Sequel

4.2K 538 163

"Edgar, tolong ke ruangan saya."

Edgar udah deg-degan setengah mati waktu tiba-tiba telepon kantor yang ada di meja kerjanya bunyi dan ternyata yang nelepon Edgar si Andrew dong (╯﹏╰)

Mantannya yang sekarang jadi atasannya. Mau menghindar, tapi nggak bisa. Mau mengundurkan diri, tapi kerjaannya bagus.

YA IYALAH BAGUS, GAR! Orang yang punya aja mau ngajakin nikah pas awal ketemu lagi, jelas aja dirayunya pake kerjaan bagus:(

Enggak mau ngebuang-buang waktu, Edgar langsung jalan gontai memasuki lift. Naik ke lantai empat belas, tempat Andrew berada. Di dalam lift Edgar mikir kalau udah seminggu dia kerja di sini, tapi Andrew makin agresif aja. Padahal divisi dia enggak perlu langsung ke CEO-nya itu, tapi tetep aja dia harus selalu berurusan sama sang CEO bertitel mantan. Mau mewek aja Edgar rasanya, huhuhu.

Tok! Tok!

Edgar mengetuk pintu ruangan Andrew pelan selama beberapa kali sampai ada sahutan dari Andrew yang nyuruh dia masuk.

Edgar pun masuk dengan canggung, padahal waktu seminggu di sini, dia udah dipanggil Andrew selama dua belas kali—tiga belas sama hari ini.

"Ada apa ya, Pak?"

Andrew berdecak, "Udah dibilang panggil 'Kak' aja!"

Ya maap, Edgar kan kudu formal sama atasan. Entar kalau terlalu santai, bisa-bisa Edgar dipecat—meskipun Edgar yakin dia nggak bakal dipecat sama Andrew cuma gara-gara nggak sopan.

"Iya, terus ngapain Kak Andrew manggil aku ke sini?"

"Tolong bikinin kopi dong. Dua sama kamu, jadi kita ngopi bareng. Ehehehe." Andrew cengengesan, persis kayak om-om mesum yang lagi ngincer korbannya. Sedangkan Edgar yang ditatap gitu cuma mengerutkan dahinya jijik. Tapi, ia tak melawan dan akhirnya justru jalan ke pantry yang ada di ruangan Andrew.

Saat sedang membuat kopi, Edgar cemberut. Dia mikir dong kenapa dia kerja di situ malah lebih sering ngurusin bos besarnya ketimbang ngurusin kerjaannya yang seharusnya. Ia disuruh bikin kopi lah, ambilin makan. Perasaan dia engga daftar jadi asisten pribadi An—

"Gar," Edgar tersentak, nyaris aja nyiram kopinya ke oknum yang datang tiba-tiba sambil meluk perutnya manja. "Ngelamun?"

Badan Edgar kaku, mau noleh ke kanan takut kecium sama kakaknya Ara itu, mau noleh ke kiri mau ngadepin apa coba? Orang kepalanya si Andrew juga di bahu kanannya.

"M-maaf, Kak. Bisa tolong lepasin?" Edgar canggung banget demi apa, mana dia keringetan banyak gara-gara suara napas Andrew yang mampir ke telinganya.

"Tau nggak sih, Gar? Kok aku nginget ini, ya? Dulu tiap kali aku mampir ke rumah kamu, kamu selalu aja yang bikinin minum bareng mama kamu." Andrew terkikik pelan di sampingnya, ngebuat Edgar langsung merinding.

Bukan, bukan karena Andrew yang ngikik kayak kuntilanak. Tapi, Andrew ketawanya di perpotongan leher Edgar. Kan ena jadinya—maksudnya risih. Risih ya, geli-geli gitu lho.

Tawa pelan Andrew langsung berhenti—DAN SEKARANG MALAH NGENDUS-NGENDUS LEHER EDGAR DONG! Itu kepalanya udah ndusel-ndusel ke dalam kerah Edgar.

BAHAYA!

Alarm di diri Edgar otomatis memperingatkan. Ia langsung membalikkan badannya, melepas pelukan Andrew dan natap Andrew horor.

"Kakak ngapain?!" Edgar nanya dengan panik. Kacamatanya yang melorot ke pangkal hidung, segera ia benarkan dengan tangan bergetar gugup.

"Lho? Emang aku ngapain?" tanya Andrew balik, melihati Edgar dengan tatapan polosnya. Oke, sok polos—sejak kapan Andrew polos beneran?

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang