9

9.9K 1.2K 63

"Ra, hari ini si Edgar nggak mampir?"

"Kayaknya enggak deh, Kak."

"Lah? Tumben? Biasanya tiap malem minggu kayak gini dia udah nongkrong depan pintu kita."

"Ih, apaan sih, Kak? Kan Edgar bukan pacar aku! Ngapain juga dia kudu tiap malming datang ke rumah kita? Wajib gitu?" cerocos Ara sebal dengan tingkah Andrew yang mendadak nanyain Edgar.

Lah? Kamu juga ngapain jadi sewot, Ra?

"Dih, kok kamu sewot? Kakak kan cuma nanya. Emang kalo tiap malming datang ke rumah itu udah pasti pacar? Siapa juga yang bilang Edgar pacar kamu?" Suara Andrew mendadak nyolot.

"Ya abisnya Kakak nanya terus, seolah-olah aku itu pacar Edgar yang tau Edgar ngapain, kenapa nggak dateng, kenapa, di mana dan ke mana Edgar! Aku tuh nggak tau!"

"Kakak kan baru nanya sekarang! Itu pun nggak nanya sedetail itu, Kakak cuma nanya kenapa Edgar nggak main ke sini? Kamunya aja yang sewot!"

"Ya, mana aku tau kenapa Edgar nggak dateng! Emang aku mamanya apa yang bisa tau dia ngapain aja!"

"Mulut kamu, tuh! Cocok jadi mamanya!"

"Bodo amat!"

Ini kenapa jadi ribut cuma gara-gara Edgar, sih?

Di lain sisi  ....

"Huachim! Hachim! Hachim!" Edgar mendadak bersin-bersin dari tadi.

"Kamu flu, Gar? Minum obat, gih!"

"Enggak, Ma. Tapi, nggak tau, tuh! Perasaan dari tadi bersin-bersin mulu. Padahal nggak kedinginan, nggak ada debu juga."

"Wah, kamu lagi diomongin, tuh!"

"Hah? Sama siapa?"

"Ya, mana Mama tau!"

"Kok nggak tau?"

"Ya, karena emang nggak tau, Edgar!"

"Tapi, Mama tau dari mana kalo Edgar lagi diomongin?"

"Kata nenek sih, gitu!"

"Nenek siapa?"

"Ya, nenek kamulah! Masa nenek tetangga!"

"Oh gitu ...."

"Kok Mama kesel, ya?"

"Kesel kenapa, Ma?"

"...."

"... Ma?"

"...."

"ADUH! KOK EDGAR DILEMPAR SEPATU SIH, MA!?"

-

"Dek, kamu mau dianterin sekolah, nggak?"

Ara bungkam. Memikirkan sesuatu dalam hatinya, 'Ini Kak Andrew kenapa? Kemaren perasaan judesnya nggak kira-kira. Kok sekarang mendadak sok baik gini? Make acara mau nganterin segala lagi,' batin Ara.

"Tumben mau nganterin aku ke sekolah? Biasanya aja males banget nganterin aku ke sekolah."

"Ya, nggak pa-palah! Kan Kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Hehe ...."

'Ketawanya mencurigakan.'

"Ayo, Dek!" Ara tersentak dan langsung berlari dengan kikuk menaiki mobil milik Andrew. Saking kebanyakan mikirin kenapa Andrew mendadak mau nganterin dia, ngebuat Ara nggak sadar kalau ternyata Andrew sudah sangat bersemangat menaiki mobilnya sambil bersiul pelan.

"... Kak?"

"Hum?"

"Kok Kakak mendadak mau nganterin aku sekolah, sih?"

Andrew mengerutkan dahinya sebal, "Kamu kok nanya terus, sih?"

Ara mendadak ciut dan mencicit pelan, "Ya ... enggak ... maksud aku kayak ... tumben aja gitu, lho!"

"Tumben gimana? Kan wajar kalo seorang kakak nganterin adiknya ke sekolah."

"Tapi, semenjak aku SMP kan Kakak nggak pernah mau lagi nganterin aku sekolah."

"Ya, sekarang kan kamu udah SMA, Ra. Belum tentu SMA kamu orang-orangnya pada genit-genit kayak temen-temen sama guru-guru kamu pas SMP."

"Tapi, kalo mereka genitin Kakak kayak pas SMP gimana?"

"Tenang aja, Ra. Hehe."

'Kok Kak Andrew ditakut-takutin gitu tetep seneng, sih? Wah makin nggak bener!'

"Kakak ngaku aja, deh!"

"Ngaku apa sih, Ra?"

"Kakak mau ngapain di sekolah aku? Kakak ada gebetan yang kenal di sosmed, ya? Terus kebetulan dia satu sekolah sama aku? Ya, 'kan? Ngaku!"

"Kakak emang ada gebetan di sekolah kamu."

"Hah? Siapa, Kak? Siapa?"

"Kepo kamu."

"Idih, ngaku aja deh, Kak!"

"Udah ah, kepo banget sih kamu!"

-

"Edgar!" Ara dan Andrew sama-sama memanggil nama Edgar yang sedang memarkirkan motor matic kesayangannya di parkiran dekat gerbang.

Ara menoleh gusar saat melihat Andrew yang mendadak happy banget ngeliat muka Edgar. Padahal pas pertama kali ngeliat Edgar udah kayak singa yang mau menerkam mangsanya.

Edgar tiba-tiba menghampiri Ara dan Andrew sambil tersenyum cerah. Eh, salah. Tersenyum cerahnya cuma ke Ara, pas liat Andrew, tampang Edgar langsung masam.

Andrew mah tetep senyum-senyum aja walaupun dimesemin sama Edgar. Dan Andrew langsung menyapa Edgar dengan riang, "Eh, Edgar!"

Edgar tersenyum canggung, "Eh, Kak Andrew ...."

Hening.

Edgar pasang muka kecut, sedangkan Andrew pasang muka riang yang rada-rada aneh sama mukanya yang garang gitu.

Dan Ara sendiri mulai berpikir keras dalam hati, 'Ini kenapa keadaannya jadi kebalik gini, sih!?'

Edgar yang tadinya penakut dan cengengesan jadi berani buat pasang muka kecut ke arah Andrew, sedangkan Andrew yang galak dan judes mendadak murah senyum dan kebal aja gitu ditatap gitu sama Edgar.

'INI KENAPA SEMUANYA JADI OOC GINI SIH!?'

Tuhan, tolong kembalikan mereka! Ara nggak kuat, Ara lambaikan tangan ke kamera!






—Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang