2

12.7K 1.5K 185

"Ra, aku dapet voucher makan gratis buat dua orang di kafe Bless, lho! Makan bareng, yuk!"

"Wah, itu kan kafenya terkenal banget, Gar! Ayo, ayo! Aku ikut."

"Oke, ntar malem aku jemput ya, Ra."

"Oke."

Semoga rencana jalan kali ini berhasil. Semoga ya, Gar!

-

Tok tok!

Edgar berharap-harap cemas agar bisa jalan bareng Ara tanpa kakaknya yang galak itu. Cukup ke bioskop itu jadi yang pertama dan terakhirnya mereka jalan bertiga, jangan sampai terulang lagi.

"APA!?" sentak Andrew waktu ngeliat Edgar yang ada di depan pintu. Bukannya diberi sambutan yang manis —contohnya senyuman Ara kek— malah dapet bentakan maut dari Andrew.

"Eh? Ngh ... Ara-nya ada, Kak?"

"Gak ada!" ujar Andrew ketus, Edgar sampai gemetaran di tempat ngedenger nada bicara Andrew yang judes.

"T-tapi ...."

"Gue bilang gak ada! Ngeyel banget, sih!"

"Eh? Y-yaudah, Kak. A-aku pulang dulu, ya," pamit Edgar sambil berjalan menuruni tangga menuju garasi rumah Ara.

"Tunggu!" panggil Andrew saat Edgar telah beranjak beberapa langkah darinya, dan dengan kaki gemetaran, Edgar menoleh dengan gerakan slow motion-nya. "Iya, Kak?"

"Lo mau ke mana?"

"Pulang, Kak."

"Temenin gue makan di kafe Bless! Mumpung gue ada voucher, nih!" Suatu mukjizat! Andrew yang galak malah nawarin ngajak Edgar makan bareng! Suatu keajaiban dari Tuhan!

"T-tapi—"

"MAU, NGGAK?!"

"IYA, KAK!"

-

Gagal lagi.

Sekarang, bukannya Edgar makan malem romantis berduaan sama Ara, ia malah makan berduaan dengan suasana mencekam dengan kakaknya Ara. Andrew.

"Lo pesen apa?" tanya Andrew lembut. Suatu keajaiban lagi! Andrew sudah ngomong dengan nada yang manusiawi, dia udah nggak ngebentak Edgar lagi. Edgar langsung pengen sujud syukur ngeliat Andrew yang sekarang.

"Apa aja deh, Kak."

"Nggak usah kayak cewek deh yang semuanya minta dipesenin! Lo mau makan apaan? Ntar kalo nggak cocok malah nggak dimakan!" Edgar langsung pengen mewek begitu ngeliat Kak Andrew kembali ke asal. Ternyata jinaknya cuma sebentar.

"Eh—anu—"

"Di sini nggak ngejual anu lo!"

Ambigu lagi. Sangat ambigu.

"Eh?"

"Kalo gitu samain aja, Mas," pesan Kak Andrew sama pelayan cowok yang nyatet pesanan mereka. Setelah pelayan nyebutin ulang pesenan mereka, pelayan itu pun izin buat ninggalin mereka berdua.

"Udah berapa lama lo kenal Ara?"

"Dari SMP, Kak," bales Edgar kalem.

"Lo suka sama Ara?"

"Eh?"

"Nggak usah ah-eh-ah-eh, gue nanya, lo suka sama Ara?"

"I-iya, Kak."

"Lo tau? Ara punya mantan yang masih dia sayang banget. Mereka putus bukan karena nggak cinta, apalagi selingkuh. Mereka putus karena mereka nggak kuat LDR. Mantannya ganteng," ujar Kak Andrew sekalian memanas-manasi Edgar. "Lo nggak bakalan ada harapan."

"KOK GITU, SIH?!" Edgar berteriak protes sampai seluruh mata pengunjung melihat ke arahnya. Andrew melotot ganas waktu sadar kalo suara Edgar mengundang perhatian.

"Jangan kenceng-kenceng, Bego!"

"Maaf," balas Edgar sambil menunduk. Bibirnya mengerucut lucu dengan kacamata bulatnya yang melorot hingga hampir ke ujung hidung bangirnya. Ngeliat hal tersebut, Andrew mulai sadar akan betapa imutnya wajah Edgar kali ini. "Tapi ... um ... Ara belom bisa move on sampe sekarang, Kak?"

"Nggak tau deh," jawab Andrew sambil mengangkat kedua bahunya.

Edgar hendak melanjutkan obrolan seputar Ara dan mantannya ini, "Tapi, Kak—"

"Maaf, ini pesanannya."

Namun, percakapan mereka harus terpotong saat pelayan wanita membawakan pesanan mereka dan mereka pun memulai menyantap hidangan mereka di dalam keheningan.

-

"Uhuk!"

Edgar batuk-batuk. Parah.

"Lo nggak pa-pa?" tanya Andrew saat melirik cemas ke arah Edgar yang batuk-batuk sepulang dari kafe tadi.

"N-nggak tau nih—uhuk! Aku ngerasa tenggorokan aku—uhuk!—Panas."

"Pinggirin mobilnya," pinta Andrew. Tanpa menunggu komando lagi, Edgar segera menepikan mobilnya. Andrew langsung turun dan secara tiba-tiba ngebuka pintu mobil yang diduduki Edgar.

"Minggir."

"Eh?" Edgar heran dan langsung memekik layaknya perempuan saat Andrew malah menggendong tubuhnya ala bridal dan memindahkannya ke tempat duduk penumpang di samping tempat duduk kemudi. Tanpa menunggu waktu lama, Andrew langsung duduk dan mulai melajukan mobil Edgar.

"Uhuk! P-panashh ...," desis Edgar saat merasakan tenggorokannya terbakar.

"Apanya yang panas?"

"Tenggorokan—"

"Muka lo juga merah. Lo alergi?"

"N-nggak ta—uhuk!"

"Lo alergi ayam? Telur?"

Edgar menggeleng. Andrew lega seketika.

"Seafood." Andrew langsung mengumpat saat ia tahu sumber batuk-batuknya Edgar sedari tadi. Ia salah memesankan makanan.

"Kenapa lo nggak bilang!?"

"Ma—uhuk!—af ... ah, sesak ...."

Kak Andrew langsung menepikan mobil Edgar. "Lo ada obat?"

"Nggak ada..."

Karena pikiran Andrew sudah buntu dan panik sudah menderanya saat melihat Edgar megap-megap kehabisan napas, Andrew pun langsung memajukan wajahnya dan mencium bibir Edgar. Berusaha menyalurkan napasnya. Membagi embusan napas dengan Edgar.

Edgar langsung melotot saat merasakan udara dingin dihembuskan ke dalam bibirnya, memasuki tenggorokannya yang panas dan langsung berubah menjadi sejuk. Seolah dia baru saja memakan sebuah permen mint.

Oh, tidak! Ciuman pertamanya!






Bersambung—

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang