15

8.9K 1K 156

Edgar berjalan lunglai di tengah lorong sekolahnya, wajahnya kusut. Lebih kusut daripada baju yang dikenakannya.

"Edgar!" Teriakan Ara yang cempreng seketika mampir tepat di telinga kanannya. Memberikan sedikit rasa sakit di telinga, menembusnya dengan telak. Edgar nyaris merasakan gejala budek ringan.

"Kenapa, Ra?" Edgar menjawab dengan ogah-ogahan. Tumben ya Edgar males-malesan ketemu Ara, biasanya kan Edgar agresif. Eh?

"Kamu sibuk nggak nanti malem? Jalan, yuk!"

"Jalan ke mana?" respons Edgar kalem.

"Ke mana enaknya?" Edgar harusnya seneng 'kan kalau diajak jalan sama Ara kayak gini? Tapi, sekarang Edgar biasa aja sama Ara, nggak ada deg-degan atau tangan keringetan lagi, tapi Edgar yakin kok kalau dia masih suka Ara. Masih lho ya, rasanya buat Ara belum ilang. Emangnya Edgar belok?

YA IYALAH!

Eh salah, typo. Bukan ya iyalah, tapi ya enggaklah. Jangan dipermasalahin, oke? Namanya juga manusia. Udah manusia, belok lagi:(

Enggak!! Salah lagi. Edgar lurus, kok. Lurusss ... straight like an arrow katanya.

Yah, Edgar, kalo tsundere gitu kapan jadinya? Nggak jadi-jadi entar.

Tapi, gimana? Edgar masih pusing mikirin orientasi seksualnya. Dia bertanya-tanya, kenapa tadinya suka Ara, sekarang malah jadi suka kakaknya Ara? Pusing jadi Edgar tuh. Nggak mau belok, tapi udah terlanjur belok. Mau balik lurus, tapi beloknya berasa paten gitu. Susah dilurusin.

Padahal niat Edgar sama Ara dulu cuma sebatas PDKT, pepet terus, pepet lagi, nembak Ara, jadian, langgeng terus sampai nikah. Tapi kenapa sekarang malah PDKT, pepet terus, mantan Ara balik, Edgar dilupakan, dan Edgar belok sama Andrew gini?

Ini tidak sesuai dengan apa yang ada di mindset Edgar waktu dulu. Sangat melenceng dari misi awal.

"Kok bengong, sih, Gar?"

"Eh, enggak! Terserah kamu aja mau jalan ke mana, Ra."

"Ke bioskop, yuk! Aku mau nonton Jumanji. Katanya bagus," ajak Ara antusias, sedangkan Edgar hanya menggangguk pasrah. Ya, siapa tau dengan acara jalan malam ini bisa bikin Edgar kembali lurus ke Ara, ya 'kan?

-

Edgar menunggu hampir 10 menit di dalam mobilnya. Ya, Ara sendiri yang tadi menelepon Edgar agar dia cukup menunggu, tidak perlu turun katanya.

Edgar mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil, mengikuti irama lagu perfect-nya Ed Sheeran yang menemani acara tunggu-menunggu Edgar di dalam sini.

Tiba-tiba ketukan Edgar berhenti saat melihat gerbang rumah Ara terbuka. Bukan, bukan. Itu bukan Ara. Itu Andrew yang sedang berjalan keluar membawa sekantong besar yang berisikan sampah.

Mata Edgar mengikuti pergerakan Andrew yang berjalan santai menghampiri tong sampah yang tepat berada di depan mobil Edgar terparkir. Seketika telinganya mendengar backsound lagu perfect yang dari tadi terputar di radionya.

Darling you look perfect tonight ....

Pas. Lagu ini pas untuk Andrew yang entah kenapa terlihat sangat keren bagi Edgar malam ini. Minus bagian Andrew masuk ke rumah sambil menggaruk pantatnya. Yang itu nggak terhitung perfect-nya ya.

Sudah 15 menit Edgar menunggu Ara. Tapi, Ara nggak memunculkan batang hidungnya sama sekali. Edgar mulai panas pantat karena kelamaan duduk.

Nggak lama setelah Edgar membetulkan posisi duduknya, Ara muncul, keluar dari gerbang sambil mengerucutkan bibirnya diikuti dengan Andrew di belakangnya.

"Udah dong, Kak! Aku mau ke bioskop doang kok, nggak ke mana-mana!" Sayup-sayup terdengar suara Ara yang merajuk depan Andrew. Sedangkan Andrew hanya menatap Ara datar dan ngejawab kalem. Saking kalemnya, suara Andrew sampe nggak kedengeran dari dalam mobil.

Setelah perdebatan kecil itu terjadi, nggak lama Ara datang menghampiri mobil Edgar, masih diekori oleh Andrew. Ara mengetuk kaca jendela mobil Edgar pelan, minta dibukakan jendelanya.

"Kenapa, Ra?" tanya Edgar dengan wajah polos sambil membuka jendela mobil yang turun perlahan.

Tiba-tiba Andrew menggeser tubuh Ara dengan cepat, menyerobot posisi Ara tadi. "Edgar!"

"I-iya, Kak?"

"Lo yang ngajak jalan Ara?" Diberikan pertanyaan tiba-tiba seperti itu membuat Edgar kelabakan. Edgar malah kelihatan seperti pacar yang kepergok selingkuh, mau menjelaskan tapi takut salah bicara. "Eh? Itu ... eng—"

"Iya!" potong Ara cepat sebelum Edgar sempat menjawab pertanyaan dari Andrew.

"Kok lo jalan sama Ara, sih?!"

"E-eh ...."

"Ah-eh-ah-eh!" Andrew kembali ke dalam mode judesnya. Padahal dari kemarin mood-nya baik sekali, tiba-tiba sekarang mood-nya langsung anjlok drastis melihat Ara dan Edgar akan kencan.

Cie, kencan.

"Itu—"

"Ya ... nggak pa-pa dong kalo misalnya aku jalan sama Edgar!" sela Ara lagi dengan suara cemprengnya, "Kan wajar kalo cewek sama cowok jalan bareng! Daripada cowok sama cowok, jijikin tau, nggak!"

Seketika Andrew dan Edgar bungkam mendapati sentakan seperti itu dari Ara.

"Ayo, Gar. Kita jalan," ujar Ara kemudian sambil berjalan memutari mobil dan mulai menaiki mobil Edgar.

Akhirnya, mau tak mau Edgar menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya perlahan dengan hati yang gusar. Meninggalkan Andrew yang bungkam dengan tatapan menyakitkan.

-

"... Gar! Edgar!" Edgar tersentak saat Ara memanggilnya sambil mengguncangkan bahu sebelah kanan Edgar dari seberang tempatnya duduk.

"I-iya?"

"Kok kamu ngelamun sih, Gar?"

"Eh? Enggak kok, Ra. Hehe," jawab Edgar sambil ketawa garing karena kepergok ngelamun. Padahal dia lagi enak-enak ngelamunin Andrew.

Ya, akhirnya Edgar ngaku kalau yang di pikirannya emang Andrew doang isinya, ya 'kan?

"Kamu mikirin Kak Andrew ya, Gar!? Hayo! Ngaku!"

"Iya ... eh, enggak! Maksud aku enggak. Iya, enggak kok. Haha!"

"Ngaku aja kali, Gar," kata Ara sambil melihat pemandangan dari jendela transparan tempat mereka makan tanpa menoleh ke Edgar.

"Kamu ... masih suka aku kan, Gar?"

Edgar kembali terdiam.

Jadi, sebenarnya siapa yang ia suka? Ara atau Andrew?

Edgar masih menyukai Ara atau sudah berpindah rasa terhadap Andrew?

Seketika Edgar bimbang.






Bersambung

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang