1

22.1K 1.7K 245

"Ara, malem ini jalan, yuk!"

"Jadi ceritanya kamu ngajakin aku malmingan, Gar?"

"Eh?" Edgar mendadak gugup dikasih pertanyaan itu, yaa ... gimana ya ... emang bener sih, tujuan dia ngomong sama Ara kan karena pengen ngajak malam mingguan bareng. "Hehe, mau nggak?"

"Boleh! Ke mana?"

"Nggak tau. Hehe." Edgar mendadak cengengesan di depan Ara.

"Lah, kamu ngajak kok nggak tau mau ke mana sih, Gar? Aneh!"

"Hehe, gimana nanti malem aja kali ya, Ra."

"Oke. Jam tujuh, ya?"

"Siap, Bos!"

-

Di sinilah Edgar sekarang. Tepat di depan pintu rumah Ara yang terlihat kokoh.

Mau ngetok, takut orang rumah keberisikan. Mau teriak pake kata; 'Ara! Main, yuk!', gak mungkin bangetlah! Orang gila mana yang ngajak malmingan romantis dengan teriakan kayak gitu. Nelfon Ara bisa kali, ya?

Edgar mengambil ponsel pintar di saku celananya. Belom juga nyentuh gambar telepon ijo di layarnya, dia udah dikagetin sama pintu yang mendadak kebuka.

Edgar mendadak autis.

"Nyari siapa?" tanya seorang pria ganteng, tinggi pula. Edgar langsung berasa 'kerdil' seketika.

Edgar masih mangap dengan tampang culunnya. Sebenernya Edgar ganteng, kok! Cuma ya gitu ... ketutupan sama kacamata ber-frame besar bulatnya yang cukup memenuhi kriteria untuk disebut spion.

"Gue nanya, lo nyari siapa?" ulang si Pria tinggi lagi. Kali ini mukanya sudah kusut seketika, karena sejujurnya si tinggi ini paling malas kalau disuruh mengulang apa pun.

"A-Ara, Kak," jawab Edgar. Entah kenapa, ngeliat tampang kusut si mas-mas tinggi yang keliatan galak ini ngebuat dia gemeteran. Tatapannya mengintimidasi, cuk!

"Hah? Ara? Mau ngapain lo nyari adek gue?"

"Eh, anu ... anu.."

"Gue nggak nanya 'anu' lo!"

Ambigu. Sangat ambigu.

"Eh, anu, eh! Aku mau pergi sama Ara, Kak."

"Ke mana?" Alis si tinggi pun terangkat, menambah kesan garang di wajah tampannya.

"Eng—nggak tau, Kak."

"Siapa yang ngajak jalan? Elo atau Ara?"

"A-Aku—"

"Gimana sih! Ngajak jalan, tapi nggak tau mau ke mana! Lo mau ngajak adek gue ke tempat yang nggak bener, 'kan? Ngaku lo!"

"ENGGAK, KAK!" Edgar mendadak ngejerit panik dituduh gitu.

Si tinggi tertawa keras dalam hati.

"Siapa nama—"

"Ada siapa kak? Edgar, ya?" teriak Ara dari dalam rumah agar kakaknya mendengar pertanyaannya.

"Bukan."

"Iya."

Jawaban mereka serentak, tapi tak kompak. Si kakak menyahut bukan, sedangkan Edgar menyahut iya.

"Siapa suruh lo nyaut, Culun!?" maki si kakak tinggi, kesal dengan Edgar.

"M-Maaf, Kak." Edgar menunduk takut.

"Eh, Edgar!" Ara menyapa Edgar sambil tersenyum riang, kemudian menoleh ke arah kakaknya yang jauh lebih tinggi darinya, "Kak! Kenalin, ini Edgar. Gar, ini Kak Andrew."

Oh, Her Brother!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang