7

10.2K 1.2K 43

Edgar terbangun karena gerah yang melandanya. Bajunya telah basah kuyup oleh keringat.

Mata Edgar memicing, menyesuaikan retinanya dengan cahaya yang menusuk melalui tirai yang terbuka lebar.

Ngomong-ngomong soal tirai, sejak kapan warna tirai kamarnya jadi warna kuning keemasan gitu?

Ah, pasti kerjaan mamanya!

"Groookk ... Groookkk  ...."

Edgar menolehkan kepalanya guna melihat ke sumber suara aneh di kamarnya. Ternyata ia melihat Andrew yang sedang tertidur tanpa mengenakan atasan dan berpose tidur dengan sangat tidak elitenya, belum lagi dengan suara dengkuran kasarnya yang sangat mengganggu indranya. Oh, Kak Andrew ..., batinnya di dalam hati.

Mungkin nyawanya belum terkumpul merata di seluruh tubuhnya, maka dari itu ia kembali menyandarkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya kembali.

"Groookk ...."

Lima detik.

"Groookkk ...."

15 detik.

"Groookkk ...."

Udah semenit kok suaranya gak ilang-ilang!? Edgar segera tersadar dari tidur-tidur ayamnya. Dan ia masih mendengar dengkuran mistis Andrew. Ia menoleh, dan ternyata masih ada Andrew di sisinya.

Ia memikirkan kembali apakah ini kenyataan atau hanya sekadar igauannya di pagi hari. Ini masih ngigo 'kan, ya? Pikir Edgar.

"Groookk ...."

SIAL! INI BUKAN MIMPI!!!

Edgar terus menjerit dalam hatinya dan segera menendang tubuh Andrew dengan kasar sehingga Andrew berguling dengan keras kesamping tempat tidur dan menimbulkan bunyi gedebukan yang sangat menyakitkan.

"Anjir!" Andrew mengumpat seraya memegang kepala serta pantatnya yang terbentur lantai yang dingin di pagi hari, "Siapa yang berani ngegangguin tidur gue, anjir!"

"L-lho? Kak Andrew ngapain di kamar aku?" tanya Edgar belum sadar di mana ia berada.

Andrew langsung berdiri dari tempat jatuhnya tadi dengan masih memegang kepala serta bokongnya. "Siapa yang bilang ini kamar lo, Culun!?"

"Ini kan emang kamar—" Edgar berkata sambil mengedarkan pandangannya. Dan di saat ia merasa tidak mengenali kamar ini sama sekali, ia langsung menggantungkan kata-katanya.

"Kamar siapa?" tanya Andrew lagi dengan senyum miringnya.

"Eh? Lho? Aku di kamar siapa ini?"

"Kamar gue, Setan!"

"Lho? Kok aku di kamar Kak Andrew?"

"Orang culun dengan sangat nyusahinnya mendadak sakit panas di mobil gue. Demam ngeliat gebetannya jadian, kali!"

"Siapa?"

"Elo, Edgar! Elo!" jawab Andrew emosi. Ya, iyalah! Pagi-pagi dia ditendang oleh seseorang yang ngebuat dia begadang semaleman buat bolak-balik ngeganti air kompresan, abis gitu disuruh ngejawab pertanyaan super nggak bermutu dari Edgar itu bener-bener menguras emosi sekali.

"Lah, emangnya aku sakit?"

"Tau, ah! Sebel gue ngomong sama lo, Culun!" Andrew berjalan tak acuh sambil memegang pinggangnya. Meninggalkan Edgar yang kebingungan ngeliat badan atas Andrew yang kotak-kotak nggak pake baju atasan. Topless gitu lho.

Lah, tidur berdua nggak pake baju. Kok ambigu, ya? Untung aku masih pake baju

LHO!! BAJU!! BAJU AKU KOK JADI MELAR GINI!? LHO, LHO!? BAJU SIAPA INI!?

Edgar Menatap baju yang dikenakannya dengan horror. Siapa yg ngegantiin baju sama celana Edgar? Edgar dilanda kebingungan dan kepanikan.

"Kak Andrew ...?"

KAK ANDREW!?

"!?"

"KAK ANDREW!!"

-

"Kakak beneran nggak macem-macem, 'kan?"

Sudah lebih dari dua puluh kali Edgar memberikan pertanyaan seperti itu kepada Andrew hingga Andrew pun berulang kali memutar kedua bola matanya bosan.

Bitch, please. Siapa sih yang nggak capek kalo ditanyain satu hal yang berulang-ulang dengan maksud mencurigai kamu?

"Nggak, Edgar. Enggak!"

"Yakin?"

"Iyaa ...," jawab Andrew pasrah. "Kalo lo nggak percaya, tanya aja sama nyokap gue."

"Lho? Berarti Kakak ngapa-ngapain aku bareng mama Kakak?"

INI BISA NGGAK SIH EDGAR-NYA KITA BANTAI RAME-RAME AJA?

"Gar ...."

"Iya?"

"Lo—"

"Lho, Edgar? Kok pagi-pagi udah ada di sini? Ngapain?" tanya Ara yang tiba-tiba muncul menginterupsi obrolan keduanya.

"Eh?"

"Kemarin kamu ke mana, hm? Kok nggak balik-balik dari toilet? Aku khawatir tau. Mana Kak Andrew malah balik, lagi!" Ah, Edgar dijawab malah senyam-senyum. Ya iyalah, orang dia ngerasa dikhawatirin sama Ara! Adem banget gitu ya, pagi-pagi udah dicerocosin sama gebetan yang manis banget.

"Jangan senyum mesum gitu, Edgar!"

Lah?






—Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang