23

8.9K 967 275

Edgar panik sekaligus malu pas dikasih tau kalo dia baru aja mimpi basah di mobil milik Andrew. Gimana kalo Andrew ilfeel dan ninggalin dia? Gimana kalo Andrew ngira dia mesum dan mutusin dia? Gimana kalo ... ah, semakin Edgar berpikir, semakin banyak persepsi yang bermunculan di otaknya, dan Edgar pening memikirkan hal itu.

"Kamu kenapa, sih, Gar? Kok Mama perhatiin dari tadi kayak setrikaan gitu? Mondar-mandir nggak jelas, muter terus kayak gasing!"

"Ma ... menurut Mama, kalo kita ... mimpibasahpaskencan gimana?" tanya Edgar. Suaranya berubah menjadi pelan dan cepat di kalimat ... ah, nggak usah diperjelas.

"Hah?"

"Itu ... ish! Masa nggak denger, sih?"

"Lah?" Mama Edgar menatap Edgar dengan heran. "Kamu tuh yang ngomongnya nggak jelas. Pelan-pelan dong ngomongnya!"

"Kalo kita mimpi basah pas kencan gimana?"

"Heh?"

Mama Edgar menatap wajah Edgar bingung. Atmosfer berubah menjadi mencekam. Keadaan hening seketika.

"... Ma?"

"Jangan bilang kamu mimpi basah pas lagi kencan?"

"...."

"Kamu mimpi itu pas lagi sama Andrew?" tanya Mama Edgar lagi. Mendesak Edgar yang hanya terdiam membisu.

"Gar, kamu ..." Edgar masih tetap diam mendengar panggilan mamanya, "MALU-MALUIN IH! MINTA MAAF SAMA ANDREW SANA! IH, JIJIKIN BANGET, SIH!" Mama Edgar mulai bertindak membabi buta. Mama Edgar terlihat menguyel-nguyel kepala Edgar gemas.

"HUWAAA! STOP, MA! UDAAAAH!"

"Malu-maluin! Mimpi basah nggak tau tempat! Itu anu lama-lama Mama gembok nanti biar nggak bisa terbang lagi!"

"Siapa juga yang anu-nya terbang!?" teriak Edgar nggak terima.

"Ish!" Mama Edgar berdesis greget sama Edgar, "Minta maaf sana sama Andrew! Kalo enggak ... nggak bakal Mama akuin anak kamu!"

"Dih! Sebenernya anak Mama tuh aku apa Kak Andrew, sih!? Kok aku dianiaya gini!?"

"Bawel, ih! Udah, kamu sekarang minta maaf sama Andrew, sana!"

"Udah," jawab Edgar ogah-ogahan.

"Kapan?"

"Semalem."

"Udah ngasih dia bonus belum?"

"Bonus apa?"

"Bonus cium kek, bikin anak kek, pel--"

"NGAWUR!" jerit Edgar. "Udah, ah! Mending aku jajan aja, beli es krim yang banyak biar pikiran adem!"

"Ademin tuh tytyd kamu, biar nggak panas di sembarang tempat lagi!"

"MAMA!"

-

Andrew berjalan santai dengan setelan kerjanya yang rapi. Bajunya terlihat formal, sangat cocok untuk dirinya yang terlihat semakin tampan memakai pakaian itu.

"Ndrew ...." Langkah Andrew terhenti saat mendengar panggilan mamanya.

Andrew menoleh pelan, "Kenapa, Ma?"

"Kamu jadian sama Edgar?"

Andrew menelan ludahnya susah payah, bibirnya kelu untuk sekadar menjawab pertanyaan itu. "Mama tau dari mana?"

"Kamu nggak perlu tau Mama tau dari mana," ujar Mama Andrew sambil menegakkan dagunya angkuh. "Mama tanya sekali lagi. Kamu pacaran sama Edgar?"

Andrew mengembuskan napasnya. Mencoba untuk santai menjawab hal itu, "Kalo iya kenapa?"

"Kamu nggak ada kapoknya ya, Andrew? Kamu nggak belajar dari pengalaman kamu sama Axel!"

"Mama tau? Aku udah belajar cukup banyak dari pengalaman Axel! Aku belajar ... kalo aku harus berusaha buat ngelindungin Edgar, bukannya cuma diem waktu dikasih peringatan sama Mama kayak Axel dulu! Aku--"

"ANDREW!" pekik Mama Andrew dengan emosi menggebu. Mama Andrew terlihat murka mendengar jawaban Andrew yang terlihat sama keras kepalanya mempertahankan segala argumentasi dengan dirinya. "Kamu udah berani ya sama Mama?" lanjut Mama Andrew sambil menangis pelan.

"Kamu tega! Kamu sama aja sama Papa kamu! Kalian sama bajingannya! Kamu--"

"Udah, Ma!" Andrew berteriak lantang. Terpaksa membentak mamanya yang seketika terdiam, terkejut dengan teriakannya. "Aku mau kerja ... tolong, untuk sementara ini jangan ganggu aku dulu," ujar Andrew sambil berjalan pelan menaiki mobilnya. Meninggalkan mamanya yang terus menangis sambil meneriaki namanya.

-

Andrew letih, hampir seharian ini jadwalnya penuh. Waktu sudah hampir memasuki jam makan siang, tapi rapatnya dengan beberapa kolega tak kunjung selesai, tak kunjung mendapati titik temu dalam kendala membangun sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya.

Saat memperhatikan presentasi dari pemimpin rapat, tiba-tiba ponselnya bergetar pelan. Andrew tak ada niat mengangkat, tapi jujur, Andrew penasaran tentang siapa yang meneleponnya berkali-kali seperti ini? Andrew mengintip ponselnya dengan hati-hati.

'Incoming call from Edgar.'

Andrew membatin heran, tumben-tumbenan Edgar meneleponnya seperti ini. Biasanya kan Edgar cuma nge-chat aja di LINE, atau paling banter ya video call.

"Maaf," sela Andrew menginterupsi rapat, "saya izin ke toilet sebentar." Andrew pun berjalan keluar dari ruang rapat dan menelepon balik Edgar.

"Halo, Gar," sapa Andrew mengawali pembicaraan.

"Maaf, saya Tara ... ini Mas Edgar tadi pingsan karena keserempet motor di jalan. Tadi saya telepon ibunya, katanya lagi di luar kota. Katanya juga, saya disuruh nelepon Mas Andrew. Saya--"

"Edgar sekarang di mana?" potong Andrew cemas. Pikirannya kalut.

"Di rumah sakit Mitra Keluarga, Mas—"

--Tut ....

Panggilan di putuskan secara sepihak oleh Andrew. Andrew langsung berlari keluar gedung tempatnya melaksanakan rapat tanpa berpamitan kepada kolega-koleganya yang lain. Pikiran Andrew hanya satu ... kondisi Edgar yang terdengar parah di telinganya.

-

"Edgar!" teriak Andrew saat memasuki kamar di mana Edgar dirawat.

"Lho? Kak Andrew?"

"Gimana keadaan kamu?" Andrew mengecek tubuh Edgar. Dibolak-balikkannya tubuh Edgar depan belakang. Berusaha menemukan titik luka terparah. "Mana yang luka?"

"Nggak ada, kok! Aku baik-baik aja," jawab Edgar santai, "kata dokter aku cuma shock aja. Yang lecet juga cuma siku. Aku jatohnya duduk, kok, terus pingsan. Hehe." Edgar cengengesan, nggak tahu kalau Andrew udah kelimpungan nggak jelas tadi, bahkan tadi Andrew ngebut untuk sampai ke sini tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Jadi, Edgar pingsannya pas udah jatuh? Kok drama ....

"Terus pantat kamu gimana?"

"Agak sakit dikit--Uh ...." Edgar mendadak melenguh dan terpaksa menghentikan kalimatnya saat ...

"KAKAK NGAPAIN NGE-GREPE PANTAT AKU!?"

... saat Andrew merengkuh tubuhnya dan meremas pantatnya pelan. Dan bodohnya lagi, ia malah melenguh keenakan!

Cklek.

Pintu ruangan terbuka pelan. Seorang perempuan muda langsung menatap speechless adegan yang terpampang di depannya.

Adegan seorang lelaki memeluk serta meremas pantat lelaki yang lain.

"Maaf, Tara ngeganggu, ya?"

"HUWAA!!" Edgar menjerit panik dan mendorong Andrew kencang sehingga pelukan mereka terlepas. "T-Tara, ini nggak seperti yang kamu lihat, jadi ... WEH, TARA! Kamu mimisan!!"

"Sugoii ...."






Bersambung—

*Sugoii = keren.

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang