12

9.5K 1.1K 160

"Kak? Nggak mau nganterin aku ke sekolah lagi, nih?"

"Nggak."

"Ih, kemaren aja baik! Kok sekarang balik jahat lagi?"

"Nggak pa-pa."

"Kak ...?"

"Kakak!" Ara memanggil Andrew secara terus-terusan. Memaksa Andrew untuk menanggapi panggilannya.

"Apa, sih? Kok manggil-manggil terus!"

"Kakak kenapa, sih? Aneh, deh! Kemaren baik! Semalem lesu! Terus sekarang judes! Mau nya apa!?" cecar Ara, sewot.

"Ya terserah Kakak, dong!" Andrew membalas dengan tidak kalah sewotnya, "Bawel banget sih jadi cewek!"

"Kok Kakak ngomongnya gitu? Aku kan nanya gitu karena peduli sama Kakak!"

"Anak kecil nggak usah ikut-ikutan, deh!"

"Bodo amat! Dasar kakak jelek!"

"Bodo amat! Dasar adik bawel!"

-

Edgar mengembuskan napasnya pelan, wajahnya tak bersemangat memikirkan kejadian kemarin.

'Itu aku ditembak beneran apa, ya?' batin Edgar lagi-lagi mengembuskan nafasnya pasrah.

"Gar? Kamu kenapa, sih? Perasaan dari semalem keliatannya uring-uringan terus. Galau ya motornya ilang?"

"Nggak ilang, Ma."

"Terus? Kok kemaren pulang jalan kaki? Dipinjem temen kamu terus nggak balik?"

"Bukan temen yang pinjem, tapi Edgar yang ninggalin dia sama motor Edgar."

"Lho? Kok ditinggal?"

"Abisnya dia mendadak nembak Edgar, sih!"

"Wow!" Mama Edgar berdecak kagum, "Cewek-cewek sekarang bener-bener berani, ya! Mama aja nungguin papa kamu nembak setahun lebih. Lah, dia malah nembak duluan. Siapa namanya?"

"Andrew ...."

"Hah?"

"Eh! Maksud Edgar, namanya tuh Andrewi. Haha." Edgar tertawa kikuk menjawab ucapan mamanya, "Iya, Andrewi Gista, hehe."

"Kebiasaan kamu kalo ngomong nggak tuntas! Mama hampir aja ngira kamu ditembak cowok," omel mama Edgar, sedangkan Edgar sendiri sedang nyengir nggak berdosa di tempatnya duduk.

-

"EDGAR!" Edgar tersentak saat mendengar suara itu memanggil namanya. Ia hafal, sangat hafal dengan suara itu. Suara yang beberapa hari ini menginterogasinya, memojokkannya di segala situasi. Ya, siapa lagi kalau bukan Ara?

Edgar pura-pura nggak dengar dan langsung berjalan cepat tanpa menoleh ke Ara yang langkahnya kian mendekat karena lari menghampiri Edgar.

"Edgar, hey!"

Edgar semakin mempercepat langkahnya, bersyukurlah akan kakinya yang lebih panjang beberapa senti dibandingkan Ara sehingga dia bisa lebih gesit daripada Ara. Tanpa pikir panjang, Edgar langsung berjalan ke dalam toilet putra milik anak jurusan IPS dan segera memasuki salah satu biliknya kemudian terduduk pelan.

'Ini kenapa jadi ribet gini, sih? Kak Andrew emang bener-bener bahaya buat hidup aku,' batin Edgar di tengah acara melamunnya.

Tring!

Ponsel pintar Edgar berbunyi pelan, menunjukkan sebuah pesan LINE dari kontak yang belum pernah ia lihat, yang bahkan tidak menggunakan foto profil.

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang