14

10.1K 1.1K 176

Ara bengong ngeliat tampang Andrew yang senyum-senyum nggak jelas sedari tadi sore setelah pulang dari 'urusan' yang nggak Ara tahu urusan apa. Ara kira Andrew senyum-senyumnya cuma beberapa saat doang, tapi nyatanya? Enggak! Andrew sudah pulang dari tiga jam yang lalu, dan sampai sekarang Andrew masih aja cengar-cengir nggak jelas. Ara merinding disko jadinya.

"... Kak?" Ara memanggil kakaknya dengan cicitan pelan, takut-takut Andrew akan menyemprotnya seperti kemarin dan berakhir mereka akan berantem, diem-dieman sama Andrew itu nggak enak! Jangankan ngobrol, ada negur aja enggak.

"Iyaaa?"

Dan nyatanya alasan takut Ara tidak terbukti benar. Justru sekarang Andrew menyahuti panggilannya dengan senang hati, bahkan Andrew menggunakan nada panjang dengan riang sebagai balasan panggilan Ara.

Akhir-akhir ini memang Andrew sulit diprediksi. Kadang senang, kadang galau, kadang riang, kadang galak. Kayak moody-an. Ara jadi pusing lihatnya.

"Kakak kenapa?"

Andrew mengerutkan dahinya bingung, namun tak lama senyumnya kembali terbit. Bukannya kesan tampan yang didapat Ara. Ara malah semakin horor dibuatnya. "Nggak kenapa-napa kok. Kakak baik-baik aja."

"Cuma jantung Kakak aja yang lagi aneh ...." Andrew menggantungkan kalimat ini.

"Jantung Kakak kenapa?"

"Deg-degan. Hehe." Andrew memegang dadanya tepat di jantung sambil tersenyum seperti orang idiot.

Ara membulatkan matanya dan menghampiri kakaknya yang duduk di sofa seberang, "Hah? Deg-degan? Kakak sakit jantung?" Ara menempelkan telinganya di dada Andrew.

Deg-deg-deg.

Ara merasakan betapa cepat intensitas detakan jantung Andrew. Dan kecepatan detakan itu nggak normal! Ara panik, alarm tanda bahaya dalam otaknya langsung berbunyi. "AYO, KITA KE RUMAH SAKIT, KAK!"

Seketika senyuman Andrew berubah menjadi raut kebingungan, "Ngapain ke rumah sakit?"

"KAKAK ADA PENYAKIT JANTUNG! GIMANA KALO KAKAK PENYAKITNYA PARAH?! JANGAN MATI DULU, KAK!"

"Heh! Ngawur kamu, Dek! Kakak nggak sakit jantung, tau!"

"Terus?"

"Kakak lagi sakit karena ...."

"Karena?"

"Jatuh ...."

"Hah? Kok jatuh doang larinya ke jantung?"

Andrew kembali tersenyum, wajahnya menerawang seolah sedang membayangkan sesuatu. "Kakak jatuh cinta ...."

"Hah?"

"... Sama Edgar."

"Sinting!"

Seketika itu pula Andrew harus merelakan wajah tampannya dilempari bantalan-bantalan sofa secara membabi-buta dari Ara.

-

Edgar guling-gulingan nggak jelas di atas tempat tidurnya, menggelinjang tak menentu, bergerak tak terarah. Edgar lagi gabut. Biasanya kalau Edgar gabut, Edgar hanya akan diam, melamun di meja belajarnya, mengkhayalkan ia sedang berkencan dengan Selena Gomez atau Ariana Grande.

Namun, kali ini acara penggabutannya justru menjadi mimpi buruk baginya. Alih-alih mengkhayal berkencan dengan artis cantik nan seksi, ia justru mengingat-ngingat kejadian-kejadian manis dengan Andrew.

Hah? Manis katanya?

Edgar menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran-pikiran nggak jelas yang timbul di otaknya. Duh, Edgar jadi semakin pemikir sekarang.

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang