28

5.7K 724 48

"Ma, Kak Andrew gimana nasibnya, Ma~?" Edgar merengek ke arah mamanya yang sibuk menyiapkan minuman untuk Andrew dan papanya Edgar.

"Nasib ... nggak ada yang tau, Gar." Mama Edgar menjawab dengan masa bodoh, memberi jawaban tanpa kepastian.

"Dih, Mama." Edgar melengos dan berjalan hendak keluar dapur.

"EH, TUNGGU!" pekik mama Edgar dengan tiba-tiba, menghentikan niat Edgar untuk menghampiri Papanya dan Andrew yang entah sedang apa di ruang tamu. "Mau ke mana kamu? Mamanya masih repot gini, bukannya bantuin malah mau pergi!" omel Mama enggak terima disuruh kerja sendiri.

Mentang-mentang satu-satunya perempuan di rumah ini, jadi mamanya yang harus repot sendiri.

Edgar mengembuskan napasnya pasrah, "Mau dibantu apa, Ma?"

"Nggak usah, cukup temenin Mama masak aja, udah hampir waktu makan siang soalnya," kata mama Edgar. Edgar yang mendengar jawaban mamanya hanya mengerutkan keningnya bingung.

"Kan sekarang masih jam sembilan, Ma?"

"Ha? Eh? Hahahahaha," Tiba-tiba mama Edgar tertawa kikuk, "masa kamu lupa? Papa kan mau ulang tahun! Hahahahaha," ujar mama sambil lanjut tertawa, tangannya mengibas-ngibas aneh.

"Ma ... Papa ulang tahunnya lusa, bukan besok, Ma."

Hening.

"P-pokoknya kamu bantuin Mama masak! Kata papa, dia nggak boleh diganggu buat ngerjain Andrew!" ungkap Mama Edgar keceplosan.

Hening lagi.

"E-eh?" Mama menutup mulutnya kaget akan keemberannya sendiri. "Gini—eh, Edgar! Tunggu! Kamu mau ke mana?! Edgar!!" Ucapan mama berubah menjadi teriakan saat melihat Edgar lari, ingin melihat Andrew yang katanya lagi 'dikerjain' papanya.

Masalahnya selain galak, papanya ini juga jailnya kebangetan, kadang ngeganggunya bakal kayak setan. He, keterlaluan emang Edgar tuh kalo ngatain orang tua sendiri. Jangan ditiru!

-

Edgar bengong.

Sekaligus bingung sama apa yang dilihatnya sekarang. Kalian tahu kenapa?

Andrew lagi disuruh papanya buat sit up sambil sikap lilin. Andrew yang ngejalanin, malah Edgar yang kecapekan lihatnya. Kelihatan berat banget gitu lho. Pantat Andrew nempel di tembok rumahnya, tangannya di leher bagian belakang, dan badan bagian atasnya naik turun cepat saat papa menghitung dengan cepat, kemudian melambat kalau papanya menghitung dengan lambat.

Edgar cuma bisa memeras dada—maksudnya mengelus dadanya pelan, heran kok bisa punya papa sadisnya kebangetan.

Terlihat urat di pelipis Andrew timbul, keringatnya pun bercucuran. "Ayo, yang semangat dong, Ndrew! Gitu katanya mau nusuk Edgar, nusuk doang tapi nggak bisa ngelindungin ya buat apa?"

"Papa!" Edgar menyahut dengan keras. Ini nggak Andrew, nggak mamanya, nggak papanya, selalu aja ngomongin hal-hal frontal yang mencemari nama dirinya. Emosi Edgar tuh.

"Kamu kan Papa suruh bantu-bantu mama, kok malah ke sini?" tanya papa Edgar dengan raut kesal karena acara 'senang-senangnya' diganggu Edgar. "He, siapa suruh kamu berhenti! Kembali ke tiga puluh!" Papa Edgar berujar dengan enggak kalem. Ini kok pada nge-gas gini sih satu keluarga? Ya sudah, maklumi saja.

"Pa, udah deh! Liat, Kak Andrew udah keringetan gitu. Kasian, Pa," ucap Edgar, menatap Andrew dengan iba seraya mendekati Andrew dan papanya.

"Yayaya," Papa Edgar memutar bola matanya malas, "Udah, berhenti kamu. Berdiri!" titah papa Edgar pada Andrew.

Andrew yang disuruh berhenti langsung bersemangat untuk berdiri. Saking semangatnya, perut bagian dalamnya sampai sakit seperti ditarik. Mungkin ususnya berubah lurus atau gimana, Andrew enggak tahu. Pokoknya sakit aja, sampai-sampai Andrew meringis kesakitan.

"Lah, Kak? Kenapa?" tanya Edgar khawatir. Papa yang melihatnya justru memasang tampang datar dan menyindir, "Dasar drama! Dikira FTV apa, ya?"

Maklumin lagi, papanya Edgar tuh kadang suka nyinyir.

"Nggak pa-pa, kok. Perutku cuma kaget aja." Andrew membalas pertanyaan Edgar seraya menggusah rambut Edgar pelan.

"Heh! Siapa suruh kamu megang-megang rambut anak saya? Lepas!" Andrew yang dibentak gitu cuma bisa cepat-cepat menarik tangannya dari kepala Edgar, enggan untuk diomeli lagi.

Andrew tuh setrong.

Mungkin saja ini karma untuk Andrew yang dulu galaknya setengah mati sama Edgar pas Edgar masih ngegebet Adiknya Ara. Poor Andrew.

-

"Kak? Um ... mau makan apa?" tanya Edgar yang duduk di sebelah Andrew. Di hadapan Edgar ada papanya yang menatap tajam Andrew, sehingga Andrew sedikit getir untuk sekadar menjawab.

"Apa aja," kata Andrew pelan.

"Kamu jangan kayak perempuan dong! Apa aja! Terserah! Laki-laki tuh kalo ngomong harus jelas!" cecar papa Edgar ngeselin kayak Andrew dulu.

"Udah, Pa. Udah mau makan, jangan diomelin." Mama menengahi dengan bijak. "Kamu mau makan apa, Ndrew? Biar diambilin Edgar. Itung-itung latihan buat jadi istri yang baik."

"MAMA!" pekik Edgar dan papanya tak terima atas ucapan mamanya barusan.

"Lho, kenapa? Kan bener si Edgar yang bakalan jadi istri Andrew. Kalo Andrew jadi istri Edgar ya serem, atuhlah." Hm ... bener juga. Membayangkan Andrew yang melayani Edgar bakalan serem buat dibayangin. Andrew diam-diam bergidik ngeri.

"Mama ini ngaco aja! Masa Edgar jadi istri dia!" Papa menunjuk Andrew, berusaha untuk mendiskriminasi.

"Ya, kenapa emangnya? Toh, Andrew ganteng, mapan, tajir melintir gitu lho! Punyanya juga gede, tau! Kemaren mama ngintip dong lewat lubang kunci kamar Edgar. Hehehe." Mama Edgar terkikik sendiri tanpa menyadari atmosfer yang kian memanas.

Andrew batuk di tempat, Edgar memasang wajah menahan tangis karena terlalu emosi akan mamanya.

Dan papa Edgar ....

"Jadi, Edgar udah jebol?"

"E-enggak!" sangkal Edgar dengan mukanya yang memerah, matanya berkaca-kaca, "Aku cuma cium-cium sama jilat aja, nggak sampai ditusuk kok! Suer!"

Sekali lagi Andrew batuk di tempat, sedangkan Papa Edgar hanya mengurut pangkal hidungnya yang mendadak nyut-nyutan akan ucapan istri dan anaknya yang polosnya berlebihan.

Rasanya ... Papa Edgar mau ganti istri aja—enggak, enggak. Maksudnya ... mau mengganti otak istri dan anaknya aja biar sekali-kali bisa lebih masuk akal.

Andrew dan papa Edgar bertatapan. Yang satu memasang tampang lelah, yang satu memasang senyum tabah. Mereka pasrah dapat pasangan kayak gini yang sedemikian cobaannya. Untung mereka sayang kan? Coba kalau enggak, udah ditinggalin sama yang lebih besar—kapasitas otaknya, bukan tete-nya maupun tytyd-nya.

Astagfirullah, mari nyebut bersama demi mengurangi dosa karena otak kedua seme yang sedang frustrasi sekaligus mesum berjamaah ini.






—Bersambung—

Happy new year! Terima kasih untuk kado 100K+ viewers, 2K+ followers, dan 15K+ vote-nya serta komen-komen kalian yang berharga, membangun, dan gokilnya bener-bener menghibur. Maaf aku nggak bisa balas satu-satu atau ngasih apa-apa. Aku cuma berharap semoga kalian selalu sehat dan selalu diberi kebahagiaan. Aamiin.

Ketjup basah, muah. 💋💋

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang