut air terjun idung Ara nempel di seragamnya. Tapi, kalo Edgar nggak meluk buat meredam tangis Ara ... nanti nangisnya Ara makin keras kayak sekarang ini.

Lihat! Bahkan sekarang orang-orang natap Edgar dengan tampang menghakimi, dikiranya si Edgar bikin Ara mewek. Lah, emang iya sih.

Sekarang Edgar yang bimbang jadinya.

"... Ra?"

"HUWEEEE, EDGAR!!!" Ara ngejerit sambil ngelap ingusnya, mau nggak mau Edgar akhirnya meluk Ara. Dan Ara pun nggak nyia-nyiain kesempatan itu buat meperin ingusnya ke punggung seragam Edgar. Nggak tau diri emang Ara tuh.

"Ssst ...." Edgar mengusap punggung Ara yang nggak mulus—soalnya telapak tangannya kena pengait behanya Ara—sambil menenangkan Ara. "Sini cerita aja."

"Kemaren papa dateng ke rumah, katanya mau bawa aku. Kan mereka janji kalo aku udah umur 17 tahun bakal gantian hak asuhnya—hiks, slorrrrt." Ara bercerita sambil menarik ingusnya kencang. "Terus mama nggak mau, mereka berantem. Terus mama ngamuk dan ngelempar semua barang ke papa, rumah berantakan." Ara terus bercerita di dalam pelukan Edgar.

Edgar ngerasain dingin lepek di sekitar bahu dan punggungnya. Ya, ingus sama air mata Ara nembus di seragamnya. Edgar berusaha buat nggak peduliin seragamnya, tapi nggak bisa. Dia malah ngernyitin dahinya jijik sambil bertanya-tanya kapan Ara berhenti ceritanya, Edgar dah ke-geleuh-an iyeu teh 😭.

"... papa emosi dan ngelempar mama pake vas bunga. Kepala mama bocor langsung, Gar! Huweeeee!!" Ara memekik kencang, sedih mengingat prahara kedua orang tuanya. "Terus sekarang mama di rumah sakit, kemaren baru siuman. Tapi, kondisi mama belum stabil, Gar. Kak Andrew nyuruh jangan cerita apa-apa ke kamu. Tapi nggak pa-palah, asal kamu diem-diem aja."

"Iya, Ra," balas Edgar berusaha melepas pelukannya sama Ara. Tapi, ingus Ara belum abis. Jadinya, Ara mempertahankan pelukannya sambil menguras ingusnya. "Nanti kalau kamy keceplosan atau ketauan udah tau Kak Andrew di mana sekarang ... bilang aja dapet info dari Mang Baba, ya?"

"Mang Baba siapa?" tanya Edgar bingung.

"Aku juga nggak tau, Gar. Tapi bilang aja kalo tau dari Mang Baba, ya," ucap Ara yang akhirnya melepaskan pelukan Edgar. Edgar mengembuskan napas lega. "Btw, Gar. Aku baru sadar kalo kamu jadi cowok pendek, ya. Aku dipeluk kamu malah pengap, soalnya tinggi kita hampir sama."

Lah! Si anjir, nggak tau diri. Edgar udah menghujat Ara di dalam hatinya. Udah ditenangin, ngatain lagi. Edgar cuma bisa ngelus tetenya pelan—dada maksudnya.

"Lah, terus kenapa Kak Andrew nggak mau aku tau, Ra?"

"Nggak tau deh." Ara menggidikkan bahunya tak acuh. "Udah ya, aku mau baca manga yaoi kesukaan aku dulu. Dadah Kim Hyesung real life-ku."

Lah, ini beneran Ara yang dari tadi nangis sambil ngelap ingus di seragamnya? Kok cepet banget happy-nya?

Edgar gagal paham dan berjalan pelan hendak menuju kantin. Tapi nggak jadi, bel masuk udah keburu bunyi.

Edgar memaki pelan, menyalahkan Ara yang lama meweknya. Ara lagi yang disalahin:((






Bersambung—

Gaya menulis q jadi aneh karena lama ga apdet:") btw, maap gabisa bikin chap yg panjang, jempolku masi linu2 gampang kebas kesemutan klo ngetik lama2:((

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang