4

11.1K 1.4K 60

"Ngg ... Ra?"

"Iya? Kenapa, Gar?" tanya Ara menyahuti panggilan Edgar.

"Anu ... aku mau beli buku buat karya tulis ilmiah, tapi aku nggak tau judul bukunya apa," ucap Edgar ke Ara. "Kamu mau nggak nemenin aku ke toko buku?"

Tapi serius, ini beneran mau beli buku kok, nggak ada niat terselubung sama sekali!

Eh ada ding, dikit.

"Wah, boleh kok! Ayo! Kapan?" tanya Ara antusias. Edgar bersyukur gadis yang saat ini ia sukai adalah gadis sebaik dan seceria Ara.

"Um ...," Edgar nampak berpikir sejenak, "kalo nanti sore gimana?"

"Oke, ntar sore aku free, kok!"

"Nanti aku kabari di Line ya."

"Siip!"

-

Edgar sudah rapi dan mobilnya pun sudah terparkir apik di halaman rumah Ara.

Edgar nggak ada niatan turun dari mobil sih, chat Ara aja, biar Ara yang langsung nyamper, pikirnya dalam hati.

EdgarA : Ra? Udh siap? Aku dah di depan nih. —read.

Edgar mengetuk-etukkan jarinya di setir mobilnya sembari menunggu balasan Ara.

Sudah 10 menit ia menunggu balasan dari Ara, tapi dari tadi ponselnya tak bergeming sama sekali. Padahal kuotanya masih ada, jaringan pun penuh. Tidak ada yang salah sama sekali mengenai ponselnya, hanya Ara saja yang tidak membalas pesannya.

EdgarA : Ra?

Lima menit menunggu namun balasan pun tak kunjung datang. Bahkan pesannya yang kedua tidak dibaca sama sekali. Memangnya ada apa dengan Ara?

Karena sudah tidak sabar lagi, terpaksa Edgar turun dari mobilnya dan mengunjungi rumah Ara secara langsung.

Tok! Tok! Tok!

Ketuk Edgar pelan ke arah pintu kayu kokoh rumah Ara.

Dan entah kebetulan atau takdir, lagi-lagi yang membukakannya pintu adalah Andrew. Diam-diam Edgar mengumpat dalam hati melihat wajah Andrew yang terlihat sangat galak menatapnya.

"Apa!?" bentak Andrew ketus. Ucapkan selamat tinggal pada sapaan semanis madu dan senyuman seramah Kate Middleton.

"Ng ... Ara-nya ada, Kak?"

"Nggak ada!"

"Eh? Tapi ...."

"Ara beneran nggak ada, Edgar," jelas Andrew, kali ini lebih lembut menjawab pertanyaan Edgar.

"K-ke mana, Kak?"

"Nggak tau," balas Andrew sambil mengedikkan bahunya, "Tapi tadi dia pergi sama mantan kesayangannya yang dulu."

"Eh?"

"Iya, mantannya udah balik dari luar negeri," papar Andrew lagi, seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Edgar.

"Eh?"

"Iya! Lo nggak bakal ada harapan lagi, mantannya udah dateng. Mereka pasti bakal balikan lagi dan lo—"

"Hiks ...."

"—EH ANJIR, LO KOK NANGIS!?"

-

"Udah elah. Lo jadi cowok cengeng banget sumpah!" cecar Andrew, namun ia tetap menenangkan Edgar dengan cara mengelus punggung kecil Edgar.

"Ta-tapi kan ...."

"Udah nggak usah mewek," kata Andrew sambil menghapus air mata sekaligus ingus di wajah Edgar dengan kaus lengan panjangnya.

Dasar jorok!

"Yaudahlah, Kak. Aku pulang aja. Salam buat Ara ya, Kak!"

"Anjir! Pulang ya pulang aja! Tapi jangan meper ingus di baju gue juga!"

Edgar tertawa lemah, "Sekalian ngotorinlah, Kak!"

"Eh, tunggu." Seperti di drama-drama FTV Indonesia, Andrew menahan lengan Edgar yang hendak berdiri dari duduknya. "Lo emangnya mau ngajak Ara ke mana?"

"Tadinya sih mau ngajak ke toko buku. Aku nggak tau judul buku yang cocok buat karya tulis ilmiah. Tapi, karena Ara nggak ada ya ... nggak ja—"

"Ayo, pergi sama gue."

"Hah!?"

-

"Buset," Andrew menggelengkan kepalanya pelan, "lo mau milih buku apa ngeborong buku?"

"Ya milihlah, Kak."

"Gini ya, kalo lo milih buku, berarti yang lo ambil cuma sebatas satu-dua buku doang. Nah ini, belom juga setengah jam udah setumpuk aja itu buku," terang Andrew sambil melihat-lihat sinopsis tumpukan buku yang dipilih oleh Edgar.

Edgar menggaruk belakang telinganya yang mendadak gatal, "Abisnya aku bingung sih, Kak. Cara jitu karya ilmiahnya beda-beda. Jadi, aku beli semua deh."

Andrew berdecak pelan sambil mengembalikan beberapa buku yang rata-rata judulnya sama, tak jauh-jauh dari kata 'Cara jitu membuat karya tulis ilmiah.'

"Lho, lho! Kok dibalikin sih, Kak? Aku udah capek tau baca-baca sinopsisnya satu-satu, malah dibalikin!" ketus Edgar sambil memajukan bibirnya ke depan. Melihat hal tersebut membuat Andrew gemas dan langsung mencapit kedua belah bibir Edgar dengan tangannya. Tak tinggal diam, Edgar pun memukuli pelan tangan Kak Andrew yang mencapit bibirnya agar segera melepaskan jepitan bibirnya.

"Sakit, tau!" Edgar berkata sambil mengusapi bibirnya yang semakin memerah dan agak membengkak. Membuat beberapa orang melihatnya curiga, bagaimana tidak curiga jika melihat dua orang sedang berjongkok bersama dan salah satunya memiliki bibir yang tiba-tiba membengkak dan merekah. Bibir Edgar mendadak ambigu.

"Habisnya ...," Andrew menggantungkan kata-katanya, memikirkan lanjutan kalimat apa yang enaknya keluar dari kata 'habisnya' barusan, "muka udah jelek, masih aja dijelek-jelekin. Gosah sok imut. Gak pantes!"

Jleb. Pedih hati dd, pedih bang.

"Maaf deh kalo muka aku jelek."

"Yaelah, baperan lo, ah!" caci Andrew sambil mencolek-colek bahu sempit milik Edgar, "Cari bukunya lagi, gih!"

"Males ah, udah capek-capek nyari buku, baca sinopsis satu-satu, eh malah dibalikin lagi ke rak."

"Itu nggak penting, Gar. Buku cara jitu itu walaupun sinopsisnya beda, tapi intinya tetep sama. Sama aja kayak kamus, isinya beda tapi intinya sama."

"Oh ... gitu, ya? Oke, makasih."

"Jadi, lo mau buku yang mana, Gar?"

"Eum ...." Edgar mengetuk-ngetukan telunjuknya di dagu, "Cari komik dulu aja, deh!"

"Setan!" Andrew mengumpati Edgar, "Di mana-mana kalo mau nyari sesuatu itu yang penting-penting dulu. Kalo udah dapet, baru nyari yang lain."

"Hehe ...."

"Gak usah cengengesan lo, bangke!"






—bersambung

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang