30

7K 728 183

PENUHI KOLOM KOMENTAR DONG, EHE. (P.S: NYENENGIN ORANG = NAMBAH PAHALA. MWAH.)

-

"Kak, kok mendadak bisa baikan sama papa, sih?" tanya Edgar ke Andrew di dalam kamarnya sambil mengernyitkan dahinya curiga. Ya iyalah curiga, karakter keras dan garang macam Andrew sama papanya itu mustahil banget buat akur tanpa adanya pertumpahan darah.

Edgar yang mikir papanya bakal nyuruh Andrew buat jalan sambil kayang, atau minimal disuruh push up yang bertumpu sama satu jari justru malah main catur berdua. Enggak ada yang mau kalah, dua-duanya nge-gas.

Ini! Ini dia sumber keanehannya!

Jujur aja, siapa yang enggak bingung lihat keakraban keduanya. Setelah kemarin bagai acara perploncoan mahasiswa baru, lah kok sekarang malah kayak mantu sama mertua budiman gini.

Edgar kan masih mau lihat Andrew-nya disiksa:(

Enggak, salah, maksudnya dia enggak mau lihat Andrew disiksa. Walaupun dulu Andrew biadabnya minta dibegal, tapi Edgar udah sayang gini mah jadi enggak tega, atuh:(

Kan, kan! Sekarang Edgar jadi nge-bucin gini!

Edgar tuh dari dulu emang udah ada bibit-bibit bucin homo. Tapi, karena yang dia sukai cewek mulu, makanya bibit bucin-nya nggak numbuh-numbuh. Maklumin.

"Aneh banget deh kamu," kata Andrew santai. "Masa pacar sama ayahnya akur malah nggak seneng."

Uwuwuwuw, pacar ceunah.

"Bukan gitu, tapi anehlah! Masa baru kemaren kakak disuruh sikap lilin, sekarang malah diajak main?"

"Ya, mana gue tau, elah." Andrew berdecak gemas. "Orang tadi pas ngetok pintu, papa kamu yang bukain. Terus tetiba ngajak ke belakang rumah buat main catur ... dan asyik-asyik aja tuh, enggak galak lagi."

"Hm ...." Edgar menggumam pelan, mencoba berpikir apa motif papanya jadi baikin Andrew gini. "Tau, ah! Pusing aku! Jangan suruh aku mikir!"

Lah, padahal kan enggak ada yang nyuruh Edgar mikir. Gemas ih t(^-^t).

"Enggak usah mikir, nanti migrain." Andrew berdiri dari atas kasur Edgar, "Udah, ah. Aku mau balik ke papa kamu lagi, katanya mau ngajak main ludo. Mayan kan pendekatan sama calon mertua? Ehe." Andrew cengengesan dan berjalan keluar kamar Edgar. Edgar pun mengekor, kepo sama kelanjutan ceritanya papanya dan Andrew. Sekalian mau nanya apa penyebab papanya kok mendadak jinak gitu, padahal kan papanya galak banget kayak anjing harder—enggak, enggak, canda. Papa Edgar kalau marah enggak bakal mengguk-guk kayak anjing kok. Papanya enggak seekstrim itulah, ya.

-

"Papa, ayo ngaku!" ujar Edgar yang tiba-tiba membanting dirinya untuk duduk di samping papanya. "Aku enggak marah kok, yang penting Papa jujur."

"Ini apaan, bah? Dateng-dateng malah ngerentetin Papanya pertanyaan. Aneh betul," respons papa Edgar sambil nonton sinetron Indonesia yang menceritakan lika-likunya Mbak Mira dan anak-anaknya. G.

Heran Edgar, yang mamanya suka banget sama Korea dan India, papanya suka sama sinetron dan FTV Indonesia. Kok bisa klop gitu lho?

"Papa ngaku aja deh, kenapa Papa mendadak ngebaikin Kak Andrew? Aku kan belum puas lihat dia disik—enggak, maksud aku ... kan dia belum ngelakuin tes-tes kemiliterannya papa. Kemaren papa jahatin dia, dan bilang dia belum lulus jadi pacar aku. Eh, sepanjang hari ini malah baikin Kak Andrew. Papa ada maunya 'kan? Iya 'kan? Ngaku!" cecar Edgar. Kurang ajar emang si Edgar tuh, jangan ditiru, ya. Bisa dilaknat kalian nanti sama orang tua kalian kalo kayak Edgar gini.

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang