22

7.7K 995 145

"Kak," panggil Edgar sambil menoleh ke arah Andrew yang sedang fokus menyetir mobilnya.

"Hm?" Andrew bergumam pelan menanggapi panggilan Edgar, "Kenapa, Gar?" tanya Andrew saat melihat Edgar hanya diam tak meneruskan ucapannya.

"Um ...." Edgar nampak berpikir. Kentara sekali bahwa Edgar sangat ragu dengan ucapan yang ingin dikeluarkannya saat ini. "Itu ... apa mamanya Kakak nggak pa-pa kalo kita anu ... itu ...."

"Pacaran?" sela Andrew saat Edgar terlihat gugup untuk mengucapkan kata sakral tersebut. Edgar masih malu-malu, nggak percaya aja gitu, Edgar bisa jadian sama Andrew yang galak macam anjing herder kayak itu.

"Eh, iya! Pacaran!" refleks Edgar membetulkan. "Apa mama Kakak nggak pa-pa kalo kita pacaran? Secara ... kita kan sesama cowok ...." Edgar mengucapkan kalimat akhirnya dengan lirih. Entah kenapa perasaan Edgar nggak enak waktu mulai ngebahas orang tua Andrew. Gimana, ya? Mama Andrew memang baik waktu itu, tapi ... tetep aja kan, nggak semua orangtua bisa nerima kebelokan anaknya. Edgar takut mamanya Andrew sama kayak mertua-mertua di drama Indos*iar yang suka mendzolimi menantunya. Tapi, kan Edgar bukan menantunya. Edgar tuh pacar Andrew, bukan istri Andrew. Jadi nggak bakal didzolimi, 'kan?

Andrew terdiam lama dan mulai menjawab, "Gue ... nggak tahu apa mama gue bakal nerima apa enggak, Gar. Tapi, gue bakal usahain buat bikin mama gue nerima kita."

"Tapi kan nggak boleh maksa orang tua, Kak!"

"Lah? Siapa yang maksa?"

"Tadi katanya mau usahain buat bikin mama Kakak nerima kita?"

"Ya, bukan berarti maksa, Edgar ...." Andrew menjawab pasrah. Susah memang ngomong sama Edgar, tuh. Wajib punya kesabaran ekstra pokoknya.

"Terus?"

"Ya, enggak terus-terus," jawab Andrew seadanya, frustrasi ngomong sama Edgar yang polos nyerempet begonya ini nggak ketulungan.

"Oh, oke," final Edgar dan akhirnya Edgar diem. Tiba-tiba suasana sunyi.

Aneh dengan keheningan yang menyapa mobilnya, Andrew pun menoleh. Kepo ingin tahu ke mana suara Edgar yang berisik tiba-tiba menghilang dan menjadikan mobilnya seketika menjadi hening.

Andrew menggelengkan kepalanya saat melihat Edgar tertidur nyaman, lengkap dengan mulut menganga dan dengkuran napas halusnya. Mungkin Edgar lelah sehabis dari taman bermain tadi. Ya, gimana nggak lelah kalau Edgar aja hyper gitu selama di sana.

"Uh," Edgar melenguh pelan sambil bergerak gelisah, "ahh ...."

Andrew menajamkan pendengarannya dengan pandangan yang masih berkonsentrasi ke arah jalanan yang cukup padat walaupun sudah hampir tengah malam seperti ini. Maklum ... malam Minggu.

"Ugh ... jangan isap ...."

ASTAGA! EDGAR TUH MIMPI APA, WOY!?

Andrew langsung menoleh panik. Dan mata Andrew langsung terpaku sama celana Edgar yang rada menggembung. Kalian tahu satu hal?

Edgar mimpi basah.

Monmaap, nih rada frontal.

Andrew menatap Edgar dengan pandangan enggak percaya. Demi apa Edgar mimpi basah di waktu kencan kayak gini?!

"Ngh ... terushh ...," racau Edgar dalam mimpinya sambil terus bergerak gelisah. Wajah Edgar memerah, keringatnya bercucuran, desahannya semakin keras. Andrew langsung menepikan mobilnya ke rest area terdekat.

Andrew kebingungan. Ngeliat Edgar kayak gini ... entah kenapa ngebuat Andrew merinding dan perlahan ... ANU ANDREW JUGA MULAI NGANU!

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang