8

10.1K 1.2K 83

"Ra, kamu malem ini free, nggak?" tanya Edgar sambil mencatat tugas merangkum Bu Erna yang berhalangan masuk hari ini karena sakit. Maklum, orang tua.

"Emangnya kenapa, Gar?" tanya Ara balik tanpa melihat ke arah Edgar. Ya, matanya juga sudah terbagi melihat papan tulis dan bukunya sendiri.

"Malem ini jalan, yuk!" ajak Edgar, "Udah lama kita nggak main bareng."

Halah, omongan doang main. Padahal Edgar kan ada niat terselubung ngajak Ara malam mingguan bareng. Ya, walaupun Edgar tau kalo Ara udah balikan sama mantannya, tapi nggak pa-palah tetap berusaha, ya 'kan?

"Um ...." Ara menoleh ke arah Edgar dengan tampang canggungnya, "Maaf ya, Gar. Kayaknya aku nggak bisa, deh. Aku udah ada janji sama temen aku."

"Maksudnya sama pacar kamu?"

"Eh?" Tiba-tiba Ara terlihat terkejut dengan jawaban Edgar barusan. Ya iyalah kaget, kan jawaban Edgar tepat sasaran!

"Ya udah nggak papa, santai aja kali, Ra." Halah, gaya kamu, Gar! Santai apanya? Bukannya dalem hati kamu udah ngasih ribuan sumpah serapah buat pacar Ara, ya?

-

Tok! Tok!

"Gar, bukain pintu, tuh!"

"Ah, Mama. Mager, nih!"

"Mager! Mager! Siapa juga yang masang pager!"

"Lah, kok jadi pager?"

"Kan kamu dari tadi ngomong pager."

"Mager, Ma. Bukan pager!"

"Bedanya mager sama pager apa?"

"Hm?"

"?"

Sekarang, semuanya tau 'kan darimana sifat bolot serta oon Edgar berasal?

"Mager itu apa?"

"Apa ya? Nggak tau, temen-temen Edgar suka ngomong gitu kalo lagi males._."

Tok! Tok!

"Jadi mager itu males?"

"Iya, kali!"

"Tapi, kok istilahnya nggak keren gitu? Masa pager dibawa-bawa."

"Mager, bukan pag—"

Dok! Dok! Dok!

"Eh! Itu bukain pintunya!" Edgar mengangguk pasrah dan berjalan ke depan ruang tamu.

Edgar keasikan debat sama mamanya jadi nganggurin tamu yang dateng. Dasar!

"Lho? Kak Andrew ngapain ke sini?"

"Nggak boleh?"

"Boleh, kok! Cuma Kakak tau dari mana rumah aku?"

"Lo nggak mau nyuruh gue masuk?"

"Ya udah, yuk masuk!"

"Gak usah!"

Serah Kak, serah!

"Lah, terus Kakak ada apa ke sini?"

"Mau ketemu lo." Unch, so sweet amat sih seme tsundere kita.

"Kok ketemu aku? Ada perlu apa emangnya, Kak?"

"Tadi kata Ara, lo mau ngajak Ara jalan," ucap Andrew, "Tapi, Ara udah terlanjur janjian 'kan sama Reno?"

"Lho? Kakak tau dari mana?"

"'Kan tadi gue bilang dari Ara, Edgar! Sebel gue lama-lama sama lo!"

"Oh iya, hehe ...."

"Cengengesan mulu lo!" ketus Andrew, "Ayo, ikut gue!"

"K-ke mana, Kak?"

"Katanya mau jalan!"

"Lho? Siapa yang mau—hmmph!"

"Nanya mulu lo!" Sebelum Edgar sempat menyelesaikan kata-katanya, Andrew langsung menyela sambil membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya. "Jadi pergi, nggak?"

Dan sebagai jawaban Edgar hanya membalasnya dengan anggukan. Ya iyalah! Kan mulutnya ditutup sama tangan Andrew!

-

"Mau ke mana?"

"Enaknya ke mana, ya?" Bukannya menjawab, Edgar malah bertanya balik pada Andrew.

"Lo kalo seandainya jalan sama Ara, kira-kira mau lo ajak ke mana?"

"Ke mana ya?"

"Lo mau ngajak Ara ketempat yang nggak bener, ya!? Ngaku!?"

"YA ENGGAKLAH!"

"Iya apa enggak!?"

"ENGGAK IH!" Andrew tertawa keras dalam hati.

Ah, kalo diliat-liat Edgar lucu juga, ya, batin Andrew.

HAH!? KOK LUCU!?

-

Setelah muter-muter nggak jelas dan sesekali ngobrol asyik, akhirnya Edgar dan Andrew memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah taman hiburan yang cukup terkenal di sini.

Dan di sinilah mereka. Cuma bisa meratapi melihat pasangan muda-mudi yang saling bergandengan dan berangkulan mesra. Maklum, malem minggu pasti tempat ini ramai pengunjung yang sibuk pacaran, mengumbar kemesraan mereka.

Ah, Edgar jadi nggak nyaman pergi berdua sama Andrew yang notabenenya juga cowok kayak dia. Entar disangka pacaran, lagi!

Lah, kok Edgar mikirnya kejauhan gitu?

Edgar segera menggelengkan kepalanya keras, menepis segala pikiran nista yang dari tadi sudah bersarang di kepalanya.

"Ngapain lo? Pusing?"

"Nggak, ih! Aku normal!" ujar Edgar ketus sambil berjalan meninggalkan Andrew yang kebingungan di belakangnya.

Lah! Kok nggak nyambung gitu, Gar?

Edgar kenapa?






Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang